Finansial

Ekonom: Orientasi ekonomi RI harus “outward looking” agar rupiah kuat

khrisna-edit-1788105673-4069ecb4f4
Foto : Anthony Smith - indocrowdfunding.com
Daftar Isi
  1. Rupiah Rentan: Didik J Rachbini Soroti Ketergantungan Ekonomi Domestik dan Kelemahan Cadangan Devisa
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Rupiah Rentan: Didik J Rachbini Soroti Ketergantungan Ekonomi Domestik dan Kelemahan Cadangan Devisa

Indocrowdfunding.com – Ekonom – Stabilitas nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan tajam setelah Ekonom Senior Didik J Rachbini menyuarakan peringatan keras bahwa arsitektur ekonomi Indonesia yang terlalu condong ke dalam negeri membuat mata uang nasional rentan terhadap tekanan eksternal. Dalam keterangannya di Jakarta pada Minggu, Rachbini menegaskan bahwa tanpa penguatan sektor eksternal secara struktural, Bank Indonesia tidak akan mampu menjaga rupiah tetap kokoh dalam jangka menengah hingga panjang.

Paradigma “Outward Looking” sebagai Prasyarat Stabilitas Mata Uang

Inti argumen Rachbini berpusat pada satu premis: ekonomi yang hanya berputar di dalam lingkaran domestik, mengandalkan konsumsi jutaan penduduk dan kelas menengah yang terus membesar, pada dasarnya hanya menghasilkan sirkulasi rupiah tanpa mendatangkan devisa baru. Setiap transaksi jual-beli dalam negeri, betapapun besarnya skala, tidak menambah stok dolar di sistem perbankan sentral.

“Sementara itu, ekonomi perlu mengembangkan kebijakan ekonomi yang berbasis ekspor yang akan mendatangkan cadangan devisa dolar yang besar. Ini yang sebenarnya dibutuhkan Indonesia untuk mendukung nilai tukar yang kuat.”

Ia mengakui bahwa aktivitas ekonomi domestik memang menciptakan lapangan kerja, menghasilkan laba korporasi, dan mendorong pertumbuhan produk domestik bruto. Namun, tanpa aliran devisa segar dari luar, fondasi nilai tukar tetap rapuh karena bertumpu semata pada mekanisme internal yang tidak memiliki penyangga eksternal.

Perbandingan Cadangan Devisa: Indonesia di Bawah Rata-rata ASEAN

Data cadangan devisa per akhir Juli 2026 memperlihatkan posisi Indonesia yang relatif lemah di kawasan. Angka yang tercatat sekitar 145,3 miliar dolar AS tersebut, menurut Rachbini, tergolong kecil untuk negara dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Sebagai pembanding, Singapura—negara kota dengan populasi sekitar 5,9 juta jiwa—menyimpan cadangan devisa sekitar 426,2 miliar dolar AS. Thailand, yang pernah mengalami kejatuhan mata uang baht pada krisis 1998, kini memiliki cadangan sekitar 279,2 miliar dolar AS, hampir dua kali lipat posisi Indonesia. Bahkan Malaysia, dengan populasi jauh lebih kecil, mencatatkan cadangan sekitar 132,6 miliar dolar AS.

“Bagi negara sebesar Indonesia, cadangan devisa sebesar ini tidak cukup dan bahkan terlalu kecil untuk menjadi penyangga eksternal.”

Kesenjangan ini, lanjut Rachbini, merupakan konsekuensi langsung dari struktur ekonomi yang berorientasi ke dalam dan lemah dalam orientasi keluar. Selama pola konsumsi domestik mendominasi, cadangan devisa akan terus tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga yang lebih agresif dalam aktivitas ekspor dan perdagangan internasional.

