KONI Pusat minta Percasi hadirkan kompetisi berkesinambungan
Daftar Isi
JAPFA Chess Festival 2026 Jadi Panggung Pembinaan Pecatur Muda Indonesia
Indocrowdfunding.com – Wisma Serbaguna Senayan di Jakarta akan menjadi pusat perhatian dunia catur nasional pada 1–6 September 2026. Sebanyak 523 pecatur dari empat negara dijadwalkan turun di arena tersebut untuk memperebutkan total hadiah senilai Rp298.900.000 dalam turnamen yang dihelat oleh Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi). Acara bertajuk JAPFA Chess Festival 2026 ini bukan sekadar ajang kompetisi biasa; ia dipandang sebagai instrumen strategis dalam membangun ekosistem pembinaan catur yang berkelanjutan di tanah air.
Dorongan dari Puncak Olahraga Nasional
Mayjen TNI Purn Andrie T.U. Soetarno, yang menjabat sebagai Wakil Ketua Umum III Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, secara tegas meminta agar PB Percasi tidak berhenti pada penyelenggaraan turnamen sporadis. Ia menekankan bahwa pembinaan prestasi olahraga, termasuk catur, menuntut pendekatan jangka panjang yang dimulai sejak usia anak-anak.
“Pembinaan prestasi tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus dilakukan secara berjenjang dan berkesinambungan dimulai dari usia dini. Saya berharap melalui kejuaraan ini akan lahir Grand Master Catur Indonesia yang mampu menorehkan prestasi di kancah dunia.”
Pernyataan tersebut disampaikan Andrie dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Selasa. Pesan intinya jelas: tanpa kompetisi rutin yang menyentuh berbagai kelompok umur, Indonesia akan terus tertinggal dari negara-negara yang telah membangun piramida pembinaan catur secara sistematis sejak dekade 1990-an.
Dimensi Karakter dan Pendidikan
Setiyana Djafar, Pelaksana Tugas Sekretaris Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga di lingkungan Kementerian Pemuda dan Olahraga, turut memberikan apresiasi atas konsistensi Percasi dalam menyelenggarakan kompetisi berstandar internasional. Baginya, nilai catur melampaui aspek kompetitif semata.
“Catur bukan hanya olahraga, melainkan juga kegiatan yang melatih kedisiplinan, penentuan strategi, serta konsentrasi. Hal itu selaras dengan langkah pembangunan karakter bangsa.”
Pandangan ini sejalan dengan tren global yang menempatkan catur sebagai alat pendidikan kognitif. Di berbagai negara, federasi catur bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk memperkenalkan permainan tersebut sebagai media pengembangan logika dan ketahanan mental anak. Indonesia, dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, memiliki potensi besar untuk mengadopsi model serupa apabila infrastruktur kompetisi dan pelatihan tersedia secara merata.
Format dan Kategori Turnamen
JAPFA Chess Festival 2026 mempertandingkan total 12 kategori yang mencakup berbagai kelompok usia dan gelar. Di antara agenda paling dinanti adalah dua duel pertemuan internasional yang dirancang untuk mempertemukan pecatur muda Indonesia dengan lawan berlevel internasional:
IM Satria Duta Cahaya akan berhadapan dengan IM Dau Khoung Duy dari Vietnam, sementara pecatur putri WiM Laysa Latifa dijadwalkan menghadapi WGM Xeniya Balabayeva dari Kazakhstan. Pertemuan semacam ini memberikan pengalaman langsung bagi pecatur muda Indonesia untuk menguji kemampuan mereka di bawah tekanan kompetisi lintas negara, sebuah elemen yang sulit diperoleh dari latihan internal semata.
Konteks Pembinaan Catur di Indonesia
Indonesia memiliki sejarah panjang dalam dunia catur, namun belum mampu menghasilkan Grand Master yang secara konsisten tampil di papan peringkat dunia. Kesenjangan ini bukan semata soal bakat, melainkan soal struktur: kurangnya kompetisi berjenjang, keterbatasan akses pelatihan berstandar internasional di luar kota besar, serta minimnya jalur karier profesional bagi pecatur muda.
Kehadiran turnamen berskala nasional dengan hadiah total mendekati Rp300 juta dan partisipasi internasional diharapkan menjadi katalis. Namun, satu turnamen per tahun tidak cukup. Apa yang dibutuhkan adalah kalender kompetisi yang padat—mulai dari tingkat sekolah, klub daerah, provinsi, hingga nasional—sehingga setiap pecatur muda memiliki panggung untuk berkembang secara bertahap. Tanpa ritme kompetisi yang konsisten, bakat akan terbuang atau berpindah ke cabang olahraga lain yang menawarkan jalur lebih jelas.
Permintaan Andrie Soetarno agar Percasi menghadirkan kompetisi berkesinambungan dari usia dini, pada hakikatnya adalah ajakan untuk membangun fondasi jangka panjang. Jika dijawab dengan komitmen institusional yang nyata, bukan sekadar retorika di konferensi pers, maka dalam satu hingga dua generasi mendatang Indonesia berpeluang melahirkan pecatur berkelas dunia yang mampu bersaing di turnamen-turnamen elite internasional. JAPFA Chess Festival 2026 di Senayan bisa menjadi titik awal dari transformasi tersebut, asalkan ia menjadi bagian dari siklus pembinaan yang tidak pernah berhenti.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is KONI Pusat minta Percasi hadirkan kompetisi?
KONI Pusat minta Percasi hadirkan kompetisi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does KONI Pusat minta Percasi hadirkan kompetisi matter?
KONI Pusat minta Percasi hadirkan kompetisi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.