Special Plan: Georgia dukung solusi damai di setiap konflik
Georgia dukung solusi damai di setiap konflik
Special Plan – Dubes Georgia di Jakarta, Tornike Nozadze, menyatakan bahwa negara asalnya terus berkomitmen pada pendekatan yang damai dalam menyelesaikan setiap permasalahan konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia. Terutama, ia menyoroti peran Georgia dalam mendukung Ukraina dalam situasi krisis saat ini. “Kami percaya bahwa penyelesaian secara damai adalah langkah paling efektif, tidak hanya untuk konflik antara Ukraina dan Rusia, tetapi juga untuk semua pertentangan yang ada di luar sana,” ujarnya dalam wawancara khusus dengan ANTARA, Selasa (14/2/2024).
Pendekatan damai dalam konflik global
Dubes Nozadze menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Georgia selalu mengedepankan keberlanjutan perdamaian. Ia menekankan bahwa negaranya tidak hanya mendorong Ukraina, tetapi juga memperhatikan kebijakan internasional secara umum. “Setiap konflik, terlepas dari intensitasnya, harus bisa diakhiri dengan dialog dan kesepakatan bersama,” tambahnya. Menurut diplomat tersebut, konflik antara Rusia dan Ukraina telah menjadi contoh nyata bagaimana penyelesaian secara diplomatik bisa menjadi pilihan utama.
“Perang yang berlangsung selama 100 tahun pun, dalam kondisi terburuk, dapat berakhir melalui negosiasi dan perjanjian damai,” kata Nozadze.
Di sisi lain, ia menyoroti dampak besar perang Rusia-Ukraina terhadap kebijakan keamanan dan diplomasi Georgia. “Konflik tersebut telah mengubah perspektif kami terhadap ancaman keamanan dan kebijakan luar negeri,” jelasnya. Duta Besar tersebut menambahkan bahwa situasi ini juga memperkuat kesadaran negara tentang pentingnya stabilitas regional dan internasional.
Keterlibatan Georgia dalam konflik sebelumnya
Dubes Nozadze menyinggung bahwa Georgia tidak bisa mengabaikan kemungkinan keterlibatan dalam konflik dan agresi, karena hingga saat ini sekitar 20 persen wilayah negara tersebut masih diduduki oleh Rusia di bagian utara. Ia mengingatkan bahwa perang terakhir yang terjadi di daerah itu adalah pada 2008, ketika Rusia memulai invasi ke wilayah Abkhazia dan Ossétia Utara. “Pengalaman tersebut mengajarkan kami bahwa penyelesaian damai adalah prioritas utama, sekaligus jaminan untuk keberlanjutan kedaulatan,” ujarnya.
Dalam konteks ini, Georgia berharap konflik antara Ukraina dan Rusia dapat segera berakhir agar penderitaan masyarakat dua negara bisa diminimalkan. “Kami sangat mendukung upaya-upaya yang mempercepat proses penyelesaian, karena setiap hari yang terbuang berarti korban tambahan yang terjadi,” tambah Nozadze. Ia menekankan bahwa tidak ada jalan lain selain melalui perundingan untuk menyelesaikan pertentangan yang terjadi.
“Konflik adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, tetapi bagaimana menghadapinya dengan cara yang paling efektif adalah keputusan penting,” kata Nozadze.
Kemitraan dengan NATO sebagai target utama
Menurut Nozadze, aspirasi Georgia untuk bergabung dengan NATO semakin memperkuat komitmen negara tersebut terhadap penyelesaian konflik secara damai. “Kami ingin menjadi anggota NATO, dan untuk mencapai hal itu, kami harus terus menjaga hubungan baik dengan pihak internasional serta memastikan kestabilan dalam negeri,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa keanggotaan dalam organisasi militer ini dianggap sebagai langkah strategis untuk menjaga keamanan dan kepentingan nasional.
Dubes Georgia juga menyoroti bahwa perang di Ukraina memberikan dampak luas terhadap lingkungan keamanan Eropa dan Eurasia. “Tidak hanya mengubah pola hubungan antar negara, tetapi juga menunjukkan kebutuhan global akan kesadaran akan ancaman kekuasaan monopoli dan ketergantungan pada kebijakan luar negeri,” kata Nozadze. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kebijakan keamanan Georgia tidak terlepas dari dinamika geopolitik global.
“Kami percaya bahwa penyelesaian konflik melalui dialog akan mengurangi kerusakan dan meningkatkan kepercayaan antarnegara,” tambahnya.
Pendekatan Georgia dalam menyelesaikan pertentangan
Sebagai negara yang pernah mengalami invasi, Georgia mengambil langkah-langkah proaktif untuk memperkuat ketahanan nasional dan menjaga kedaulatan. Duta Besar tersebut menegaskan bahwa keberhasilan penyelesaian konflik di Ukraina akan menjadi referensi bagi negara-negara lain, termasuk Georgia, dalam merancang kebijakan luar negeri. “Masyarakat internasional harus melihat bahwa pendekatan damai bukan hanya kemungkinan, tetapi juga jalan yang paling efektif,” ujarnya.
Georgia juga mengutamakan kerja sama dengan mitra-mitra internasional, terutama dalam rangka memperkuat keamanan dan stabilitas. “Dukungan dari negara-negara seperti NATO sangat penting dalam menopang upaya kami untuk mencapai keamanan jangka panjang,” jelas Nozadze. Ia menambahkan bahwa keanggotaan NATO bukan hanya ambisi politik, tetapi juga kebutuhan strategis dalam menghadapi ancaman dari negara tetangga.
“Semakin cepat konflik berakhir, semakin sedikit korban yang akan tercipta,” katanya.
Menurut Nozadze, peran Georgia sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Rusia membuatnya menjadi pihak yang sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan keamanan internasional. “Kami berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara kedaulatan dan kerja sama, sehingga dapat menjadi mitra yang andal dalam upaya penyelesaian konflik,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa komitmen ini telah menjadi bagian dari identitas nasional Georgia.
Dalam kesimpulan, Dubes Nozadze menggarisbawahi bahwa Georgia tetap berpegang pada prinsip bahwa keamanan dan stabilitas dapat dicapai melalui komunikasi yang terbuka, serta keinginan untuk membangun hubungan diplomatik yang saling menguntungkan. “Kami yakin bahwa konflik, meski berat, akan bisa diatasi dengan cara yang paling tepat, yaitu melalui perundingan dan konsensus,” katanya. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa Georgia tetap optimis dalam
