Dunia

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi rantai pasok dalam BRICS

IMG_2599
Foto : Rina Kartika - indocrowdfunding.com
Daftar Isi
  1. China Dukung Gagasan Indonesia Perkuat Rantai Pasok BRICS
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

China Dukung Gagasan Indonesia Perkuat Rantai Pasok BRICS

Indocrowdfunding.com – Usulan Indonesia untuk mempererat kerja sama industrialisasi dan rantai pasok di antara anggota BRICS mendapat respons positif dari China. Beijing melihat penguatan konektivitas industri, teknologi, serta kapasitas produksi sebagai langkah penting untuk membangun pertumbuhan yang lebih tangguh di tengah berbagai tekanan global.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyampaikan bahwa negaranya siap memperluas kerja sama teknologi dengan para anggota BRICS. China juga ingin memperdalam penyelarasan sektor industri, menjalankan program penguatan kapasitas, dan mendorong pembangunan berkualitas yang berkelanjutan serta memiliki daya tahan lebih baik.

“China akan memperkuat kerja sama teknologi dengan negara-negara BRICS, memperdalam penyelarasan industri, melaksanakan proyek-proyek peningkatan kapasitas, serta mewujudkan pembangunan yang lebih berkelanjutan dengan kualitas yang lebih tinggi dan ketahanan yang lebih kuat,” kata Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin.

Pernyataan itu menanggapi ajakan Presiden Prabowo Subianto pada sesi kedua KTT BRICS ke-18 di New Delhi, Minggu (13/9). Dalam forum tersebut, Prabowo mengajak negara-negara anggota membangun kerja sama yang lebih nyata dalam pengembangan industri dan pengelolaan rantai pasok global.

Gagasan itu menempatkan BRICS bukan sekadar sebagai forum dialog ekonomi, melainkan sebagai wadah untuk menyatukan sumber daya, kapasitas manufaktur, teknologi, serta pasar yang dimiliki tiap negara. Kerja sama seperti ini dinilai relevan bagi negara-negara berkembang yang menghadapi tantangan serupa, mulai dari kebutuhan investasi hingga keinginan memperkuat posisi dalam rantai nilai dunia.

Industrialisasi sebagai Agenda Bersama

Prabowo menawarkan pendekatan bersama dalam mempercepat industrialisasi. Ia menekankan bahwa kekuatan anggota BRICS akan lebih besar bila sumber daya dan kemampuan yang tersedia tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Biarkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Biarkan kita industrialisasi bersama-sama dan biarkan kita mengoptimalkan sumber dan kapasitas yang kita tanggung bersama-sama,” ujar Prabowo.

Bagi Indonesia, agenda ini berkaitan erat dengan potensi sumber daya yang dimiliki. Prabowo menyebut mineral kritis dan logam tanah jarang sebagai salah satu modal pembangunan. Indonesia juga memiliki sumber energi terbarukan yang dapat menopang teknologi bersih dan sektor berteknologi tinggi, serta kawasan hutan yang mempunyai arti penting bagi pembangunan pada masa depan.

Potensi tersebut dapat memperoleh nilai tambah lebih besar apabila dihubungkan dengan kebutuhan industri, akses teknologi, pembiayaan, dan pasar di negara-negara mitra. Dalam konteks rantai pasok, kerja sama tidak berhenti pada perdagangan bahan mentah. Nilai strategisnya terletak pada peluang pengolahan, peningkatan kemampuan produksi, dan pembukaan ruang investasi yang dapat mendukung penciptaan lapangan kerja.

Prabowo menilai Indonesia tidak menghadapi persoalan itu sendirian. Sejumlah negara BRICS maupun negara-negara Global South berhadapan dengan kebutuhan yang saling berkaitan: memperkuat industri domestik, menjaga pertumbuhan, memperluas kesempatan kerja, dan menghadapi perubahan kondisi ekonomi internasional.

BRICS Telah Memiliki Dasar Kerja Sama Industri

China menilai kerja sama industrialisasi telah menjadi salah satu perhatian BRICS selama bertahun-tahun. Guo menyebut pembentukan Pusat Inovasi Kemitraan BRICS untuk Revolusi Industri Baru dan Pusat Kompetensi Industri BRICS sebagai contoh infrastruktur kerja sama yang telah dibangun oleh kelompok tersebut.

“Hal itu dibuktikan dengan pembentukan Pusat Inovasi Kemitraan BRICS untuk Revolusi Industri Baru dan Pusat Kompetensi Industri BRICS serta ditandai dengan berbagai hasil nyata,” tambah Guo Jiakun.

Keberadaan lembaga-lembaga itu menunjukkan bahwa agenda industri di BRICS sudah memiliki fondasi. Usulan Indonesia dapat ditempatkan sebagai dorongan untuk memperluas pemanfaatan fondasi tersebut, khususnya melalui proyek yang mempertemukan sumber daya alam, kemampuan teknologi, pengembangan tenaga kerja, dan jaringan perdagangan antaranggota.

Prabowo juga menyoroti sifat saling melengkapi dari kekuatan ekonomi anggota BRICS. Ada negara yang memiliki pasar besar, kemampuan manufaktur, sumber energi, cadangan mineral, kapasitas teknologi, atau posisi penting dalam perdagangan lintas kawasan. Kombinasi itu membuka peluang bagi BRICS untuk meningkatkan perannya dalam rantai nilai global.

Apabila dijalankan secara konsisten, kolaborasi rantai pasok dapat membantu anggota BRICS mengurangi hambatan dalam memperoleh bahan baku, komponen industri, teknologi, dan akses pasar. Namun, kerja sama tersebut tetap membutuhkan keselarasan kepentingan serta proyek konkret yang memberi manfaat bagi semua pihak.

KTT Mengusung Ketahanan dan Keberlanjutan

KTT BRICS ke-18 mengangkat empat tema utama: ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Keempat pilar itu menjadi kerangka pembahasan untuk menghadapi tantangan global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik yang dapat memengaruhi perdagangan, investasi, dan stabilitas rantai pasok internasional.

Forum tersebut dihadiri Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, serta Perdana Menteri India Narendra Modi.

Brasil diwakili Menteri Luar Negeri Mauro Vieira. Arab Saudi mengirim Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud sebagai wakil dalam pertemuan itu.

BRICS saat ini mencakup 11 negara: Brasil, China, Mesir, Ethiopia, India, Iran, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Kelompok tersebut juga telah membuka kerangka kemitraan bagi Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam.

Data yang dikutip BRICS menunjukkan kelompok ini mewakili sekitar 49,5 persen populasi dunia, 40 persen produk domestik bruto global, dan 26 persen perdagangan dunia. Skala tersebut menjadikan pembicaraan mengenai rantai pasok, teknologi, investasi, dan industrialisasi memiliki arti yang luas, terutama bagi upaya negara-negara berkembang untuk memperkuat ketahanan ekonomi mereka.

Frequently Asked Questions

What is China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi?

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi matter?

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Rina Kartika - indocrowdfunding.com

Rina Kartika - indocrowdfunding.com

Rina Kartika adalah penulis dan aktivis sosial yang aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan di Indonesia. Ia memiliki pengalaman langsung dalam kampanye donasi untuk pendidikan dan bantuan bencana. Tulisan Rina berfokus pada cerita nyata, inspirasi berbagi, dan dampak sosial dari crowdfunding.