Latest Program: Komisi VII DPR mintai AK-Tekstil Solo ciptakan inovasi tingkatkan SDM
Komisi VII DPR RI Dorong AK-Tekstil Solo Kembangkan Inovasi untuk Tingkatkan Kualitas SDM
Latest Program – Semarang – Tim kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI melakukan evaluasi terhadap Kampus Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta (AK-Tekstil Solo) dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor industri. Fokus utama dari pertemuan ini adalah memastikan institusi pendidikan tersebut mampu menciptakan inovasi yang sesuai dengan dinamika sektor tekstil modern, khususnya dalam pengembangan peralatan dan teknologi. “Industri saat ini sudah menggunakan mesin canggih, jadi lulusan AK-Tekstil belum sepenuhnya siap menghadapi dunia kerja,” ujar Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, saat mengunjungi kampus tersebut di Jawa Tengah, Jumat (22/5).
Menurut Evita, tantangan utama yang dihadapi oleh AK-Tekstil Solo adalah ketidakseimbangan antara jumlah mahasiswa dan sumber daya pengajar serta fasilitas yang dimiliki. “Kita mengerti bahwa pengadaan mesin baru terutama dari pemerintah membutuhkan efisiensi yang signifikan, tapi Politeknik harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri. Jika para mahasiswa diberikan kesempatan magang di perusahaan, mereka bisa mempelajari teknik terkini dan menjadi lebih kompeten,” tambahnya.
Komisi VII Fokus pada Modernisasi Pendidikan Tekstil
Evita menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk menggali berbagai isu terkait SDM di industri tekstil. “Kami juga mendengar masukan dari Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian dan Direktur AK-Tekstil Solo. Ada banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan agar kampus ini bisa memberikan lulusan yang lebih unggul,” katanya.
Komisi VII DPR RI berharap AK-Tekstil Solo tidak hanya mengejar kuantitas tetapi juga kualitas. “Saat ini sebagian besar mahasiswa di kampus vokasi ini mengambil program D2, padahal industri membutuhkan lulusan D4 bahkan S1 atau S2. Dengan demikian, politeknik harus terus meningkatkan kurikulum dan jenjang pendidikannya,” tegas Evita Nursanty. Ia menekankan bahwa keterlibatan dengan dunia industri sangat krusial untuk memastikan kurikulum selalu relevan dengan kebutuhan pasar.
Dalam pertemuan tersebut, Kepala BPSDMI Kementerian Perindustrian, Doddy Rahadi, menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk memperoleh data aktual mengenai sistem pendidikan di AK-Tekstil Solo. “Kami mendengarkan penyampaian dari pihak industri, asosiasi, dan juga dari direktrur kampus. Semua masukan dan arahan dari Komisi VII sudah sangat jelas dan lengkap,” ujarnya.
Rahadi menambahkan bahwa upaya rebranding kampus ini perlu dihubungkan dengan kebutuhan industri. “Peralatan yang digunakan di sini sudah ada sejak 15 tahun lalu, sehingga harus diperbarui sesuai dengan perkembangan teknologi. Link and match dengan dunia usaha juga sangat penting, termasuk program magang yang menjadi bagian dari kurikulum. Ini adalah cara untuk memastikan output pendidikan selaras dengan kebutuhan pasar,” imbuhnya.
AK-Tekstil Solo Berupaya Tingkatkan Kerja Sama dengan Industri
Direktur AK-Tekstil Solo, Wawan Ardi Subakdo, menyampaikan bahwa institusi tersebut sedang mengupayakan kerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan program beasiswa. “Kami berharap pemerintah lokal dapat mendukung beasiswa bagi mahasiswa yang berasal dari wilayah sekitar pabrik tekstil. Hal ini diharapkan bisa mendorong partisipasi lebih besar dari masyarakat sekitar,” jelas Wawan.
Ia menuturkan bahwa program beasiswa tersebut menjadi strategi untuk meningkatkan kualitas SDM di Solo Raya. “Kami telah mengunjungi Dinas Perindustrian dan Dinas Tenaga Kerja. Tujuannya adalah untuk menemui bupati dan wali kota agar bisa mendiskusikan pengembangan beasiswa yang lebih luas,” tambahnya. Wawan juga menyebutkan bahwa upaya ini diharapkan mampu mengurangi kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja yang kompeten.
Asosiasi Pertekstilan Indonesia Berikan Masukan untuk Kembangkan Program Studi
Selama pertemuan, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah, Samuel Hartono, memberikan saran untuk meningkatkan jenjang pendidikan serta penambahan program studi. “Saya menyarankan agar AK-Tekstil Solo membuka program D4 atau bahkan S1, karena lulusan dengan tingkat pendidikan lebih tinggi akan lebih mudah bersaing di pasar global,” kata Samuel.
Samuel menyoroti bahwa SDM dari negara tetangga seperti Tiongkok sering kali memiliki lulusan dengan gelar S3 di sektor tekstil. “Jika AK-Tekstil Solo hanya fokus pada D2, maka keunggulan kita bisa tergerus. Maka, perlu ada pengembangan jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya penambahan Program Studi Pencelupan dan Kimia Tekstil. “Program ini menjadi kunci, karena tekstil tidak bisa dipisahkan dari teknologi kimia,” tuturnya.
Evita Nursanty menyetujui saran tersebut, menambahkan bahwa inovasi di bidang pendidikan harus selalu sejalan dengan perkembangan teknologi. “Selain itu, kami juga menginginkan pengadaan mesin baru agar lulusan bisa langsung mengoperasikan peralatan modern. Jika tidak, mereka akan kewalahan saat masuk ke dunia kerja,” jelasnya.
Pertemuan ini dianggap sebagai langkah penting untuk memperkuat kemitraan antara institusi pendidikan dan industri. Dengan adanya perbaikan kurikulum, peningkatan jumlah mahasiswa, serta pengembangan program studi yang lebih luas, AK-Tekstil Solo diharapkan bisa menjadi pusat pendidikan tekstil yang mampu menghasilkan SDM berkualitas tinggi. “Kami akan terus mengawasi kemajuan kampus ini, dan berharap ada perubahan signifikan dalam dua tahun ke depan,” pungkas Evita.
“Mayoritas mahasiswa kita D2, padahal yang dibutuhkan D4 bahkan S1 dan S2. Maka politeknik harus mengupgrade prodi yang ada,” kata Evita Nursanty.
“Tadi kan peralatan (usia alat) sudah 15 tahun, ini harus kami sesuaikan, kemudian juga ada link and match dengan dunia industri, ada program magang di industri. Ini bagian dari cara kami menyamakan output,” kata Doddy Rahadi.
“Masukan saya agar bisa dibuka program D4 atau S1, karena kalau masih D2 tentu kita kalah dari SDM negara tetangga. Di China bahkan banyak lulusan S3 dari sektor ini,” kata Samuel Hartono.
Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus membangun strategi pengembangan SDM di industri tekstil. Dengan dukungan pemerintah dan industri, AK-Tekstil Solo diharapkan bisa menjadi institusi unggul yang mampu menciptakan lulusan yang siap menghadapi tantangan global. “Kita harus bekerja sama lebih erat agar tidak ada kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan pasar,” pungkas Evita Nursanty dalam penutupan pertemuan.
