Special Plan: Ekonom: Penyesuaian harga Pertamax jaga kepercayaan investor

Ekonom: Penyesuaian Harga Pertamax Jaga Kepercayaan Investor

Special Plan – Jakarta – Sejumlah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax telah menjadi fokus perhatian publik, terutama dalam konteks menjaga stabilitas keuangan perusahaan dan memperkuat keyakinan investor. Menurut pendapat Ekonom dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, keputusan untuk menyesuaikan tarif Pertamax merupakan upaya untuk mengurangi tekanan pada kinerja keuangan Pertamina. “Investor mempertimbangkan rasio keuntungan serta efisiensi operasional perusahaan. Kalau terus merugi, siapa yang mau berinvestasi?,” jelas Hendry dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Sebelumnya, Hendry menyoroti bahwa Pertamina telah menggunakan dana talangan perusahaan untuk mempertahankan harga Pertamax di bawah angka ekonomi. Namun, ia menekankan bahwa instrumen ini hanya bersifat sementara. “Dana talangan Pertamina digunakan untuk mengatasi kenaikan harga BBM nonsubsidi, tetapi batasannya jelas. Jadi, kebijakan ini tidak bisa dijaga selamanya,” tambahnya.

“Dana talangan Pertamina ini juga terbatas. Karena Pertamax ini BBM nonsubsidi, tidak ada subsidi APBN di dalamnya. Jadi, memang murni mengikuti harga pasar,” kata Hendry.

Kenaikan harga Pertamax, yang terjadi beberapa bulan terakhir, dinilai Hendry sebagai respons wajib terhadap perubahan dinamika pasar. Ia menjelaskan bahwa pertahanan harga di bawah keekonomian telah menciptakan tekanan signifikan terhadap laba perusahaan. “Kondisi ini berpotensi merusak reputasi Pertamina di mata investor dan lembaga pemeringkat,” ujarnya.

Masih menurut Hendry, perubahan kurs rupiah dan kenaikan harga minyak mentah di pasaran memperketat ruang untuk mempertahankan kebijakan penyesuaian harga. “Karena dua faktor ini naik terus, Pertamina tidak bisa lagi mengandalkan dana talangan tanpa mengorbankan keuntungan yang sebenarnya bisa digunakan untuk pembangunan jangka panjang,” terangnya.

Dalam konteks ini, Pertamina harus menyesuaikan tarif BBM nonsubsidi untuk memastikan keberlanjutan bisnis. Hal ini juga berdampak pada layanan yang diberikan kepada masyarakat, terutama dalam menjaga ketersediaan energi. “Jika harga BBM nonsubsidi tidak disesuaikan, Pertamina akan terus-menerus menanggung kerugian,” tambah Hendry.

Pertamina menyatakan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan bagian dari penerapan tata kelola energi yang lebih baik. Dalam pernyataannya, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa keputusan ini sesuai dengan regulasi pemerintah. “Penyesuaian harga ini dilakukan agar keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bisa terjaga,” katanya.

Dari sisi pasar, penyesuaian harga Pertamax menjadi langkah yang dinilai penting dalam memperkuat kepercayaan investor. Hendry menambahkan bahwa kebijakan ini tidak hanya memengaruhi laba perusahaan, tetapi juga memengaruhi persepsi publik terhadap Pertamina sebagai penyedia energi. “Investor memperhatikan kinerja keuangan perusahaan, termasuk seberapa stabilnya laba yang dihasilkan. Jika Pertamina terus rugi, investor akan ragu dalam mempertahankan investasi,” jelasnya.

Penyesuaian harga tersebut memicu berbagai reaksi dari sektor energi. BBM Pertamax (RON 92) yang sebelumnya dijual dengan harga Rp12.300 per liter, kini naik menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green (RON 95) mengalami kenaikan harga dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter. Perubahan ini dinilai sebagai langkah wajib untuk menyesuaikan dengan tekanan inflasi dan kenaikan biaya produksi.

Dalam menjelaskan latar belakang penyesuaian harga, Roberth Dumatubun menegaskan bahwa Pertamina terus berupaya mengoptimalkan operasional guna meminimalkan dampak kenaikan harga. “Kebijakan ini dilakukan agar keseimbangan antara bisnis, pelayanan, dan pasokan energi tetap terjaga,” katanya. Ia juga menyoroti bahwa kebijakan penyesuaian harga dianggap sebagai bagian dari adaptasi terhadap perubahan ekonomi global.

Kenaikan harga Pertamax ini diharapkan dapat mengurangi beban keuangan Pertamina dalam jangka panjang. Dengan menyesuaikan tarif BBM nonsubsidi, perusahaan dapat memperoleh dana yang lebih stabil untuk investasi. “Kenaikan yang terjadi saat ini memang signifikan, tetapi ini merupakan langkah yang tidak bisa dihindari,” kata Hendry.

Sebagai dampak dari penyesuaian harga, investor diperkirakan akan lebih yakin dengan kinerja Pertamina. “Dengan kenaikan harga, Pertamina bisa mengurangi defisit yang terus menumpuk,” ujar Hendry. Ia menambahkan bahwa kepercayaan investor juga memengaruhi penilaian lembaga pemeringkat, yang menjadi indikator penting dalam menilai kesehatan keuangan perusahaan.

Sejumlah pihak menyambut baik kebijakan penyesuaian harga sebagai upaya untuk menjaga keseimbangan antara keuangan perusahaan dan kebutuhan masyarakat. Namun, ada pula yang menilai bahwa kenaikan ini bisa memberatkan konsumen, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Hendry menyatakan bahwa Pertamina telah melakukan langkah yang tepat dalam situasi ini, meskipun ada tekanan dari sektor konsumen.

Pertamina juga mengharapkan kebijakan ini bisa meningkatkan kepercayaan publik terhadap kemampuan perusahaan mengelola pasar energi. “Ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan komitmen Pertamina dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan bisnis dan kebutuhan masyarakat,” kata Roberth Dumatubun. Ia menegaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan dengan transparan dan sesuai prosedur.

Dengan penyesuaian harga Pertamax, Pertamina menunjukkan adaptasi terhadap perubahan ekonomi. “Langkah ini penting untuk memastikan perusahaan tetap kompetitif di pasar internasional,” ujar Hendry. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini juga membantu menjaga stabilitas perekonomian nasional, karena BBM nonsubsidi memainkan peran penting dalam sektor transportasi dan industri.