Latest Program: Menko AHY sebut dominasi EV China harus jadi pemicu industri nasional

Menko AHY Sebut Dominasi EV Tiongkok Jadi Pemicu Perkembangan Industri Nasional

Latest Program – Jakarta, Antaranews – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh kikuk menghadapi dominasi produsen kendaraan listrik (EV) berasal dari Tiongkok di pasar global. Pernyataan ini disampaikannya selama konferensi pers peluncuran penambahan armada kendaraan listrik baru Grab di Jakarta, Senin (10/4). Dalam kesempatan tersebut, AHY mengatakan persaingan dengan produsen EV Tiongkok justru seharusnya menjadi semangat untuk mempercepat pertumbuhan industri otomotif berbasis listrik di dalam negeri, dengan memprioritaskan merek lokal dan peningkatan kandungan dalam negeri (TKDN).

“Tiongkok bisa dikatakan merajai pasar EV dunia. Banyak pihak yang merasa berat menghadapi dominasi mereka. Namun, jangan lupa bahwa setiap inisiatif awal pasti dimulai dengan ketidaksempurnaan, banyak uji coba, serta kesalahan. Setelah itu, proses pengembangan dilanjutkan dengan riset yang lebih matang. Ada negara-negara tetangga yang juga berani dan berhasil mengembangkan industri EV-nya. Indonesia tentu memiliki potensi serupa, baik secara sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Kita tidak boleh takut bersaing,” ujarnya.

AHY menambahkan bahwa keberhasilan industri EV nasional bukan hanya bergantung pada kemampuan teknis, tetapi juga pada komitmen untuk memperkuat ekosistem yang mendukung. Ia menekankan bahwa sumber daya alam Indonesia, seperti bahan baku baterai dan logam-logam strategis, serta keahlian tenaga kerja lokal, merupakan modal utama dalam mengembangkan teknologi otomotif. “Kita memiliki kapasitas dan kemampuan untuk melahirkan kendaraan listrik dengan teknologi sendiri. Maka, kita harus berani membangun industri yang mandiri, termasuk mengurangi ketergantungan pada luar negeri,” lanjutnya.

Dalam menjawab tantangan dominasi Tiongkok, AHY menggarisbawahi perlunya langkah-langkah bertahap untuk meningkatkan TKDN. Menurutnya, target pertama adalah memastikan komponen kendaraan listrik lebih banyak berasal dari dalam negeri sebelum akhirnya menghasilkan mobil atau motor listrik yang sepenuhnya diproduksi di Indonesia. “Dengan mengoptimalkan TKDN, kita bisa membangun merek lokal yang mampu bersaing di tingkat internasional. Ini adalah langkah awal, tetapi jangan sampai kita berhenti di sana,” tutur Menko AHY.

Menurut AHY, kerja sama dengan negara atau perusahaan lain tetap penting, terutama untuk mengakselerasi pengembangan industri EV. Namun, ia menekankan bahwa kolaborasi ini harus berorientasi pada penguatan kapasitas industri nasional. “Kita perlu menggandeng mitra global yang ingin membangun industri EV di Indonesia. Tapi, semangat itu harus didukung oleh tekad kuat untuk menghadirkan industri otomotif yang bermutu dan berkelanjutan. Pemerintah telah memulai upaya ini dengan fokus pada produsen EV lokal,” jelasnya.

“Kolaborasi dengan pihak luar bukan berarti kita mengandalkan mereka. Sebaliknya, ini adalah bagian dari strategi untuk memperkaya pengalaman dan sumber daya kita. Bapak presiden juga sering mengingatkan bahwa kita harus punya tekad untuk mengembangkan industri otomotif nasional. Kita bisa memulai dengan industri berbasis listrik, karena ini merupakan arah yang strategis dan relevan dengan tuntutan pasar dunia,” kata AHY.

Menko AHY menyoroti pentingnya kebijakan pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk industri EV. Ia menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong pemberian insentif, baik bagi produsen maupun investor, untuk mempercepat pengembangan baterai dan teknologi kendaraan listrik. “Kebijakan yang diambil harus berpijak pada kebutuhan industri dan elektrifikasi kendaraan. Termasuk insentif pajak, pengurangan biaya produksi, serta dukungan untuk riset bersama antara pihak dalam dan luar negeri,” ujarnya.

Salah satu langkah nyata yang dilakukan pemerintah adalah memperluas infrastruktur pengisian daya untuk kendaraan listrik. AHY menyebutkan bahwa keberadaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai wilayah, termasuk di Pulau Jawa dan daerah-daerah lain, akan memudahkan penggunaan EV secara masif. “Kita perlu memastikan akses pengisian daya yang mudah dan terjangkau. Ini akan memperkuat minat masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik, yang sekaligus mendorong permintaan lokal bagi produk-produk dalam negeri,” imbuhnya.

Di samping itu, AHY mengatakan bahwa pemerintah sedang membangun ekosistem yang komprehensif untuk mendukung pertumbuhan industri EV. Ini melibatkan kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, serta lembaga penelitian. “Dari hulu ke hilir, kita harus menciptakan sistem yang memadai. Mulai dari kebijakan investasi, hingga pengembangan baterai yang menjadi komponen kritis dalam EV. Kita juga perlu mengedukasi masyarakat tentang manfaat kendaraan listrik, baik dari segi ekonomi maupun lingkungan,” terangnya.

Komitmen ini tidak hanya terbatas pada sektor otomotif. AHY menegaskan bahwa elektrifikasi kendaraan adalah bagian dari transformasi ekonomi nasional. “Industri EV tidak hanya mendorong kemandirian energi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan adanya produk lokal yang berkualitas, kita bisa menghadirkan solusi transportasi yang lebih hijau dan berkelanjutan. Ini adalah langkah penting untuk menghadapi masa depan yang semakin berbasis teknologi tinggi,” tambahnya.

Di masa depan, AHY berharap industri EV nasional bisa menjadi motor penggerak utama dalam menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan daya saing ekonomi