New Policy: Anggota DPR: Demokrasi perlu dijaga agar tidak kehilangan adab

Anggota DPR: Demokrasi perlu dijaga agar tidak kehilangan adab

Hak untuk Berbicara Tidak Cukup Menjamin Adab dalam Demokrasi

New Policy – Azis Subekti, anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, menekankan bahwa keberhasilan demokrasi tidak hanya bergantung pada kebebasan berbicara, tetapi juga pada adab, tanggung jawab moral, serta kesanggupan mencari kebenaran. Dalam pernyataannya di Jakarta, Senin, ia menyampaikan bahwa ruang kebebasan yang luas dalam demokrasi seringkali berujung pada kualitas percakapan publik yang menurun. “Demokrasi memberikan manusia hak untuk menyampaikan pendapat, namun tidak menjamin mereka akan menggunakan hak itu secara bijak,” ujar Azis. Menurutnya, tantangan utama demokrasi modern adalah saat kebebasan semakin terbuka, tetapi percakapan justru kehilangan kedalaman dan kejujuran.

Demokrasi Global Menghadapi Fenomena Serupa

Menurut Azis, fenomena ini tidak terbatas pada Indonesia. Kritik masyarakat terhadap pemerintah, baik di negara-negara demokrasi lain seperti Amerika Serikat (AS) maupun sejumlah negara Eropa, juga seringkali diwarnai oleh polarisasi politik, populisme, serta krisis kepercayaan terhadap institusi publik. Ia mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik Indonesia menunjukkan dinamika yang memerlukan refleksi bersama. Meski kritik adalah bagian penting dari demokrasi, Azis mengingatkan bahwa tidak semua ucapan di ruang publik dapat dikategorikan sebagai kritik yang konstruktif.

“Yang menjadi masalah adalah ketika kritik kehilangan niat memperbaiki dan hanya menyisakan keinginan menghancurkan,” katanya.

Azis membedakan antara kritik dan kebencian. Kritik, menurutnya, melibatkan pertanyaan terhadap aspek yang perlu diperbaiki, serta kebutuhan untuk mengumpulkan data dan mencari solusi. Sebaliknya, kebencian cenderung menargetkan pihak tertentu tanpa argumentasi yang kuat, bahkan bisa menggerogoti fondasi demokrasi secara internal.

Kemarahan Lebih Cepat Menyebar Daripada Kebijaksanaan

Azis menyoroti peran media sosial sebagai penyebab utama penyebaran emosi yang cepat. Algoritma platform digital, kata dia, seringkali memperlebar ruang bagi informasi yang memancing reaksi terhadap penjelasan yang lebih rasional. “Kemarahan lebih cepat menyebar daripada kebijaksanaan. Tuduhan lebih cepat berlari daripada klarifikasi,” ujarnya. Fenomena ini membuat kemarahan bisa menguasai diskursus publik, sehingga kemungkinan munculnya fitnah, penghinaan, atau pembunuhan karakter semakin tinggi.

Fase Perubahan Besar dalam Pemerintahan Indonesia

Dalam konteks Indonesia, Azis menyebut pemerintahan saat ini sedang mengalami transformasi besar. Fase ini mencakup berbagai isu seperti hilirisasi sumber daya alam, pengembangan kemandirian pangan, penguatan industri pertahanan, reformasi birokrasi, digitalisasi pemerintahan, dan penataan sistem pengelolaan aset strategis. Ia menegaskan bahwa setiap kebijakan besar tentu bisa dipertanyakan, dikritik, dan diuji coba pelaksanaannya. Namun, perbedaan pendapat harus dijaga agar tidak berubah menjadi serangan yang tidak konstruktif.

Nilai Moral dari Surat Al-Hujurat untuk Ruang Publik Modern

Azis juga mengajak masyarakat Indonesia, terutama umat Islam, untuk mengingat pesan moral dalam Surat Al-Hujurat. Surat tersebut, menurutnya, menekankan pentingnya tabayyun (pencarian kebenaran), larangan mengolok-olok, dan keharusan membangun perdamaian saat terjadi konflik. Ia mengatakan nilai-nilai ini sangat relevan dalam era informasi yang cepat menyebar, di mana berita belum terverifikasi bisa merusak reputasi seseorang dalam hitungan detik.

