Latest Program: Kemenekraf dorong subsektor kriya tembus pasar global

Kemenekraf Dorong Subsektor Kriya Tembus Pasar Global

Latest Program – Menjelang ajang pameran internasional yang digelar di Jakarta, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus berupaya meningkatkan daya saing produk kreatif lokal, khususnya subsektor kriya seni ukir dari Jepara. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, mengungkapkan bahwa langkah ini bertujuan untuk memperkuat identitas budaya Indonesia dan mendorong ekspor ke pasar global. Dalam sebuah pernyataan yang diterima, Irene menekankan bahwa seni ukir Jepara tidak hanya menjadi bagian dari sektor furniture, tetapi juga menyimbolkan ketekunan, nilai historis, dan estetika tinggi yang menjadi aset bangsa. Ia berharap, melalui penguatan subsektor ini, kekhasan budaya Indonesia bisa lebih dikenal dunia, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para perajin yang telah lama mengembangkan seni ini.

Seni Ukir Jepara: Representasi Budaya yang Berdaya Saing

Irene menjelaskan bahwa seni ukir Jepara memiliki potensi besar untuk menjadi produk kreatif premium. Dalam dunia pasar, karya-karya ini tidak hanya diminati lokal, tetapi juga berpeluang menarik minat kolektor internasional jika strategi pemasaran yang tepat dijalankan. “Seni ukir Jepara bukan sekadar barang dagangan, tetapi simbol kebanggaan budaya yang harus diakui secara global,” katanya. Ia menambahkan bahwa perajin di Jepara perlu diberdayakan dengan pendekatan yang berkelanjutan, termasuk memperluas akses pasar melalui digitalisasi. Langkah ini, menurut Irene, akan membuka peluang ekspor yang lebih luas dan meningkatkan pendapatan dari sektor kriya.

“Seni ukir adalah mahakarya berkelas, bukan sekadar komoditas, pameran ini hadir sebagai langkah nyata untuk mengapresiasi proses kreatif seniman sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya kita,” ujar Veronica Rompies, Direktur Pelaksana TATAH.

Dalam rangka mendukung perkembangan industri kriya, pemerintah terus berupaya memberikan perlindungan terhadap hak cipta dan hak kekayaan intelektual (IP). Irene Umar menekankan bahwa pengawasan terhadap IP menjadi kunci untuk menjaga kualitas produk dan mencegah peniruan yang merugikan perajin. “Dengan perlindungan IP, produk kreatif lokal bisa dipasarkan secara global tanpa kehilangan nilai uniknya,” jelasnya. Selain itu, pemerintah juga berkomitmen memberikan dukungan infrastruktur digital, seperti platform pemasaran online dan ekosistem kolaborasi antar pelaku usaha, guna meningkatkan daya tarik produk kriya di luar negeri.

Ajang “TATAH”: Menyatukan Seni, Kriya, dan Desain Interior

Dalam upaya memperkuat ekonomi kreatif, Kemenparekraf menggandeng berbagai pihak untuk menghadirkan pameran “TATAH” yang berlangsung di Gedung Museum Nasional Indonesia, Ruang Pamer Temporer A. Pameran ini diharapkan menjadi momentum penting bagi kebangkitan industri kriya, khususnya seni ukir Jepara, dengan menggabungkan elemen-elemen seperti seni, desain interior, dan kriya dalam satu ekosistem yang berstandar internasional. “TATAH” tidak hanya menampilkan karya kontemporer, tetapi juga mempertahankan tradisi yang telah berlangsung berabad-abad, seperti karya-karya dari maestro seni ukir Jepara yang memiliki nilai historis tinggi,” kata Veronica Rompies. Pameran ini, lanjutnya, bertujuan memperkenalkan seni ukir sebagai bagian dari warisan budaya yang harus dilestarikan.

