Latest Program: Koperasi gambir di Sumbar dan ID FOOD jalin kerja sama ekspor

Kerja Sama Ekspor Gambir Sumbar dan ID FOOD Berjalan Lancar

Latest Program – Jakarta, Antaranews – Koperasi Produsen Syariah Gambir Anam Koto Mandiri yang bermarkas di Sumatera Barat telah membangun kerja sama strategis dengan Holding Pangan BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperluas peluang ekspor produk gambir ke pasar global. Pertemuan antara kedua belah pihak dilakukan di Kantor Kementerian Koperasi (Kemenkop), Jakarta, Selasa lalu, dengan ditandai penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Langkah ini diharapkan menjadi awal dari pengembangan ekspor yang lebih luas, terutama ke negara-negara seperti India dan Pakistan.

Menurut Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop, Destry Anna Sari, pemerintah menekankan pentingnya kerja sama ini tidak hanya berhenti di tahap kesepakatan, tetapi segera berlanjut ke implementasi nyata. “Saya yakin ekspor gambir bisa menjadi penggerak ekonomi bagi petani lokal jika langkah-langkah konkret segera diambil,” tuturnya dalam siaran pers. Destry juga menyebutkan bahwa tantangan utama dalam pengembangan ekspor terkait konsistensi pasokan dan standar kualitas produk, khususnya ketika permintaan meningkat.

“Saya berharap dalam tiga bulan ke depan, ada transaksi kontrak bisnis yang berhasil dilakukan, sehingga produk gambir bisa segera dikirim ke luar negeri dalam bentuk hilirisasi,” tambah Destry.

Pemerintah berkomitmen untuk memastikan kualitas produk mencapai standar internasional, termasuk memenuhi persyaratan keamanan pangan seperti HACCP. Selain itu, regulasi perdagangan luar negeri akan diperkuat agar pembeli asing tidak bisa langsung membeli bahan baku dari tingkat desa, yang dinilai berpotensi mengganggu stabilitas harga di kalangan petani.

Pilar Utama Ekosistem Ekspor Gambir

Direktur Komersial ID FOOD, Dwi Sutoro, menegaskan bahwa perusahaan fokus pada pembangunan ekosistem ekspor yang berkelanjutan. Ia menyebutkan ada tiga pilar utama yang menjadi fondasi kerja sama ini: keberlanjutan pasokan, konsistensi kualitas, dan daya saing harga di pasar global. “ID FOOD berupaya mengidentifikasi produk unggulan daerah yang bisa dikembangkan untuk ekspor melalui jaringan distribusi dan perdagangan yang kami miliki,” jelas Dwi.

“Ke depan, kami akan memanfaatkan kantor cabang di seluruh Indonesia sebagai pusat pengembangan sumber daya, terutama untuk mengenali potensi komoditas yang siap dipasarkan ke luar negeri,” kata Dwi Sutoro.

Kerja sama ini dianggap penting untuk meningkatkan daya saing produk gambir di tingkat internasional. Dengan kolaborasi ini, koperasi lokal bisa memperkuat kapasitas produksi dan memastikan produknya sesuai standar pemasaran global. Pembentukan ekosistem yang solid diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah penghasil gambir.

Koperasi Gambir Sumbar Berdiri sejak 2021

Koperasi Gambir Anam Koto Mandiri, yang didirikan pada tahun 2021, kini memiliki anggota yang terdiri dari 190 petani dan delapan kelompok tani. Total luas lahan yang dikelola mencapai 450 hektare, dengan kapasitas produksi sekitar 30 hingga 50 ton per bulan. Sebagai bagian dari ekosistem koperasi, koperasi ini bertujuan meningkatkan manajemen usaha secara profesional dan transparan.

“MoU ini menjadi langkah penting untuk memperkuat hilirisasi gambir, sekaligus mendorong koperasi menjadi lebih mandiri dalam pemasaran,” ujar Ketua Koperasi Gambir Anam Koto Mandiri, Eriyanto.

Eriyanto menambahkan bahwa kerja sama dengan ID FOOD memberikan kepastian pasar bagi petani gambir. Dengan adanya mitra ekspor, harga produk bisa lebih stabil, dan daya saing di tingkat internasional meningkat. Ia juga menyebutkan bahwa koperasi berkomitmen menjaga kelangsungan pasokan produk serta memperbaiki tata kelola usaha untuk memenuhi standar pemasaran global.

Manfaat Gambir di Berbagai Industri

Produk gambir memiliki berbagai manfaat dan beragam penerapan di industri. Mulai dari bahan campuran makanan dan minuman, gambir digunakan sebagai bahan baku dalam industri kesehatan dan farmasi, hingga produk kosmetik seperti antipenuaan dan antioksidan. Dengan ketersediaan berbagai olahan, komoditas ini menawarkan peluang ekonomi yang luas.

Menurut data pemerintah, Indonesia merupakan salah satu pemasok utama gambir ke pasar dunia, dengan kontribusi sekitar 80 persen. Selain India dan Pakistan, pasar ekspor gambir juga mencakup negara seperti Jepang, Filipina, Bangladesh, dan Malaysia. Dengan peluang ekspor yang semakin terbuka, koperasi lokal diharapkan bisa memanfaatkan keunggulan produk ini untuk mendukung perekonomian nasional.

Destry Anna Sari menyoroti peran koperasi dalam membangun jaringan ekspor yang kuat. “Koperasi adalah katalisator pengembangan produk pertanian ke pasar global, terutama jika didukung oleh perusahaan BUMN yang memiliki akses ke infrastruktur dan pasar internasional,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan.

ID FOOD, sebagai salah satu perusahaan BUMN, memiliki potensi besar untuk memperkuat jaringan distribusi gambir. Dengan memanfaatkan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia, perusahaan ini bisa menjadi mitra yang mendukung keberlanjutan ekspor. Sementara koperasi lokal bertugas menghasilkan produk berkualitas dan menjaga konsistensi pasokan, ID FOOD akan mengelola pemasaran dan distribusi ke luar negeri.

Langkah ini diharapkan menjadi contoh kerja sama yang produktif antara sektor swasta dan publik. Dengan memadukan sumber daya koperasi dan kapasitas perusahaan BUMN, ekspor gambir bisa menjadi penggerak utama dalam memperkuat sektor pertanian Indonesia. Destry berharap kerja sama ini bisa menjadi model untuk pengembangan produk pertanian lainnya ke pasar internasional.

Koperasi Gambir Anam Koto Mandiri dan ID FOOD kini fokus pada pengembangan infrastruktur dan pemasaran. Dengan dukungan pemerintah, serta komitmen dari kedua belah pihak, eksplorasi pasar ekspor diharapkan bisa terlaksana secara efektif. Destry juga menyatakan bahwa ekspor gambir bukan hanya sekadar meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat daya saing produk Indonesia di tingkat global.