Latest Program: Bapanas salurkan 250 ton jagung SPHP tekan biaya pakan peternak di Magetan

Bapanas Salurkan 250 Ton Jagung SPHP untuk Bantu Peternak Unggas di Magetan

Latest Program – Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) bekerja sama dengan Perum Bulog melakukan distribusi 250 ton jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Upaya ini bertujuan mengurangi beban biaya produksi para peternak unggas di wilayah tersebut. Direktur SPHP Bapanas, Maino Dwi Hartono, mengatakan bahwa program ini sudah dimulai hari ini, sehingga diharapkan dapat memberi dampak positif bagi para peternak. “Kami percaya distribusi jagung SPHP akan membantu menekan biaya pakan yang saat ini terasa berat bagi para peternak,” ujarnya.

Proses Distribusi Jagung SPHP Dimulai di Magetan

Distribusi jagung pakan SPHP kali ini dilakukan secara langsung di Gudang Gulun Magetan, yang dihadiri oleh Maino, Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti, serta perwakilan Perum Bulog. Ia menjelaskan bahwa jagung pakan dari SPHP memiliki kualitas lebih baik dibandingkan yang dijual di pasaran umum. Kadar air jagung dalam program ini berkisar antara 12 hingga 14 persen, sementara harga jualnya di tingkat peternak terbatas pada Rp5.500 per kilogram. “Ini jauh lebih terjangkau dibandingkan jagung yang selama ini diakses oleh peternak, yang berada di kisaran Rp6.600 per kilogram dengan kadar air sekitar 16 hingga 17 persen,” lanjut Maino.

“Hari ini kami bersama Ibu Bupati Magetan telah memastikan stok jagung pakan program SPHP berkualitas baik,” kata Maino.

Distribusi perdana ini diawali dengan pengajuan purchase order (PO) oleh dua koperasi peternak lokal. PO tersebut telah diinput melalui platform Klik SPHP Jagung sejak Jumat (8/5) lalu, sebelum dibagikan secara resmi. Dalam jangka waktu tahun 2026, total alokasi jagung pakan SPHP untuk Magetan mencapai 7.900 ton, dengan penyaluran dilakukan bertahap. “Alhamdulillah, hari ini proses penyaluran jagung SPHP perdana secara nasional dimulai di Magetan,” imbuhnya.

Maino menegaskan bahwa pembelian jagung oleh pemerintah melalui Perum Bulog dirancang untuk mendukung berbagai jenis usaha peternakan, seperti peternak layer, usaha mandiri, serta usaha mikro, kecil, dan menengah. Ia menjamin harga jagung SPHP tidak akan melebihi Rp5.500 per kilogram, sehingga dapat memastikan akses yang adil bagi seluruh pelaku usaha. “Dengan sistem ini, pengawasan distribusi lebih mudah dilakukan karena asosiasi dan koperasi yang terlibat sudah terdaftar dalam Klik SPHP Jagung,” jelasnya.

Deflasi Telur Ayam Ras Berdampak pada Stabilitas Harga

Menurut laporan yang diterima Bapanas, harga telur ayam ras di tingkat peternak Magetan kini berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang sebesar Rp26.500 per kilogram. Pada 8 Mei 2026, harga telur peternak tercatat berkisar antara Rp19.000 hingga Rp21.000 per kilogram. “Deflasi yang terjadi pada telur ayam ras mencerminkan penurunan permintaan atau peningkatan pasokan di tingkat produsen,” ujarnya.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa harga telur ayam ras mengalami deflasi bulanan signifikan pada April 2026, mencapai 4,29 persen. Deflasi ini lebih dalam dibandingkan inflasi yang terjadi di Maret 2026 sebesar 2,34 persen. Pada periode April 2024 dan April 2025, deflasi telur ayam ras tercatat masing-masing sebesar 5,80 persen dan 4,13 persen. “Ketahanan pangan di Magetan berperan penting untuk wilayah lain di Indonesia, sehingga stabilitas harga telur perlu dipertahankan,” kata Maino.

“Produksi telur Magetan sangat membantu ketahanan pangan untuk wilayah lain. Oleh karena itu, stabilitas harga di tingkat peternak maupun konsumen perlu dijaga bersama,” jelasnya.

Untuk menangani penurunan harga telur, Bapanas telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) meningkatkan penyerapan telur langsung dari produsen. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ketersediaan pasokan telur di tingkat konsumen. Selain itu, Bapanas juga mengatur program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), yang berfungsi mengalihkan telur dari daerah surplus ke wilayah dengan defisit stok. “Ini adalah langkah strategis untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga,” tambah Maino.

Kontribusi Pemerintah Daerah dalam Upaya Meningkatkan Stabilitas

Bupati Magetan, Nanik Endang Rusminiarti, mengapresiasi partisipasi Bapanas dan Perum Bulog dalam mengatasi krisis biaya pakan. “Pemerintah daerah berterima kasih atas upaya yang telah dilakukan oleh kedua lembaga tersebut untuk mendukung usaha peternak di Magetan,” katanya. Nanik menegaskan bahwa pakan ternak merupakan salah satu faktor kritis dalam menjaga kelangsungan usaha pertanian. “Dengan program ini, kita bisa mengurangi tekanan biaya produksi dan meningkatkan daya tahan ekonomi peternak,” ujarnya.

Penyaluran jagung SPHP ini diharapkan tidak hanya membantu peternak unggas tetapi juga memperkuat ketahanan pangan secara nasional. Nanik menjelaskan bahwa ketersediaan pakan yang stabil akan mendukung produktivitas ternak, yang secara langsung berdampak pada pasokan protein hewani. “Distribusi jagung SPHP menjadi langkah awal dari berbagai upaya untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga di Magetan,” tambahnya.

Dengan penyaluran 250 ton jagung SPHP, Bapanas dan Bulog menunjukkan komitmen untuk mengatasi kenaikan biaya pakan yang mengancam sektor peternakan. Koperasi dan asosiasi peternak yang terdaftar dalam sistem Klik SPHP Jagung dianggap sebagai mitra kunci dalam memastikan distribusi yang efisien. “Harga maksimal yang ditetapkan untuk jagung SPHP memberikan kepastian bagi peternak, karena mereka tidak perlu menghadapi fluktuasi harga yang membebani,” jelas Maino.

Kebijakan ini sejalan dengan strategi pemerintah dalam meningkatkan akses makanan bagi masyarakat pedesaan. Selain itu, program SPHP juga menjadi contoh nyata bagaimana keterlibatan lembaga pangan nasional dapat berdampak langsung pada sektor produktif. Nanik menyebutkan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pengelola, dan pelaku usaha peternakan. “Kami berharap ini bisa menjadi langkah awal untuk membangun sistem distribusi pangan yang lebih responsif,” tutupnya.