New Policy: BI lakukan Ekspedisi Rupiah Berdaulat di wilayah 3T Sulut

Bank Indonesia Melaksanakan Ekspedisi Rupiah Berdaulat di Wilayah 3T Sulut

New Policy – Manado, Sulut (ANTARA) – Bank Indonesia (BI) kembali mengadakan Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) ke lima wilayah yang termasuk dalam kategori tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Kali ini, BI melakukan ERB bersama dengan pemerintah daerah dan Angkatan Laut TNI, dengan tujuan memastikan keberadaan uang rupiah sebagai simbol kedaulatan negara tetap terjaga di area yang sulit dijangkau. Kegiatan ini diluncurkan di Bitung, Sulut, Selasa, oleh Kepala BI Sulut Joko Supratikto.

Pelaksanaan di Lima Pulau 3T

Tujuan ekspedisi ini adalah mengunjungi lima pulau strategis, yakni Salibabu, Makalehi, Karatung, Kabaruan, dan Miangas, yang akan menjadi fokus perjalanan dari 23 Juni hingga 29 Juni 2026. BI menyatakan bahwa ERB bertujuan untuk memastikan ketersediaan uang rupiah dalam jumlah memadai, serta menjaga kualitasnya agar tetap layak digunakan oleh masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menyebarkan uang rupiah secara merata di seluruh wilayah NKRI, terutama di daerah-daerah yang kurang terjangkau oleh sistem keuangan modern.

“ERB kali ini melibatkan kerja sama antara pemerintah daerah dan TNI AL,” ujar Joko Supratikto saat melepas tim penjelajah. Ia menjelaskan bahwa upaya ini merupakan bagian dari pengawasan dan peningkatan kehadiran mata uang rupiah di wilayah paling ujung, yang juga menjadi pusat perbatasan dengan negara lain.

Menurut Joko, program ERB ini dilakukan untuk memastikan transaksi ekonomi tetap lancar, meskipun lokasinya jauh dari pusat kota. Ia menekankan bahwa rupiah harus tetap menjadi alat pembayaran utama di daerah-daerah tersebut, sebagai bentuk kepercayaan masyarakat terhadap institusi keuangan nasional. “Kehadiran BI di wilayah 3T adalah bentuk komitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi dan identitas nasional,” tambahnya.

Sejarah dan Pembaruan Program

Program ERB telah berlangsung sejak tahun 2012, dengan total 150 kegiatan yang telah dilakukan. Pada masa itu, BI bekerja sama dengan TNI AL dan telah menjangkau 766 pulau 3T di seluruh Indonesia. “Setiap kegiatan ini adalah upaya untuk memperkuat keberadaan rupiah di pelosok tanah air,” jelas Joko. Ia menambahkan bahwa ERB tidak hanya fokus pada distribusi uang, tetapi juga pada edukasi keuangan masyarakat.

Kali ini, BI memanfaatkan kapal laut KRI Selar 879 sebagai sarana transportasi utama. Kapal tersebut membawa uang rupiah layak edar sebesar Rp5,5 miliar yang akan didistribusikan ke masyarakat setempat. Tim ERB yang terdiri dari 15 orang, terdiri dari anggota BI dari Sulut dan daerah lainnya, serta didukung oleh prajurit TNI AL. Kombinasi antara kekuatan lembaga keuangan dan militer diharapkan mampu mempercepat distribusi dan pemeriksaan uang rupiah.

Pengabdian dan Kehadiran Negara

Menurut Joko, penggunaan kapal KRI Selar 879 membawa pesan kehadiran negara di wilayah 3T. “Setiap langkah tim ERB adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat,” katanya. Ia menuturkan bahwa uang rupiah tidak hanya menjadi alat transaksi, tetapi juga menjadi simbol pemenuhan kebutuhan dasar dan kesatuan Indonesia. “Dengan adanya ERB, kita dapat memastikan bahwa rupiah tetap menjadi pilihan utama di wilayah yang kurang terjangkau,” tambahnya.

Tim ERB tahun 2026 memiliki tiga tugas utama, yaitu mendistribusikan uang rupiah baru, menarik uang yang tidak layak diedar, serta memberikan edukasi Cinta Bangga Paham Rupiah (CBP Rupiah). Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menggunaan uang rupiah secara bijak. “Kegiatan ini juga bertujuan memperkuat nasionalisme masyarakat di daerah-daerah yang memiliki kontak langsung dengan negara-negara lain,” ujarnya.

“Program ERB berdampak signifikan dalam meningkatkan akses ke uang rupiah, terutama di daerah terpencil,” kata Joko. Ia menambahkan bahwa keberadaan BI di wilayah 3T membantu memastikan ekonomi tetap stabil, terlepas dari jarak dan kondisi geografis yang membatasi.

Kapal KRI Selar 879 memiliki peran penting dalam menjalankan misi ini. Kapal tersebut disiapkan khusus untuk melintasi perairan yang rawan dan jauh dari pusat pemerintahan. “Kehadiran kapal ini memastikan distribusi uang rupiah dapat mencapai setiap sudut wilayah, termasuk di area yang sulit dijangkau oleh kendaraan darat,” kata Joko. Ia menegaskan bahwa upaya ini merupakan bagian dari strategi BI untuk memperkuat keberadaan rupiah di seluruh wilayah NKRI.

Dalam sejarah program ERB, BI telah terlibat dalam 150 kegiatan sejak tahun 2012, dengan bekerja sama TNI AL dan mencapai lebih dari 766 pulau 3T. Kali ini, BI mengutamakan kolaborasi dengan TNI AL untuk meningkatkan efektivitas penyebaran uang rupiah. “Kerja sama ini memastikan tim ERB dapat bergerak cepat dan efisien di area yang paling sulit,” jelas Joko. Ia juga mengatakan bahwa pemerintah daerah berperan aktif dalam memberikan fasilitas dan dukungan logistik.

Pengaruh Ekonomi dan Kepercayaan Masyarakat

Kelancaran transaksi di wilayah 3T menjadi prioritas utama dalam kegiatan ERB. Joko menegaskan bahwa keberadaan uang rupiah yang cukup dan berkualitas akan mempermudah kehidupan ekonomi masyarakat, terutama di daerah dengan akses ke pasar internasional yang terbatas. “Dengan memastikan ketersediaan uang rupiah, kita juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap keuangan nasional,” katanya.

Menurut Joko, program ini menjadi simbol bahwa Indonesia tidak hanya menghadirkan kekuasaan politik, tetapi juga ekonomi di setiap sudut wilayah. “Melalui ERB, BI menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan perekonomian nasional,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa kapal KRI Selar 879 menjadi alat komunikasi dan pemberdayaan masyarakat, dengan membawa uang rupiah yang layak edar serta menyebarkan informasi tentang pentingnya rupiah sebagai alat pembayaran utama.

Menurut