Latest Program: China dukung kelanjutan dialog Iran-AS yang dimediasi Pakistan, Qatar
China dukung kelanjutan dialog Iran-AS yang dimediasi Pakistan, Qatar
Latest Program – Beijing, Antaranews.com – Pemerintah Tiongkok menegaskan komitmennya untuk menjaga kelanjutan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat, yang sedang didominasi oleh mediasi dari Pakistan dan Qatar. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menyatakan harapan bahwa kedua negara dapat terus memperjukan dialog, mengurangi perbedaan, dan mencapai kemajuan dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung. Pernyataan ini disampaikan pada konferensi pers di Beijing, Senin (22/6), sebagai respons terhadap upaya mediasi yang tengah berjalan di resor Burgenstock, Pegunungan Alpen, Swiss.
MoU Islamabad dan Perundingan di Swiss
Perundingan di Burgenstock merupakan bagian dari implementasi Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad, yang ditandatangani antara Iran dan AS pada 18 Juni setelah melalui proses elektronik. Tujuan utama dari MoU ini adalah membuka jalan untuk penghentian permanen konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Sebelumnya, pada 14 Juni, Iran dan AS mengumumkan kesepakatan 14 poin melalui mediasi Pakistan, yang bertujuan mengakhiri perang serta perselisihan melalui dialog dan negosiasi. Kesepakatan ini mencakup penghentian permusuhan di seluruh front, termasuk wilayah Lebanon, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran.
“Mediasi tanpa henti dari Pakistan dan Qatar telah menghasilkan kemajuan besar untuk mengakhiri Perang Lebanon. Pembatasan terhadap ekspor minyak dan petrokimia dicabut, blokade diakhiri, sebagian aset yang dibekukan dilepaskan, serta program rekonstruksi dan pembangunan besar diluncurkan untuk Iran,” kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, dalam pernyataan di platform X.
Seiring berjalan proses perundingan, situasi diplomatik antara Iran dan AS sempat mengalami ketegangan. Pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan kembali menyerang Iran jika Teheran gagal mempengaruhi kelompok pro-Iran di Lebanon untuk berhenti membuat masalah. “Kami mungkin akan mengambil alih selat itu jika perlu,” ujarnya seperti dilaporkan Fox News.
Konflik dan Tindakan Iran
Pernyataan Trump memicu reaksi dari pihak Iran. Delegasi Teheran dilaporkan melakukan aksi “walk out” dan meninggalkan lokasi perundingan sementara waktu. Ketua tim negosiasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, kemudian menegaskan bahwa AS harus lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan yang bisa mengganggu upaya diplomasi. Meski begitu, Araghchi mengatakan bahwa perundingan di Swiss menunjukkan kemajuan signifikan dalam mengakhiri konflik di Lebanon serta mengurangi tekanan terhadap perekonomian Iran.
“Kami berharap Iran dan AS akan terus melanjutkan pembicaraan, mempersempit perbedaan lebih lanjut, dan berupaya mencapai kemajuan yang baik dalam negosiasi mereka,” kata Guo Jiakun dalam konferensi pers.
Kesepakatan antara Iran dan AS menghasilkan pelaksanaan kebijakan yang diharapkan dapat stabilisasi hubungan regional. MoU Islamabad, yang dibuat pada 2023, menjadi dasar bagi upaya ini, dengan fokus pada pemulihan ekonomi Iran melalui akses bebas ke Selat Hormuz dan pembatalan sanksi ekonomi. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan memperkuat koordinasi antara negara-negara Arab dan Iran untuk mengurangi dampak perang di Timur Tengah.
Kemajuan dalam Negosiasi
Kemajuan yang dicapai pada 18 Juni menunjukkan bahwa dua negara yang berbeda secara ideologi berhasil menciptakan kerja sama yang signifikan. Proses ini bukan hanya membuka jalan untuk dialog antar negara, tetapi juga memperlihatkan kemungkinan kembalinya kepercayaan antara Iran dan AS. Araghchi menekankan bahwa MoU ini tidak hanya memengaruhi konflik langsung antara dua negara, tetapi juga berdampak pada hubungan dengan negara-negara lain seperti Israel.
Beberapa pihak menilai bahwa negosiasi ini menjadi momentum penting dalam memperkuat hubungan antara Tiongkok dan Iran, sekaligus menunjukkan dukungan Tiongkok terhadap mediasi regional. Dalam konteks geopolitik yang kompleks, Tiongkok dikenal sebagai pihak netral yang berusaha menjembatani kesepakatan antara pihak yang berkonflik. Kehadiran Pakistan dan Qatar sebagai mediator memperlihatkan peran penting negara-negara Timur Tengah dalam menyelesaikan perselisihan antar negara besar.
Strategi Mediasi dan Tantangan
Pakistan dan Qatar, yang dipercaya sebagai mediator utama, telah memainkan peran kritis dalam memfasilitasi perundingan antara Iran dan AS. Kedua negara ini dianggap mampu menyeimbangkan kepentingan dari pihak yang berbeda, termasuk dalam isu tekanan ekonomi terhadap Iran. Namun, tantangan tetap terjadi, terutama ketika Trump mengungkapkan ancaman militer terhadap Iran. Meski demikian, tindakan Iran dalam meninggalkan perundingan dan kembali ke meja negosiasi menunjukkan keinginan untuk menyelesaikan perselisihan melalui jalan damai.
Dalam pernyataan bersama, kedua negara mediator, Pakistan dan Qatar, menyebutkan bahwa para pihak sepakat membentuk mekanisme koordinasi bersama yang melibatkan Republik Lebanon. Mekanisme ini bertujuan memastikan kepatuhan terhadap penghentian operasi militer di Lebanon sesuai nota kesepahaman yang telah dicapai. Araghchi mengungkapkan bahwa ini menjadi ujian nyata pertama bagi MoU Islamabad, dengan harapan bahwa koordinasi ini bisa terus berlanjut.
Kedua negara juga memperhatikan dampak dari kesepakatan ini terhadap stabilitas regional. Dengan penghentian permusuhan di Selat Hormuz, ketersediaan sumber daya energi di wilayah tersebut diprediksi akan meningkat, memberi manfaat bagi negara-negara perekonomian global. Sementara itu, perekonomian Iran diharapkan kembali membaik setelah pembekuan asetnya dicabut. Proses ini juga menjadi contoh bagaimana mediasi dapat membuka jalan bagi solusi konflik yang bersifat jangka panjang.
Sebagai negara besar dengan pengaruh politik dan ekonomi yang signifikan, Tiongkok dianggap memiliki peran strategis dalam menopang dialog antara Iran dan AS. Dukungan ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Tiongkok yang menekankan kerja sama multilateral serta penyelesaian masalah global. Kesuksesan MoU Islamabad dan perundingan di Burgenstock menunjukkan bahwa terdapat kemungkinan untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak, meski prosesnya masih menghadapi hambatan.
Di sisi lain, keberhasilan mediasi oleh Pakistan dan Qatar menjadi bukti penting dari kemampuan negara-negara Timur Tengah dalam mengelola konflik antar negara besar. Dengan merangkul Iran dan AS, mereka menunjukkan komitmen untuk menjaga kestabilan kawasan. Meski ancaman Trump dan reaksi Iran sempat memperumit perundingan, peluang untuk mencapai kesepakatan tetap terbuka, dengan harapan bahwa keberlanjutan dialog bisa memperkuat hubungan bilateral dan regional.
