Tradisi Balema warnai persiapan Kenduri Sko di Kerinci
Tradisi Balema Warna-Warni Persiapan Kenduri Sko di Desa Tanjung Pauh Mudik, Kerinci
Tradisi Balema warnai persiapan Kenduri Sko – Sabtu (4/7/2026), suasana perkampungan adat Kedepatian Tanjung Pauh Mudik, Desa Tanjung Pauh Mudik, Kabupaten Kerinci, Jambi, dipenuhi oleh aktivitas masyarakat yang menggelar tradisi Balema. Aktivitas ini menjadi bagian dari persiapan besar menuju acara utama, yaitu Kenduri Sko, yang akan digelar pada hari Minggu, 5 Juli 2026. Tradisi Balema, yang khas dilakukan oleh komunitas adat setempat, melibatkan ribuan warga dalam mengolah bahan-bahan tradisional seperti lemang, yang menjadi simbol kekuatan dan kebersamaan dalam budaya Melayu. Seluruh proses persiapan, mulai dari pemilihan bahan hingga penyusunan bahan bakar, dipandu oleh aturan adat yang telah berlaku selama berabad-abad.
Kerinci, Bumi yang Kaya Budaya
Kerinci, dikenal sebagai kawasan budaya Melayu yang kental, memiliki sejumlah ritual unik yang menjadi ciri khas masyarakat setempat. Salah satu dari mereka adalah tradisi Balema, yang terus dipertahankan meskipun zaman berubah. Di Desa Tanjung Pauh Mudik, Balema bukan hanya sekadar kegiatan memasak, tetapi juga bentuk ekspresi spiritual dan sosial. Dalam tradisi ini, warga bersama-sama menyiapkan lemang, atau lebih dikenal sebagai “lemang bambu”, yang kemudian dihiasi dengan berbagai dekorasi untuk menjadi bagian dari acara utama. Selain itu, tradisi ini juga melibatkan penggunaan bahan-bahan alami seperti daun kelapa dan rempah-rempah lokal, yang dianggap memiliki kekuatan magis.
Persiapan Balema di Desa Tanjung Pauh Mudik melibatkan lebih dari tiga ribu kepala keluarga yang tinggal di lima desa dalam wilayah Kedepatian Tanjung Pauh Mudik. Mereka tidak hanya terlibat dalam memasak, tetapi juga bekerja sama dalam merancang konsep acara dan memastikan segala hal sesuai dengan norma adat. Budaya adat ini membawa makna filosofis tentang keharmonisan antara manusia, alam, dan dewa-dewi yang dihormati. Dalam upacara, lemang tidak hanya menjadi makanan, tetapi juga media untuk menyampaikan doa dan harapan kepada para leluhur.
Tradisi Balema: Rangkaian Sosial dan Spiritual
Tradisi Balema di Kerinci memiliki arti penting dalam menjaga keberlanjutan budaya adat. Proses memasak lemang melibatkan kerja sama antar warga, mulai dari pemilihan bahan hingga pengolahan yang dilakukan dengan cara tertentu. Contohnya, lemang ditempa secara manual menggunakan alat tradisional, seperti batu besar dan alur pohon, untuk memberikan rasa unik dan aroma khas yang tak dapat dicapai dengan metode modern. Selain itu, warga juga menghias lemang dengan kain khas, simbol dari kebanggaan akan asal usul dan identitas mereka.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menuju puncak Kenduri Sko, Balema menjadi titik awal yang sangat vital. Setelah proses ini selesai, warga melanjutkan dengan serangkaian ritual lain, seperti pembersihan tempat ibadah, pembuatan tabur, dan persembahan kepada depati. Depati, atau pemimpin adat, memainkan peran penting dalam memimpin acara dan menjaga keharmonisan antar warga. Pelantikan depati yang dijadwalkan pada 5 Juli 2026 akan menjadi momen istimewa bagi masyarakat setempat, yang merupakan bagian dari siklus adat tahunan.
Persiapan dan Persatuan Masyarakat
Dalam beberapa hari terakhir, warga Desa Tanjung Pauh Mudik memperlihatkan semangat gotong royong yang luar biasa. Ribuan orang berkumpul di area persiapan, saling membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas yang membutuhkan kekuatan fisik dan kerja sama. Dalam satu gambar, seorang perempuan sedang menggiling bahan bakar dengan tenang, sementara laki-laki lainnya mengatur lemang dalam urutan tertentu. Semua aktivitas ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian, agar tidak mengganggu keberlanjutan ritual.
Persiapan Balema juga menunjukkan bagaimana budaya adat dapat menjadi wadah untuk kebersamaan. Dalam beberapa keluarga, anak-anak juga turut serta dalam proses memasak, mengikuti petunjuk dari orang dewasa. Mereka belajar cara mengolah bahan-bahan secara tradisional, sekaligus memperkuat ikatan generasi. Karena adat ini memiliki nilai-nilai yang tinggi, setiap langkah dalam persiapan harus dilakukan dengan kehati-hatian dan kesadaran akan makna tradisi tersebut. Saat ini, atmosfer hangat dan penuh semangat terasa sangat jelas di sepanjang jalanan desa.
Kenduri Sko: Kultur dan Kebanggaan Lokal
Kenduri Sko, yang merupakan acara utama dari rangkaian ritual ini, akan menjadi momen puncak bagi masyarakat Kerinci. Acara ini tidak hanya sekadar pesta, tetapi juga upacara yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemimpin adat hingga penduduk biasa. Selama acara, warga akan mengenakan pakaian tradisional, mempersembahkan bahan-bahan khusus kepada para leluhur, dan mengikuti berbagai ritual yang dulu dikenal oleh nenek moyang. Dalam kegiatan ini, lemang yang telah dipersiapkan menjadi bagian dari oferan yang dianggap sebagai bentuk penghormatan dan permohonan berkah.
Kenduri Sko juga menjadi ajang untuk memperkuat persatuan masyarakat. Acara ini sering kali dihadiri oleh tamu undangan dari berbagai daerah, yang memperlihatkan bahwa budaya adat Kerinci masih dikenal dan dihargai oleh orang-orang luar. Dengan adanya tradisi Balema, proses persiapan acara menjadi lebih bermakna, karena masyarakat merasa seperti satu kesatuan dalam menghadirkan kejadian besar tersebut. Sementara itu, di sekitar desa, warga juga mempersiapkan tempat-tempat ibadah, seperti pohon rindang atau balai desa, agar bisa menampung ratusan orang yang akan hadir.
ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/kye
Arti Budaya yang Melekat dalam Tradisi
Masyarakat Ker