“Demokrasi bukan sekadar hak untuk berbicara. Demokrasi adalah kemampuan menggunakan kebebasan tanpa kehilangan akhlak,” ujarnya.

Kebudayaan Adab sebagai Penjaga Jiwa Demokrasi

Azis menyampaikan bahwa tugas utama generasi muda Indonesia hari ini bukan hanya mempertahankan kehidupan demokrasi, tetapi juga menjaga agar demokrasi tetap memiliki jiwa. Ia menekankan bahwa demokrasi yang diimbangi adab, ilmu, dan kebijaksanaan akan melahirkan masyarakat yang dewasa, mampu mengoreksi kesalahan tanpa memperparah perpecahan. “Demokrasi yang bertemu dengan adab akan menciptakan bangsa yang lebih tanggung jawab dan peduli pada kebenaran,” ujarnya.

Menghindari Kebencian yang Membawa Kekacauan

Dalam menegaskan pentingnya adab, Azis menyebut perlu adanya kesadaran bahwa kritik sehat dan kebencian berbeda. Kritik membutuhkan pendekatan ilmiah, data yang solid, dan niat untuk memperbaiki. Sementara kebencian seringkali muncul dari keinginan untuk menghancurkan lawan bicara, tanpa dasar yang jelas. Ia menambahkan bahwa kebencian bisa mengabaikan keadilan, sehingga membawa dampak negatif pada kepercayaan masyarakat terhadap sistem demokrasi.

Konflik dan Kebutuhan Perdamaian dalam Demokrasi

Azis memandang bahwa dalam konflik, keharusan membangun perdamaian menjadi lebih penting. Ia mencontohkan bahwa konflik di ruang publik bisa dikelola dengan baik jika semua pihak tetap menjaga sikap adil dan objektif. “Kita perlu mengingat bahwa demokrasi tidak hanya tentang perbedaan pendapat, tetapi juga tentang kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara yang santun,” tambah Azis. Ia berharap masyarakat Indonesia, terutama generasi muda, mampu menjadi bagian dari solusi, bukan penyebab permasalahan.

Pengembangan Demokrasi yang Berkelanjutan

Menurut Azis, demokrasi yang berkembang di Indonesia perlu dikembangkan dengan cara yang lebih dewasa. Hal ini mencakup upaya menciptakan lingkungan pers yang sehat, media yang berimbang, serta masyarakat yang paham pentingnya kritik yang bersifat membangun. Ia menekankan bahwa adab dalam berdemokrasi tidak bisa dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian integral dari keberhasilan sistem tersebut.

“Orang boleh berbeda pendapat mengenai cara dan pelaksanaannya. Orang boleh mengkritik efektivitasnya. Orang boleh mempertanyakan hasilnya. Itu lah hak demokrasi,” kata Azis.

Kesiapan Masyarakat Menghadapi Tantangan Demokrasi

Azis mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga demokrasi. Ia menyoroti bahwa peran individu sangat berpengaruh dalam menciptakan demokrasi yang sehat. “Kita perlu memiliki kesadaran bahwa demokrasi adalah sarana untuk memperbaiki diri dan sosok lain, bukan sekadar saling menyalahkan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa menjaga adab dalam berbicara adalah kunci agar demokrasi tidak kehilangan maknanya dalam menghadapi dinamika politik dan sosial yang kompleks.

Dengan adab, kritik akan menjadi alat untuk memperkuat sistem demokrasi. Tanpa adab, demokrasi bisa menjadi alat untuk menghancurkan. Azis menutup pernyataannya dengan harapan bahwa generasi muda Indonesia mampu menjadi penjaga adab dalam demokrasi, sehingga kehidupan politik dan sosial tetap stabil dan bermakna.