Meeting Results: Menpora sebut ajang Popnas dan Pomnas ditangani kementerian lain

Menpora Sebut Popnas dan Pomnas Kini Dikelola oleh Kementerian Lain

Meeting Results – Dalam sebuah wawancara terkini, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menjelaskan bahwa penyelenggaraan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) dan Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) kini diserahkan kepada kementerian yang lebih tepat untuk mengelola sektor pendidikan dan keterampilan di tingkat pelajar serta mahasiswa. Menurut Erick, keputusan ini bertujuan menghindari tumpang tindih kewenangan antarlembaga dan meningkatkan efisiensi pembinaan olahraga nasional.

Penyesuaian Struktur Pemerintahan untuk Penyelenggaraan Lebih Efektif

Menpora menjelaskan, pengalihan tugas ini menjadi bagian dari upaya menata ulang program antarkementerian. Dengan demikian, kewenangan atas kegiatan Popnas dan Pomnas tidak lagi berada di bawah Kemenpora, melainkan bergeser ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). “Kami bersinergi dengan kementerian-kementerian terkait untuk memastikan aturan yang jelas dan berdampak pada pengembangan cabang olahraga,” katanya dalam rapat anggota Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang berlangsung di Jakarta, Sabtu.

Mengenai pertanyaan tentang keberadaan Popnas, Erick Thohir mengklarifikasi bahwa ajang tersebut kini dikelola oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Sementara itu, Pomnas mulai diarahkan kepada Kemendiktisaintek sebagai bagian dari pembinaan olahraga di kalangan mahasiswa. “Jadi (program) tidak overlapping lagi,” katanya.

Penguatan Kolaborasi untuk Membentuk Sistem Pembinaan yang Lebih Komprehensif

Erick Thohir menegaskan bahwa penyesuaian ini bertujuan menyelaraskan tugas-tugas keolahragaan dengan fungsi pendidikan di tingkat pelajar dan mahasiswa. Menurutnya, Kemenpora telah melakukan koordinasi dengan dua kementerian tersebut untuk menggarisbawahi peran masing-masing dalam mengembangkan kegiatan olahraga. “Kerja sama ini dilakukan agar pembinaan olahraga nasional bisa berjalan lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan tiap tingkat,” ujarnya.

Dalam konteks ini, Kemendikdasmen ditugaskan untuk mengatur Popnas, sementara Kemendiktisaintek mengambil alih tugas pembinaan Pomnas. Erick menyebutkan bahwa keterlibatan kedua kementerian ini membantu menciptakan payung hukum yang lebih kuat, termasuk dalam menentukan standar kualifikasi atlet dan fasilitas pendukung. “Ini juga memungkinkan pembinaan berlangsung lebih terpadu, baik di sekolah maupun di perguruan tinggi,” lanjutnya.

Peran TNI dan Polri dalam Meningkatkan Akses Olahraga

Selain kerja sama dengan kementerian pendidikan, Kemenpora juga berupaya memperkuat kolaborasi dengan institusi militer dan kepolisian. Menurut Erick, keterlibatan TNI dan Polri penting untuk menjangkau daerah-daerah yang belum memiliki sistem pembinaan olahraga yang optimal. “Dengan kehadiran mereka, kita bisa menyasar potensi atlet dari lapisan masyarakat yang lebih luas,” katanya.

Menpora menjelaskan, beberapa cabang olahraga membutuhkan fasilitas khusus atau karakteristik fisik tertentu. Contohnya, atlet yang berpartisipasi dalam cabang seperti equestrian (balap kuda) umumnya memerlukan ketinggian badan minimal 170 atau 180 sentimeter. Dengan menggandeng Kemendikdasmen dan Kemendiktisaintek, Kemenpora berharap bisa memberikan kesempatan yang lebih merata bagi semua pelajar dan mahasiswa, termasuk yang memiliki keunggulan fisik.

Membangun Sistem yang Inklusif untuk Semua Cabang Olahraga

Menpora menekankan bahwa reorganisasi ini bertujuan menciptakan sistem pembinaan yang lebih inklusif. Ia mencontohkan bahwa cabang olahraga tertentu, seperti equestrian, memerlukan pendekatan yang spesifik. “Kami berupaya memastikan bahwa setiap cabang memiliki jalur pengembangan yang jelas dan bisa mencetak atlet berkualitas,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Erick juga menyebutkan bahwa perubahan struktur ini tidak mengurangi peran Kemenpora dalam pengembangan olahraga nasional. Sebaliknya, lembaga tersebut tetap berfungsi sebagai penghubung dan koordinator antarlembaga. “Kita bisa bekerja sama dengan kementerian pendidikan, serta lembaga lain seperti TNI dan Polri, untuk memperluas akses ke pembinaan olahraga,” jelasnya.

Harapan untuk Meningkatkan Prestasi di Tingkat Internasional

Erick Thohir menyampaikan bahwa penyesuaian ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas kegiatan olahraga di tingkat dasar. Ia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir, Popnas dan Pomnas terkadang dianggap kurang optimal karena tumpang tindih tugas antara Kemenpora dan kementerian pendidikan. Dengan memisahkan tanggung jawab, pembinaan olahraga dapat lebih fokus dan terukur.

Kerja sama dengan Kemendikdasmen dan Kemendiktisaintek juga membuka peluang untuk mengintegrasikan olahraga lebih dalam ke dalam kurikulum pendidikan. Misalnya, program Popnas diharapkan bisa menjadi bagian dari kompetensi pelajar di tingkat sekolah dasar dan menengah, sementara Pomnas lebih berkembang di tingkat perguruan tinggi. “Ini penting agar olahraga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan bukan hanya kegiatan ekstra kurikuler,” tambahnya.

Peran Kementerian Lain dalam Pembinaan Atlet

Menpora menyoroti bahwa keberhasilan pembinaan atlet memerlukan partisipasi aktif dari berbagai pihak. Ia menjelaskan, dalam menangani cabang olahraga yang belum berkembang maksimal, Kemenpora bekerja sama dengan TNI dan Polri untuk memperluas jaringan penyaringan atlet. “Dengan pendekatan yang lebih strategis, kita bisa menemukan bakat-bakat baru yang bisa berkiprah di tingkat internasional,” katanya.

Dalam rangka meningkatkan keterlibatan masyarakat, Kemenpora juga berencana mengembangkan program pelatihan yang lebih fleksibel. Ia menegaskan, setiap cabang olahraga, baik yang populer maupun langka, harus memiliki kesempatan sama untuk berkembang. “Kami tidak ingin ada cabang yang tertinggal karena kurangnya dukungan dari pemerintah,” ujarnya.

Erick Thohir menambahkan, upaya ini menjadi bagian dari visi pemerintah dalam membangun olahraga nasional yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Dengan menyatukan peran dari berbagai lembaga, pembinaan atlet bisa menjadi lebih sistematis, sehingga mampu menciptakan generasi olahrag