Tekno

Bedah peran jubir, tak sekadar penyambung lidah tapi pencipta dampak

IMG-20260911-WA0161
Foto : Anthony Smith - indocrowdfunding.com
Daftar Isi
  1. Juru Bicara di Era Digital Dituntut Menjadi Penghubung yang Berempati
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Juru Bicara di Era Digital Dituntut Menjadi Penghubung yang Berempati

Indocrowdfunding.com – Perubahan lanskap komunikasi digital membuat tugas juru bicara tidak lagi berhenti pada penyampaian pernyataan resmi. Peran tersebut kini dipandang semakin strategis karena menyangkut kemampuan institusi membangun kepercayaan, menghadirkan kejelasan, serta merespons perasaan publik dalam situasi yang cepat berubah.

Pandangan itu mengemuka dalam diskusi peluncuran buku “JURU BICARA Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi” karya Benny Siga Butarbutar dan Marlinda Irwanti Poernomo di ANTARA Heritage Center, Jakarta Pusat, Jumat. Sejumlah pembicara menempatkan juru bicara sebagai pihak yang dapat membentuk dampak komunikasi bagi lembaga maupun masyarakat luas.

Akses langsung kepada pimpinan

Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, menekankan bahwa juru bicara perlu berada dalam inti proses perubahan di sebuah lembaga. Kehadirannya tidak seharusnya hanya bersifat pelengkap ketika institusi membutuhkan penjelasan kepada publik.

Ia menilai kedekatan dengan pimpinan menjadi fondasi penting agar seorang juru bicara benar-benar memahami arah, pertimbangan, dan suasana batin di balik keputusan yang harus dikomunikasikan. Tanpa hubungan kerja yang dekat, pesan institusi berisiko kehilangan kekuatan dan konteksnya.

“Juru bicara harus memiliki akses pada pimpinan di institusinya. Kalau ada gap antara juru bicara dan pimpinan, maka dia tidak akan pernah merasakan suasana kebatinan dari apa yang ingin dikomunikasikan,” kata Gun Gun.

Pakar komunikasi politik itu memandang hubungan yang kuat antara juru bicara dan pemimpin lembaga akan membuat penyampaian pesan terasa lebih utuh. Karena itu, posisi juru bicara perlu ditempatkan secara strategis agar mampu menjalankan komunikasi publik yang bermakna, bukan sekadar membacakan informasi.

Namun, kedudukan penting tersebut tidak berarti juru bicara perlu membangun citra pribadi yang berlebihan. Gun Gun mengingatkan bahwa figur yang mewakili institusi harus mengedepankan karakter lembaga, bukan menjadikan dirinya pusat perhatian. Ketika persona pribadi terlalu dominan, substansi pesan dan kepentingan institusi dapat terpinggirkan.

Melampaui fungsi humas

Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Paulus Tri Agung Kristanto menilai pekerjaan juru bicara memiliki dimensi yang lebih luas daripada aktivitas kehumasan sehari-hari. Juru bicara tidak hanya bertugas menerangkan persoalan teknis atau menyebarkan informasi umum, melainkan juga memegang tanggung jawab etis.

Dalam praktiknya, tanggung jawab itu tercermin pada kemampuan memahami pihak yang diwakili dan menjaga kepercayaan publik. Pesan yang disampaikan perlu memiliki kepekaan, kedekatan, serta rasa tanggung jawab terhadap dampaknya di ruang publik.

“Juru bicara itu posisinya etis. Dia bukan hanya menjelaskan hal teknis seperti penyuluh atau umum seperti humas. Tapi dia di level etis, dia ada roso (rasa), ada kedekatan. Seorang juru bicara harus dekat dengan orang atau insitusi yang diwakili oleh dirinya. Maka dari itu juru bicara itu bukan humas karena ada etik di situ yang harus dia jaga,” kata Paulus.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kredibilitas juru bicara tidak hanya diukur dari kelancaran berbicara. Ketepatan memilih kata, kesediaan menjelaskan konteks, serta kemampuan menjaga integritas institusi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaannya.

Empati sebagai unsur penting

Dari sisi pemerintah, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital Fifi Aleyda Yahya menyoroti pentingnya kecerdasan emosional. Baginya, empati perlu menjadi bekal utama bagi seorang juru bicara agar terdapat kesamaan rasa antara pengirim dan penerima informasi.

Kecepatan dan akurasi memang penting dalam komunikasi publik, terutama ketika masyarakat membutuhkan penjelasan segera. Akan tetapi, data dan kata-kata saja tidak cukup apabila disampaikan tanpa memahami kekhawatiran, kebutuhan, atau situasi yang sedang dihadapi masyarakat.

“Saya kira tidak bisa hanya pilih satu apa yang paling penting bagi juru bicara. Tidak bisa hanya cepat atau akurat saja. Itu tidak bisa, kalau saya harus tambah itu ya empati. Pada saat kita menyampaikan sebuah informasi, kita tidak bisa berjarak dari pesan yang disampaikan,” kata Fifi Aleyda Yahya.

Empati membantu juru bicara menghindari komunikasi yang terasa dingin, defensif, atau sekadar formalitas. Dalam ruang digital yang dipenuhi arus informasi cepat, publik tidak hanya menilai isi pernyataan, tetapi juga cara pesan itu disampaikan serta kesungguhan institusi dalam memahami persoalan mereka.

Membangun kepercayaan melalui pesan yang utuh

Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa profesi juru bicara membutuhkan perpaduan antara akses terhadap pengambilan keputusan, kepekaan etis, dan kemampuan membangun hubungan emosional dengan audiens. Juru bicara harus mampu menerjemahkan kebijakan atau sikap lembaga menjadi bahasa yang jelas tanpa menghilangkan nilai dan konteksnya.

Di era disrupsi, sebuah pernyataan dapat menyebar luas dalam waktu singkat dan memicu beragam penafsiran. Kondisi ini membuat juru bicara perlu bekerja dengan ketelitian lebih besar: memahami materi, memastikan ketepatan informasi, membaca situasi publik, sekaligus menjaga konsistensi pesan institusi.

Peran itu juga menuntut keberanian untuk menyampaikan penjelasan secara bertanggung jawab ketika muncul pertanyaan atau kritik. Komunikasi yang efektif bukan sekadar menghasilkan perhatian, melainkan membantu publik memperoleh pemahaman yang lebih baik dan membangun rasa percaya terhadap lembaga yang diwakili.

Dengan demikian, juru bicara bukan hanya suara resmi sebuah institusi. Ia menjadi penghubung strategis yang membawa nilai, arah, dan tanggung jawab lembaga ke hadapan masyarakat, sambil memastikan komunikasi tetap manusiawi, akurat, dan beretika.

Frequently Asked Questions

What is Bedah peran jubir tak sekadar penyambung?

Bedah peran jubir tak sekadar penyambung is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bedah peran jubir tak sekadar penyambung matter?

Bedah peran jubir tak sekadar penyambung matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Anthony Smith - indocrowdfunding.com

Anthony Smith - indocrowdfunding.com

Anthony Smith adalah konsultan crowdfunding dan social impact strategist dengan pengalaman lebih dari 12 tahun dalam membantu organisasi non-profit dan startup sosial mengembangkan kampanye penggalangan dana yang efektif. Ia telah terlibat dalam berbagai proyek crowdfunding internasional, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat. Di IndoCrowdfunding, Anthony berfokus pada strategi kampanye, optimasi konversi donasi, serta tren global dalam industri crowdfunding.