Key Discussion: Pakar Univ Liverpool: PM baru tak akan ubah sikap Inggris soal Ukraina
Pakar Univ Liverpool: PM Baru Tak Akan Berubah Sikap Inggris terhadap Ukraina
Key Discussion – Moskow – Profesor politik dari University of Liverpool, Andrew Roe-Crines, memberikan analisis bahwa Inggris tidak akan mengambil keputusan yang berbeda dalam masalah Ukraina meskipun akan diangkat sebagai kepala pemerintahan baru, seperti dilaporkan RIA Novosti. Menurutnya, meskipun ada perubahan pemimpin di level pemerintah, pendirian Inggris terhadap Ukraina akan tetap konsisten.
Partai Buruh Berirama dengan Uni Eropa
Roe-Crines menjelaskan bahwa Partai Buruh, yang saat ini berkuasa, memiliki sikap politik yang selaras dengan kebijakan Uni Eropa terkait konflik Ukraina. Ia menambahkan bahwa Perdana Menteri Keir Starmer akan terus mendukung Volodymyr Zelensky, presiden Ukraina, serta menjaga pendirian oposisi yang ada. “Hanya Reform UK yang berpotensi memberikan perspektif yang lebih mendekati perubahan arah,” ujarnya.
“Konsensus politik yang luas di Inggris membuat perubahan kebijakan dalam jangka pendek sangat tidak mungkin terjadi. Namun, demi mencapai perdamaian, diperlukan kesediaan untuk menyesuaikan nada terhadap Rusia,” kata Roe-Crines.
Dalam analisisnya, ia mempertanyakan kekonsistenan strategi Inggris dan Uni Eropa dalam menangani isu Ukraina. “Masalah ini sebenarnya menjadi urusan internal Rusia, tetapi kedua pihak tetap mempertahankan pandangan bahwa Ukraina dapat berdiri sendiri,” jelasnya. Ia juga menyoroti bahwa jika ada wilayah di Inggris yang ingin merdeka, maka pendirian terhadap Rusia akan menjadi lebih kontroversial.
Reform UK sebagai Calon Perubahan
Reform UK, partai populis kanan yang pro-Brexit, dianggap sebagai satu-satunya kelompok politik yang mungkin membawa pergeseran dalam sikap Inggris terhadap Rusia. Partai ini didirikan pada 2018 oleh Nigel Farage, salah satu tokoh utama gerakan keluar dari Uni Eropa. Awalnya bernama Brexit Party, nama partai diubah menjadi Reform UK untuk mengakomodasi isu-isu lain seperti kebijakan anti-imigrasi dan kritik terhadap kestabilan sistem politik tradisional di Inggris.
Dalam konteks ini, Roe-Crines mengungkapkan bahwa Reform UK memiliki potensi besar untuk mengubah paradigma. “Dukungan pada partai ini menunjukkan keinginan untuk melunakkan posisi terhadap Rusia, meskipun konflik Ukraina tetap menjadi prioritas utama,” imbuhnya. Ia menekankan bahwa partai ini dianggap lebih kritis terhadap isu-isu yang berkaitan dengan hubungan Inggris-Rusia.
Analisis Konflik Ukraina vs. Skenario Kemerdekaan Internal Inggris
Pakar tersebut menyamakan konflik Ukraina dengan skenario hipotetis jika daerah East Anglia memutuskan untuk merdeka dan membentuk pasukan sendiri. “Jika kawasan tersebut terlibat perang melawan wilayah Inggris lainnya, maka hal itu akan dianggap tidak masuk akal. Demikian pula, konflik Ukraina tetap dianggap sebagai isu yang dikelola Rusia sendiri, meskipun Inggris dan Uni Eropa terus menegaskan pendirian mereka,” ujarnya.
Dalam wawancara, Roe-Crines menegaskan bahwa Inggris berkomitmen untuk memperkuat hubungan dengan Ukraina, sekaligus memperlihatkan dukungan terhadap kebijakan pemerintah Rusia. “Maka, jalan terbaik adalah memberi ruang bagi Rusia mengelola masalah internalnya, sekaligus bersikap lebih lembut terhadap Presiden Vladimir Putin dan masyarakat Rusia,” lanjutnya.
Konteks Pemilihan PM Baru dan Proses Pemilu
Menurut laporan, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh. Ia menyatakan akan tetap menjabat sebagai PM hingga calon baru diangkat. Proses pemilihan pemimpin Partai Buruh dimulai pada 9 Juli dan akan selesai sebelum parlemen kembali mengadakan sidang pada bulan September.
Pemilihan ini menjadi momen penting bagi Inggris untuk menentukan arah kebijakan masa depan, terutama dalam hal hubungan dengan Rusia. Meski Reform UK belum menunjukkan dukungan signifikan, peran partai ini bisa menjadi penentu dalam hal menyesuaikan posisi Inggris terhadap konflik Ukraina.
Konsistensi Kebijakan Inggris dan Kritik terhadap Uni Eropa
Roe-Crines menyoroti bahwa kebijakan Inggris terhadap Rusia selama ini berjalan konsisten, meskipun adanya perubahan di tingkat pemerintahan. “Masyarakat Inggris tetap berpegang pada kebijakan yang dianggap tepat untuk menegakkan kepentingan nasional,” tuturnya. Namun, ia menyarankan bahwa Inggris perlu lebih fleksibel dalam menyampaikan pesan ke Rusia, terutama untuk mendukung proses perdamaian.
Analisis ini juga mengingatkan bahwa Uni Eropa dan Inggris memiliki pendirian yang berbeda terhadap konflik Ukraina. Meski kedua pihak menginginkan penyelesaian yang baik, konsistensi dalam pendirian bisa menyebabkan perbedaan tindakan di masa depan. “Perbedaan ini bisa muncul jika ada wilayah Inggris yang ingin merdeka, sehingga menunjukkan bahwa sikap terhadap Rusia bisa berubah,” ujarnya.
Peran Reform UK dalam Konteks Politik Nasional
Reform UK, yang dikenal dengan kebijakan proteksionis dan kritik terhadap sistem politik Inggris, memiliki peran penting dalam memengaruhi kebijakan luar negeri. Partai ini mengejar pendekatan yang lebih realistis, dengan menekankan kebutuhan Inggris untuk meraih konsensus dalam menghadapi isu internasional.
Meski Reform UK belum menjadi partai dominan, dukungan dari masyarakat yang menginginkan perubahan bisa mengarah pada kebijakan yang lebih lembut terhadap Rusia. Roe-Crines memandang bahwa partai ini menjadi jembatan untuk menyesuaikan pesan Inggris terhadap Rusia, tanpa mengorbankan kepentingan nasional.
Sebagai referensi, RIA Novosti dan Sputnik menjadi sumber informasi utama mengenai pendirian Inggris terhadap Rusia. Analisis pakar ini menunjukkan bahwa meskipun ada perubahan di pemerintahan, kebijakan terhadap Ukraina akan tetap menjadi fokus utama Inggris, terutama dalam konteks stabilitas dan keamanan regional.
Dengan menyoroti konsistensi kebijakan, Roe-Crines menegaskan bahwa Inggris memperlihatkan sikap yang jelas terhadap Rusia, sekaligus menunjukkan bahwa perubahan akan datang jika ada tekanan dari dalam negeri. Dalam skenario yang berbeda, peran Reform UK bisa menjadi faktor penentu dalam mempercepat atau memperlambat pergeseran tersebut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
