Latest Program: Eks Kepala Staf TNI AL Laksamana Achmad Sutjipto tutup usia

Eks Kepala Staf TNI AL Laksamana Achmad Sutjipto tutup usia

Legislator DPR RI Dave Laksono menyampaikan duka cita atas wafatnya tokoh militer

Latest Program – Jakarta, Kamis – Laksamana TNI (Purn) Achmad Sutjipto, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), meninggal dunia di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan, pada hari ini. Kabar tersebut juga disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono, yang membidangi urusan militer dan pertahanan. Dave menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Sutjipto pada usia 81 tahun.

“Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan menghadapi masa duka ini,” ujarnya di Jakarta, Kamis.

Sutjipto, kata Dave, adalah salah satu putra terbaik bangsa yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya kepada TNI Angkatan Laut. Dalam karier militernya, ia menunjukkan komitmen kuat dalam membangun kekuatan pertahanan nasional, khususnya di lingkungan angkatan laut, serta berbagai peran strategis yang ia emban setelah pensiun. “Kontribusi yang ia berikan menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan pertahanan nasional, khususnya di lingkungan TNI Angkatan Laut,” tambah Dave, yang juga memimpin komisi yang mengurus urusan pertahanan di DPR RI.

Menurut Dave, kepergian Sutjipto tentu menjadi kehilangan bagi keluarga besar TNI, dunia kemaritiman Indonesia, serta bangsa secara keseluruhan. “Namun demikian, nilai-nilai pengabdian, kepemimpinan, dan keteladanan yang diwariskan almarhum akan tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional,” katanya. Mantan KSAL tersebut, yang dikenal sebagai sosok prajurit tangguh, telah menyisihkan waktu dan tenaganya untuk meningkatkan kemampuan operasional serta kesiapan TNI AL menghadapi berbagai ancaman di era modern.

Dalam kurun waktu tugasnya, Sutjipto berperan penting dalam pengembangan sistem pertahanan maritim Indonesia. Ia juga aktif dalam mengoordinasikan operasi laut dan memastikan keterlibatan TNI AL dalam berbagai misi nasional. “Almarhum selalu menjunjung tinggi profesionalisme, integritas, serta semangat kebersamaan dalam menjalankan tugas,” kata Dave, yang menilai Sutjipto sebagai pilar kuat dalam keberlanjutan pertahanan bangsa.

Keluarga Sutjipto telah mengumumkan bahwa jenazah akan disemayamkan di kediamannya, Jalan Gading 10 Blok D Nomor 45 Kodamar Kelapa Gading, Jakarta Utara. Jenazah selanjutnya akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengabdiannya. Pemakaman tersebut diharapkan dapat menjadi momentum untuk mengenang peran Sutjipto dalam menjaga keutuhan wilayah negara.

Laksamana Achmad Sutjipto lahir pada 15 April 1942 di Surakarta, Jawa Tengah. Ia memulai karier militer pada 1960-an dan naik jabatan secara cepat karena kinerja luar biasa dalam berbagai tugas strategis. Sebelum pensiun, ia menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut selama lima tahun, sejak 2014 hingga 2019, menjelang masa pensiun aktif. Dalam jabatan tersebut, ia terlibat dalam berbagai proyek besar, termasuk pengembangan kapal perang dan pengoptimalan sistem pertahanan laut.

Kepiawaian Sutjipto dalam manajemen operasi dan koordinasi antar-institusi pertahanan juga mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Ia dikenal sebagai pemimpin yang bijak, serta mampu menggabungkan tradisi keprajuritan dengan inovasi modern. Selama bertugas, Sutjipto juga sering memberikan wawancara atau tulisan tentang pentingnya kekuatan laut dalam keamanan nasional, yang menjadi referensi bagi masyarakat dan para pemangku kebijakan.

Beberapa rekan sejawat memperingatkan bahwa kepergian Sutjipto menciptakan kekosongan besar dalam dunia militer Indonesia. “Ia bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga seorang mentor yang memberikan ilmu serta pengalaman berharga kepada generasi muda prajurit,” kata seorang perwira yang tidak ingin disebutkan namanya. Banyak pihak menilai bahwa Sutjipto telah menjadi contoh utama dalam pengabdian tanpa pamrih, yang konsisten hingga usia senja.

Sebagai sosok nasional, Sutjipto juga turut andil dalam penyusunan kebijakan pertahanan nasional, serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan diplomatik dan penguatan kerja sama dengan negara-negara tetangga. Ia pernah menjadi perwakilan Indonesia dalam beberapa forum internasional, seperti Pertemuan Luar Biasa dan Mendadak (Pembahasan) tentang keamanan laut. Selain itu, ia juga aktif dalam memberikan bantuan kemanusiaan, termasuk dalam bencana alam yang melanda wilayah pesisir.

Kabar kematian Sutjipto juga diumumkan oleh media lainnya, seperti surat kabar dan stasiun televisi. Masyarakat secara luas menyampaikan belasungkawa, dengan banyak pesan yang menyoroti pengaruhnya dalam mengubah wajah TNI AL. “Banyak generasi milenial yang berharap bisa mengikuti jejak Sutjipto dalam berjuang untuk kepentingan bangsa,” tulis salah satu akun media sosial. Kehadiran S