Ketergantungan pada Komoditas Mentah: Risiko Siklus Harga Global

Rachbini tidak menyangkal bahwa Indonesia坐拥 kekayaan alam yang berpotensi besar sebagai sumber devisa. Ekspor batu bara, minyak kelapa sawit, dan nikel secara historis menyumbang aliran dolar dalam jumlah signifikan. Namun, ia mengingatkan bahwa model ekspor berbasis komoditas mentah atau setengah jadi memiliki kelemahan struktural: pendapatannya sangat bergantung pada pergerakan harga di pasar global.

“Ekspor komoditas ini berjalan sangat baik ketika harga global sedang tinggi. Namun, Indonesia sendiri masih belum menjadi harga global untuk komoditas-komoditas tersebut.”

Artinya, Indonesia menjadi penerima pasif harga yang ditetapkan di bursa internasional. Ketika harga komoditas turun, penerimaan devisa menyusut drastis, sementara kebutuhan impor barang modal dan bahan baku untuk industri domestik tetap berjalan. Kombinasi kedua tekanan ini secara otomatis melemahkan nilai tukar dan menyulitkan Bank Indonesia dalam menjalankan mandat stabilitas moneter.

Investasi Asing: Potensi yang Belum Terealisasi

Sumber devisa lain yang seharusnya memperkuat rupiah adalah aliran modal asing. Namun, Rachbini menilai bahwa iklim investasi Indonesia belum mampu mempertahankan minat investor secara konsisten. Ia merinci sejumlah hambatan struktural: persepsi korupsi yang masih tinggi, ketidakpastian hukum yang menghambat perencanaan bisnis jangka panjang, serta biaya transaksi yang relatif mahal dibandingkan negara pesaing.

“Persepsi risiko berinvestasi di Indonesia tidak dijaga dengan baik sehingga investasi berpikir dua tiga kali untuk masuk ke Indonesia. Jika negara lain menawarkan lingkungan bisnis yang lebih baik dan hukum yang lebih dipercaya, maka dana investasi bisa kabur dan pindah ke negara tersebut.”

Ketidakpastian ini diperparah oleh kenyataan bahwa investor memiliki banyak alternatif di pasar berkembang lain. Tanpa perbaikan fundamental pada tata kelola dan kepastian regulasi, Indonesia berisiko kehilangan aliran modal yang justru dibutuhkan untuk memperkuat posisi eksternal.

Implikasi bagi Kebijakan Moneter Bank Indonesia

Rachbini menutup pandangannya dengan peringatan bahwa instrumen suku bunga saja tidak cukup untuk menstabilkan rupiah dalam horizon lima tahun ke depan. Tanpa fondasi daya saing di sektor luar negeri—baik melalui ekspor bernilai tambah tinggi maupun melalui arus investasi asing yang berkelanjutan—kebijakan moneter akan terus beroperasi dalam ruang yang sangat terbatas.

Pasar domestik yang besar memang memungkinkan ekonomi tumbuh meskipun rupiah terdepresiasi, karena aktivitas produksi dan konsumsi tetap berjalan dalam mata uang lokal. Namun, pertumbuhan semacam itu tidak menyelesaikan masalah fundamental: ketiadaan bantalan devisa yang memadai membuat setiap guncangan eksternal, mulai dari kenaikan suku bunga global hingga gejolak harga komoditas, langsung diterjemahkan ke dalam tekanan pada nilai tukar. Dalam kerangka ini, orientasi ekonomi yang benar-benar outward looking bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan prasyarat bagi keberlangsungan stabilitas moneter Indonesia.

Frequently Asked Questions

What is Ekonom?

Ekonom is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ekonom matter?

Ekonom matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Anthony Smith - indocrowdfunding.com

Anthony Smith - indocrowdfunding.com

Anthony Smith adalah konsultan crowdfunding dan social impact strategist dengan pengalaman lebih dari 12 tahun dalam membantu organisasi non-profit dan startup sosial mengembangkan kampanye penggalangan dana yang efektif. Ia telah terlibat dalam berbagai proyek crowdfunding internasional, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat. Di IndoCrowdfunding, Anthony berfokus pada strategi kampanye, optimasi konversi donasi, serta tren global dalam industri crowdfunding.