Special Plan: BI hadirkan program wirausaha terpadu bagi UMKM dan pesantren
BI Perkenalkan Program Kewirausahaan Terpadu untuk Peningkatan UMKM dan Ekonomi Pesantren
Special Plan – Dalam upaya meningkatkan daya saing sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) serta ekonomi pesantren, Bank Indonesia (BI) mengumumkan peluncuran program Transformasi Kewirausahaan UKM Terpadu. Program ini dirancang untuk memberikan pendidikan, pengalaman langsung, dan bantuan berkelanjutan kepada pelaku usaha mikro dan pesantren, sebagai langkah mendorong pertumbuhan bisnis yang stabil dan inovatif.
Struktur Program yang Terpadu
Program tersebut dibagi menjadi tiga tahap utama, yaitu pelatihan, magang, dan pendampingan usaha. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa proses ini bertujuan mencetak wirausaha yang mampu mengelola bisnis secara berkelanjutan. “Kita mulai dengan 2,5 bulan penguasaan kompetensi kewirausahaan, lalu penerapan langsung di lapangan, dan akhirnya dukungan dalam pengembangan usaha,” ujarnya dalam acara peluncuran program di Jakarta, Senin.
“Kemampuan wirausaha menjadi faktor utama dalam menggerakkan UKM. Karena itu, peserta harus diberi pengetahuan teknis sebelum memperoleh modal,” tambah Perry.
Dalam tahap pertama, peserta akan mengikuti pelatihan kewirausahaan selama sekitar dua bulan setengah. Materi pelatihan mencakup teknik pemasaran, manajemen keuangan, serta aspek bisnis yang relevan dengan bidang usaha mereka. Setelah memenuhi kriteria, peserta akan diberi sertifikasi untuk menandai keberhasilan.
Tahap kedua berupa magang di usaha mikro yang sudah mapan atau bisnis berbasis pesantren. Fase ini bertujuan menguji penerapan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan. Peserta yang lulus evaluasi akan mendapatkan sertifikasi lanjutan, sebagai pengakuan kemampuan mereka dalam praktik. Dalam tahap terakhir, mereka akan diberi bantuan untuk mendirikan dan mengembangkan usaha, termasuk akses ke modal yang diperlukan.
Kolaborasi dengan Berbagai Stakeholder
Program ini merupakan hasil kolaborasi BI dengan Kementerian UMKM, Kementerian Agama, pemerintah daerah, serta organisasi kecil dan menengah. Tujuan utamanya adalah memperluas dampak dari inisiatif pemberdayaan yang telah berjalan sebelumnya. “Sinergi ini penting karena memberikan peluang bagi pelaku usaha mikro dan pesantren untuk berkembang secara holistik,” kata Perry.
Menurut dia, keterlibatan mitra strategis seperti asosiasi dan lembaga pendidikan memastikan program ini memiliki cakupan yang lebih luas. “UKM dan pesantren tidak bisa berkembang sendiri tanpa dukungan ekosistem yang solid,” jelasnya.
Empat Bidang Fokus Program
Program Transformasi Kewirausahaan UKM Terpadu difokuskan pada empat bidang usaha yang dianggap strategis. Dua bidangnya menargetkan pengembangan UMKM, yaitu Cangkir Barista dan Citra Nusantara. Sementara dua bidang lainnya berbasis pesantren, yaitu Air Berkah Indonesia dan Tani Berkah.
Dalam bidang Cangkir Barista, BI berkomitmen menghasilkan 400 barista yang bersertifikasi internasional setiap tahun. “Program ini tidak hanya mengajarkan keterampilan membuat kopi, tetapi juga membantu petani memilih bahan baku berkualitas,” tutur Perry. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan bisnis barista akan berdampak pada industri kopi nasional, menciptakan ekosistem yang terpadu dari hulu ke hilir.
Di bidang Citra Nusantara, fokusnya adalah inovasi produk wastra. “Kami ingin mendorong kreativitas para desainer dan pelaku industri kreatif melalui pendampingan yang intensif,” kata Perry. Targetnya adalah menghasilkan 50 inovasi baru pada 2026. Dari 500 peserta yang telah dipilih, akan ada tantangan untuk mengembangkan produk yang diminati pasar.
Bagi pesantren, program Air Berkah Indonesia bertujuan meningkatkan pengelolaan usaha air minum dalam kemasan berbasis sumber daya lokal. Sementara Tani Berkah fokus pada pertanian hijau dan teknik hidroponik, yang memungkinkan pengembangan pertanian di lahan terbatas. “Pesantren menjadi pangkalan inovasi ekonomi lokal, dan program ini mendukung perannya,” tambah Perry.
Langkah Strategis untuk Ekonomi Kerakyatan
Perry menekankan bahwa pendekatan BI berbeda dari program pengembangan UKM lainnya. “Modal diberikan setelah peserta memiliki kompetensi dan pengalaman langsung, agar usaha yang dijalankan lebih berkualitas,” jelasnya. Hal ini bertujuan meminimalkan risiko kegagalan bisnis, karena peserta sudah terlatih secara menyeluruh sebelum memulai.
“Inilah komitmen Bank Indonesia, pemerintah, dan mitra strategis untuk mendorong UKM sebagai dasar ekonomi kerakyatan,” kata Perry.
Dengan program ini, BI mengharapkan terciptanya lapangan kerja baru, peningkatan kualitas produk, serta pengembangan ekonomi yang berkelanjutan. Selain itu, program ini juga bertujuan menguatkan peran pesantren sebagai lembaga pendidikan dan ekonomi yang berdampak luas.
Para pelaku usaha yang sudah sukses di bidang-bidang tersebut akan menjadi mentor bagi peserta. “Mentor yang berpengalaman akan memberikan arahan praktis dan strategi bisnis yang terbukti berhasil,” tutur Perry. Hal ini diharapkan mampu mempercepat proses adaptasi peserta ke dunia usaha.
Kebijakan yang diluncurkan BI ini dianggap sebagai langkah penting dalam menghadapi tantangan ekonomi global. “UKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia, dan wirausaha yang berkualitas akan menjadi kunci keberlanjutan pertumbuhan,” pungkas Perry. Ia yakin program ini akan memberikan dampak nyata dalam waktu dekat, terutama dalam meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Dengan struktur yang terpadu dan kolaborasi yang lebih luas, BI berharap program ini mampu menjadi model baru dalam pembinaan wirausaha. Selain itu, keberhasilan program ini juga diharapkan menjadi dasar bagi inisiatif serupa di tingkat nasional dan internasional.
