Dinkes Batam terus gencarkan skrining dan pengobatan TB
Dinkes Batam Terus Perkuat Upaya Deteksi Dini dan Pengobatan TB
Dinkes Batam terus gencarkan skrining dan pengobatan – Kota Batam, Kepulauan Riau, kembali memperkuat kampanye pengobatan serta skrining tuberkulosis (TB) sebagai langkah penting dalam mengendalikan penyakit menular ini. Upaya tersebut melibatkan pengecekan kesehatan bagi warga binaan di berbagai lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) yang ada di kota tersebut. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menjelaskan bahwa program ini berjalan secara rutin untuk memastikan setiap individu yang berada dalam sistem pemasyarakatan diperiksa secara teratur. Dikatakan, aliansi dengan pihak lapas dan rutan membantu merangkul sektor kesehatan dalam menemukan kasus TB lebih dini.
Langkah Terstruktur untuk Menemukan Pasien TB
Skrining TB dijalankan secara periodik kepada seluruh warga binaan, sedangkan pengobatan dilakukan dengan pendistribusian obat dari puskesmas wilayah kerja masing-masing. Menurut Didi, skrining merupakan bagian kritis dalam pencegahan penyebaran penyakit, terutama di lingkungan yang memudahkan kontak antarindividu. “Skrining ini bertujuan untuk mendeteksi gejala sejak awal, sehingga pasien dapat segera diberikan penanganan yang tepat,” ungkapnya saat dihubungi pada Rabu. Pengobatan, lanjutnya, dilakukan dengan memastikan pasien menerima pengarahan yang memadai sesuai dengan kebutuhan medisnya.
“Kita memiliki MoU dengan lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan untuk skrining dan pengobatan. Obat diberikan secara langsung dari puskesmas setempat, sehingga memudahkan akses warga binaan,” jelas Didi.
Dinkes Batam juga menjalin kerja sama dengan 26 fasilitas kesehatan, baik yang berupa puskesmas pemerintah maupun klinik swasta, untuk memperkuat distribusi obat. Salah satu contoh kolaborasi ini adalah klinik Oto Medika Batam, yang menerima pasokan obat dari Puskesmas Lubuk Baja. Didi menekankan bahwa sistem distribusi ini dirancang agar pasien TB, termasuk yang berada di lingkungan tertutup, tidak terlewat dari perawatan. “Kami memastikan obat diberikan secara terus-menerus hingga pengobatan selesai,” tambahnya.
Penyebaran Fasilitas Pemeriksaan Cepat Molekuler
Untuk meningkatkan akurasi diagnosis, Dinkes Batam telah menyebarluaskan fasilitas pemeriksaan cepat molekuler (PCR) di berbagai lokasi strategis. Fasilitas ini mencakup Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah, Rumah Sakit Budi Kemuliaan, Rumah Sakit Elisabeth Batam Kota, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKL) Kelas I Batam, serta Puskesmas Tanjung Sengkuang, Sambau, Mentarau, dan Baloi Permai. Selain itu, TCM juga dioperasikan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Batam dan Lapas Perempuan Kelas IIB Batam, yang didukung oleh Puskesmas Baloi Permai.
Program ini memastikan akses yang cepat dan mudah untuk pemeriksaan TB, terutama di wilayah yang jauh dari pusat layanan kesehatan. Didi menegaskan bahwa pemeriksaan cepat molekuler menjadi alat utama dalam mengidentifikasi pasien TB, termasuk kasus yang resisten terhadap obat. “Kami terus memperluas jaringan ini agar tidak ada warga binaan yang kesulitan mendapatkan layanan,” ujarnya.
Statistik dan Progres dalam Upaya Pengendalian TB
Hingga 20 Juni 2026, Dinkes Batam mencatat total sebanyak 13.239 orang yang telah menjalani skrining TB. Dari jumlah tersebut, terdapat 1.870 kasus positif, yang terdiri dari 1.839 kasus TB sensitif obat dan 31 kasus TB resisten obat. Angka ini menunjukkan bahwa upaya deteksi dini berhasil menemukan sejumlah pasien yang sebelumnya tidak terdeteksi. Menurut data terbaru, hingga 20 Juni 2026, jumlah insiden TB di Kota Batam mencapai 134 kasus per 100 ribu penduduk.
“Pengobatan TB tetap dilakukan secara terpusat, dengan masing-masing puskesmas mengelola pasien di wilayah kerja mereka. Untuk warga binaan, kami memastikan pasien mendapatkan obat hingga tuntas,” tutur Didi.
Di samping itu, Dinkes Batam juga memantau tren penemuan kasus baru sepanjang bulan Juni 2026. Dikatakan, sebanyak 190 pasien TB baru tercatat selama periode tersebut. Angka ini mencerminkan efektivitas skrining yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan TCM. Didi menambahkan bahwa pengendalian TB tidak hanya bergantung pada skrining, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat dan instansi terkait dalam mempercepat penanganan.
Dengan strategi skrining rutin dan pengobatan yang terarah, Dinkes Batam berupaya menciptakan lingkungan sehat bagi warga binaan, sekaligus mengurangi risiko penularan TB di masyarakat. Pasien TB yang ditemukan di lembaga pemasyarakatan menjadi fokus utama karena mereka berada dalam kondisi yang rentan terhadap penyebaran penyakit. “Kami yakin, upaya ini akan memberikan dampak nyata dalam mengurangi beban kesehatan di Kota Batam,” pungkas Didi.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Peningkatan Kesehatan
Dinkes Batam tidak hanya mengandalkan tim internal, tetapi juga membangun kemitraan dengan berbagai pihak. Program ini memastikan bahwa layanan kesehatan tetap berjalan meski dalam kondisi yang dinamis. Didi menjelaskan bahwa kerja sama dengan puskesmas dan fasilitas kesehatan swasta membantu meningkatkan efisiensi pengobatan. Selain itu, program ini juga memberikan ruang bagi warga binaan untuk tetap menjalani perawatan tanpa mengganggu aktivitas mereka.
Pendekatan yang digunakan berupa skrining massal dan distribusi obat yang teratur. Didi menekankan bahwa upaya ini harus terus berlanjut, terutama di tengah tantangan pandemi dan peningkatan risiko TB yang terkait dengan faktor lingkungan dan sosial. “Kami terus berupaya agar setiap pasien TB, termasuk yang berada di lingkungan tertutup, tidak terlewat dari perawatan,” katanya. Kolaborasi antara puskesmas, klinik swasta, dan pihak pemasyarakatan menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan tersebut.
Peran Puskesmas dalam Memastikan Kesehatan Warga Binaan
Dinkes Batam menggandeng 26 fasilitas kesehatan, baik pemerintah maupun swasta, untuk memastikan distribusi obat berjalan lancar. Puskesmas Lubuk Baja, misalnya, memberikan pasokan obat ke klinik swasta Oto Medika Batam. Di sisi lain, Puskesmas Baloi Permai dan Sungai Langkai menjadi penggerak utama untuk layanan kesehatan di Lapas Perempuan Kelas IIB, LPKA Kelas II, Rutan Batam, dan Lapas Kelas IIA Batam. Didi menjelaskan bahwa pelayanan di le