Pameran “TATAH” menampilkan 35 karya seni ukir tematik terbaru yang berasal dari berbagai pengrajin di Jepara. Karya-karya ini mencakup patung, relief, dekorasi ruang, serta mebel eksklusif, yang diharapkan mampu menarik perhatian para kolektor dan calon investor dari luar negeri. Veronica menekankan bahwa keberhasilan pameran ini tergantung pada kolaborasi antara pemerintah, lembaga kurator, dan komunitas seni. “Dengan pendekatan yang terpadu, kita bisa menciptakan ekosistem yang mendorong kreativitas sekaligus memperkuat rantai pasok dan distribusi produk,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa ajang ini juga menjadi langkah untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perlindungan IP dan pengembangan pasar digital.

Strategi Hilirisasi untuk Meningkatkan Nilai Ekonomi

Kemenparekraf mengambil langkah strategis dengan mendorong hilirisasi seni ukir Jepara. Strategi ini bertujuan mengubah produk lokal menjadi barang bernilai ekonomi tinggi, yang bisa bersaing dengan produk dari negara-negara lain. “Dengan hilirisasi, kita bisa meningkatkan kualitas dan kreativitas produk, sehingga mampu menarik pasar yang lebih luas,” tutur Irene Umar. Ia menyoroti bahwa seni ukir Jepara memiliki potensi untuk menjadi bagian dari industri kreatif premium, terutama di pasar internasional yang semakin menghargai produk dengan nilai seni dan budaya.

Irene juga menyoroti pentingnya keterlibatan komunitas sejarah dan lembaga-lembaga lokal dalam mengembangkan industri kriya. “Kolaborasi antara pemerintah dan para ahli sejarah akan memastikan bahwa karya-karya yang dipamerkan memiliki konteks budaya yang jelas dan relevan,” katanya. Pameran “TATAH” menjadi contoh konkret dari upaya ini, dengan melibatkan Pemerintah Kabupaten Jepara, DPD HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia) Jepara Raya, serta komunitas Rumah Kartini Japara. Kesamaan tujuan antara pihak-pihak ini menjadi fondasi kuat untuk memperkuat posisi seni ukir dalam dunia kriya modern.

Peluang Investasi dan Penguatan Rantai Pasok

Salah satu tujuan utama dari pameran “TATAH” adalah menarik investor asing untuk berpartisipasi dalam industri kriya Jepara. Dengan menampilkan karya-karya berkualitas tinggi dan menggambarkan potensi ekonomi dari subsektor ini, pemerintah berharap dapat mendorong pembangunan ekosistem industri yang lebih solid. “Kita perlu menarik perhatian investor yang memahami nilai seni dan budaya, agar bisa membangun rantai pasok yang lebih efisien dan berkelanjutan,” ujar Irene. Ia menambahkan bahwa pameran ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan Jepara sebagai pusat seni ukir yang berpotensi menjadi ikon ekonomi kreatif nasional.

Kemenparekraf menilai bahwa seni ukir Jepara memegang peranan penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya. Dengan menggabungkan inovasi dan tradisi, produk-produk dari Jepara bisa menjadi contoh bagus bagaimana seni lokal dapat bertransformasi menjadi bagian dari ekonomi global. “Kita tidak hanya ingin meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan bahwa karya-karya ini memiliki nilai estetika dan filosofis yang bisa diakui oleh dunia,” jelas Veronica Rompies. Ia menekankan bahwa pameran “TATAH” merupakan langkah awal menuju keberhasilan yang lebih besar, yang akan memperkuat keterlibatan masyarakat dan membangun brand global untuk seni ukir Indonesia.

Ajang “TATAH” diharapkan mampu menjadi pemicu untuk meningkatkan ekspor furnitur nasional, terutama melalui perajin lokal yang semakin berani memasuki pasar internasional. Irene Umar menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendukung pengembangan industri ini, baik melalui kebijakan, infrastruktur, maupun pelatihan bagi para perajin. “Kita perlu menjadikan seni ukir Jepara sebagai produk yang memiliki daya tarik global, sekaligus menjaga keberlanjutan budaya,” tutur Irene. Ia berharap, dengan komitmen bersama, seni ukir Indonesia bisa menjadi bagian dari kancah global yang memperkuat identitas bangsa sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.