Key Strategy: Kemenkes: Riset PCR TBC RSUP Persahabatan bakal bantu eliminasi TBC
Kemenkes Dorong Riset PCR TBC di RSUP Persahabatan untuk Eliminasi Penyakit
Key Strategy – Dalam upaya mempercepat penanganan tuberculosis (TBC), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan komitmennya untuk mendukung inisiatif penelitian yang dilakukan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan. Pihak Kemenkes menyatakan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk memperluas cakupan skrining TBC dan mencapai target eliminasi penyakit tersebut secara nasional. “Kami ingin mendukung program RSUP Persahabatan dalam riset PCR TBC. Jika riset ini berhasil, mengapa kita tidak mendorong produksi nasional?” tanya Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus saat berkunjung ke institusi tersebut di Jakarta, Kamis.
Wamenkes mengungkapkan bahwa RSUP Persahabatan telah menginisiasi beberapa riset yang menjanjikan. Ia menekankan perlunya memilih riset yang memiliki dampak signifikan, terutama dalam meningkatkan kapasitas produksi di Indonesia. “Kalau PCR TBC sudah mampu dihasilkan, kenapa tidak kita gunakan untuk keperluan nasional?” lanjutnya. Menurutnya, penelitian yang berhasil dapat menjadi dasar untuk pilot project skrining di beberapa provinsi. “Misalnya, kita lakukan secara masif di 2 atau 3 provinsi pada tahun depan,” imbuh Wamenkes.
“Riset yang memiliki dampak signifikan harus diwujudkan sebagai produksi nasional,” kata Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus.
Dalam diskusi lebih lanjut, Wamenkes menyoroti pentingnya mengembangkan produk kesehatan lokal yang memiliki kualitas global. Ia mencontohkan kerja sama dengan Universitas Andalas (Unand) yang telah meneliti Tes Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) untuk mendeteksi infeksi TBC laten. Teknologi ini diharapkan dapat mempercepat diagnosa dini, sehingga memudahkan pengobatan. “Ini sejalan dengan program presiden untuk eliminasi TBC nasional,” tambahnya.
RSUP Persahabatan tidak hanya berperan dalam riset, tetapi juga sebagai pusat pelatihan dokter spesialis paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Dalam perannya tersebut, institusi ini mencetak 25 persen dari jumlah ahli paru yang ada di Indonesia. “SDM ini menjadi bagian penting dari kekuatan nasional dalam pemberantasan TBC,” jelas Wamenkes. Dengan menghasilkan tenaga ahli yang kompeten, RSUP Persahabatan dianggap sebagai salah satu penopang utama dalam upaya kesehatan nasional.
Upaya Kemenkes tidak terbatas pada penelitian dan pelatihan. Mereka juga berkomitmen untuk mempersiapkan alat kesehatan terbaik bagi RSUP Persahabatan, agar institusi tersebut bisa menjadi pusat terapi respirasi yang unggul di tingkat internasional. “Kita akan memastikan RSUP Persahabatan memiliki peralatan canggih untuk mendukung proses pengobatan TBC secara optimal,” ujarnya. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan penyakit, terutama pada tahap awal.
Peningkatan Kapasitas Diagnostik untuk Keberlanjutan Program
Kemenkes menegaskan bahwa keberhasilan riset PCR TBC bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sekarang, tetapi juga untuk menciptakan keberlanjutan program. “Riset ini akan menjadi fondasi bagi peningkatan diagnosa secara massal di masa depan,” kata Wamenkes. Selain itu, pengembangan sumber daya manusia yang terus dilakukan RSUP Persahabatan, diharapkan mampu mendukung kebijakan kesehatan nasional hingga tahun 2025.
Menurut data yang disampaikan Wamenkes, jumlah penderita TBC yang ditelusuri (tracing) pada 2025 mencapai 867 ribu orang. Sejauh ini, pada 2026, angka tersebut telah mencapai hampir 400 ribu orang. Angka ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam upaya menemukan kasus TBC yang belum terdeteksi. “Kita perlu mempercepat pencarian pasien untuk memastikan keberhasilan program eliminasi TBC,” katanya.
Dalam menangani TBC, Kemenkes juga menekankan pentingnya pendekatan holistik. Selain memperkuat kapasitas diagnostik, mereka berencana meningkatkan akses pengobatan dan edukasi masyarakat. “Selain alat kesehatan, kita juga perlu memastikan masyarakat memahami TBC dan bahaya jika tidak segera diatasi,” ujar Wamenkes. Dengan demikian, program ini tidak hanya fokus pada diagnosis, tetapi juga pada peningkatan kesadaran kesehatan publik.
“Kita harus buktikan bahwa Indonesia mampu menghasilkan produk kesehatan berkualitas tinggi,” kata Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus.
Kemenkes menyatakan bahwa RSUP Persahabatan memiliki potensi besar untuk menjadi pusat penelitian dan terapi yang inovatif. Dengan dukungan dari pemerintah, institusi tersebut diharapkan dapat menciptakan solusi yang berkelanjutan. “Kita perlu kerja sama yang solid antara RSUP dan pemerintah agar pencapaian ini bisa terwujud,” tutup Wamenkes. Pernyataan ini menegaskan bahwa kolaborasi antara sektor kesehatan dan lembaga penelitian adalah kunci sukses dalam penanggulangan TBC di Indonesia.
