Pemerintah Dukung Penguatan Narasi Sejarah dan Hukum Adat Tumbang Anoi

Dari Jakarta, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa pemerintah berkomitmen memperkuat kebudayaan lokal serta narasi sejarah masyarakat adat. Ia menyoroti Tumbang Anoi sebagai momen penting dalam perjalanan perdamaian suku Dayak. “Pemerintah sepenuhnya mendukung berbagai inisiatif yang dapat meningkatkan nilai-nilai kebudayaan nasional, termasuk perkuatan narasi sejarah seperti Tumbang Anoi,” jelas Fadli dalam pernyataan resmi yang diterima pada Rabu. Menurutnya, pengembangan hukum adat Tumbang Anoi bisa diselaraskan dengan Kementerian Hukum dan HAM untuk mencapai hasil yang lebih terukur.

Harapan Emas Dayak untuk Penegakan Hukum Adat

Mandeh, sebagai ketua Elemen Masyarakat Adat (Emas Dayak), menyatakan kekhawatiran terhadap menurunnya penerapan hukum adat di Kalimantan. Ia menegaskan bahwa Tumbang Anoi bukan hanya bagian dari sejarah lokal, tetapi juga memiliki makna internasional sebagai simbol perdamaian adat. “Kami berharap hukum adat yang dibuat oleh para leluhur kami, Damang Batu bersama perwakilan suku pada masa itu, dapat kembali ditegakkan dan tidak dikesampingkan,” tegasnya.

Kami mengharapkan pemerintah memberikan perhatian penuh terhadap Tumbang Anoi agar nilai-nilai hukum adat bisa dipulihkan dan diakui secara luas.

Soekarna, pembina serta penasihat Emas Dayak, menekankan peran penting dukungan pemerintah dalam menjaga hukum adat tersebut. Ia juga menyarankan pengenalan sejarah Tumbang Anoi kepada publik sebagai bagian dari upaya edukasi nasional. “Tumbang Anoi merupakan salah satu warisan budaya yang bernilai tinggi, sehingga perlu disosialisasikan secara aktif,” imbuh Soekarna.

Rencana Aktivitas Budaya untuk Mempertahankan Nilai Tumbang Anoi

Sebagai langkah konkret, Emas Dayak berencana menyelenggarakan serangkaian acara budaya yang akan diadakan menjelang Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026. Acara ini diharapkan mampu memperkuat kembali pengakuan terhadap Tumbang Anoi sebagai hukum adat yang sah dan diperlukan. Rangkaian kegiatan akan melibatkan berbagai kalangan, mulai dari pelajar, universitas, hingga TNI dan Polri, serta dimeriahkan dengan pertunjukan tradisi Dayak dan Nusantara.

Kirab budaya yang direncanakan akan menggunakan bendera merah putih berukuran 118 meter, merepresentasikan 118 tahun perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pemilihan tanggal 20 Mei 2026 sebagai momentum kegiatan ini bertujuan menghubungkan Tumbang Anoi dengan semangat nasionalisme. Fadli Zon menyetujui kerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Tengah agar pelaksanaannya lebih efektif dan terorganisir. Dengan kolaborasi ini, pemerintah berharap memastikan narasi Tumbang Anoi tetap relevan dan dihormati oleh seluruh masyarakat adat.