Historic Moment: Wamendagri Bima Arya sebut Museum SBY-Ani Pacitan berkelas dunia

Wamendagri Bima Arya Sebut Museum SBY-Ani Pacitan Berkelas Dunia

Pacitan, Jawa Timur

Historic Moment – Pacitan, Jawa Timur, menjadi tempat yang dipilih oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) RI Bima Arya Sugiarto untuk melakukan kunjungan kerja dalam dua hari. Pada hari Sabtu, mantan gubernur DKI Jakarta ini mengekspresikan kepuasan terhadap Museum dan Galeri Seni SBY-Ani yang berada di wilayah tersebut. Menurutnya, museum ini tidak hanya menawarkan pengalaman yang unik, tetapi juga telah mencapai tingkat kualitas yang bisa dibandingkan dengan institusi serupa di tingkat global.

Museum SBY-Ani, yang didirikan oleh mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, telah menjadi pusat perhatian bagi pengunjung lokal maupun internasional. Bima Arya menegaskan bahwa konsep pengembangan museum ini memadukan seni dan sejarah secara harmonis, menciptakan ruang yang tidak hanya edukatif, tetapi juga menarik secara estetika. Dalam perjalanan kunjungan, ia mengatakan bahwa waktu yang dihabiskan sekitar dua jam untuk mengelilingi museum tersebut terasa kurang, mengingat kekayaan yang ditawarkan.

“Museum ini memang menonjolkan kualitas internasional. Dua jam berkunjung terasa belum cukup untuk menikmati seluruh isi eksibisi,” ujar Bima Arya.

Kunjungan Wamendagri ini dilakukan bersamaan dengan turut serta istrinya dan didampingi oleh Wakil Bupati Pacitan Gagarin Sumrambah. Dalam rombongan tersebut, juga terdapat para anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta Sekretaris Daerah Pacitan Heru Wiwoho. Selama dua hari, Bima Arya tidak hanya mengeksplorasi museum, tetapi juga mengunjungi berbagai destinasi wisata dan infrastruktur di Pacitan, yang telah menjadi prioritas dalam pengembangan pariwisata.

Bima Arya menyebutkan bahwa museum ini merupakan bukti nyata dari upaya pengembangan budaya dan sejarah di daerah-daerah Indonesia. “Pacitan memiliki potensi yang luar biasa, dan Museum SBY-Ani adalah salah satu contoh kesuksesan dalam menjadikan kota ini sebagai pusat budaya,” katanya. Ia juga menyoroti peran SBY, yang merupakan putra daerah Pacitan, dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan sejarah melalui karya seni dan arsitektur yang memikat.

Sementara itu, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji mengungkapkan bahwa kota ini memiliki banyak keunikan yang bisa menarik perhatian wisatawan dari berbagai penjuru negeri. Ia menekankan bahwa Pacitan tidak hanya terkenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena pengembangan pariwisata yang terencana. “Pacitan memiliki berbagai destinasi, terutama pantai yang sangat menarik,” ujarnya.

Bayuaji menambahkan bahwa salah satu daya tarik utama Pacitan adalah sebutan “70 Mile Sea Paradise” yang diperkenalkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Nama ini menjadi pengakuan terhadap kekayaan alam dan potensi pariwisata yang dimiliki kota ini. Selain pantai, Pacitan juga menawarkan destinasi wisata gua dan sumber air panas, yang dianggap sebagai bentuk keunikan lain yang bisa dikembangkan lebih lanjut.

Dalam wawancara dengan media, Bayuaji menjelaskan bahwa sejumlah lokasi seperti Goa Sima dan Air Panas Gedeg merupakan atraksi yang sangat diminati oleh pengunjung. “Goa Sima adalah salah satu gua terindah di Asia Tenggara, sementara Air Panas Gedeg menjadi tempat relaksasi yang populer,” katanya. Ia berharap kunjungan Wamendagri Bima Arya akan memperkuat eksposisi kota Pacitan sebagai destinasi wisata yang kompetitif di tingkat nasional.

Bima Arya, selama perjalanan kerjanya, juga menyoroti pengelolaan wisata di Pacitan yang canggih. Ia menyebut bahwa pengunjung tidak hanya dibawa ke dalam sejarah, tetapi juga dapat merasakan budaya lokal yang hidup. “Ini bukan hanya museum, tapi ruang yang memperkenalkan identitas Pacitan kepada dunia,” ujarnya. Dengan infrastruktur yang terus berkembang, ia percaya kota ini memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu tempat pariwisata unggulan di Indonesia.

Kunjungan Wamendagri ini juga menjadi momentum untuk menjalin kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam memajukan pariwisata. Bima Arya mengatakan bahwa pengelolaan museum dan destinasi wisata lainnya perlu terus ditingkatkan untuk mewujudkan visi pariwisata yang berkelanjutan. “Kami harus berkolaborasi dan memastikan pengunjung merasa nyaman serta mendapat pengalaman yang memuaskan,” katanya.

Sebagai salah satu kota pesisir di Jawa Timur, Pacitan telah menjadi salah satu favorit bagi pengunjung yang mencari keindahan alam dan sejarah. Bima Arya mengakui bahwa kota ini memiliki potensi yang belum sepenuhnya dieksplorasi, terutama dalam bidang seni dan budaya. “Pacitan adalah kota yang memiliki visi jangka panjang, dan museum ini adalah salah satu bagian dari perjalanan itu,” tambahnya.

Dalam kunjungan kerjanya, Bima Arya juga mengajak pihak lokal untuk terus mengembangkan inisiatif-inisiatif yang bisa meningkatkan daya tarik Pacitan. Ia menekankan pentingnya inovasi dalam menyajikan seni dan budaya kepada masyarakat. “Selain museum, Pacitan juga perlu memperkenalkan atraksi lain yang bisa menarik perhatian wisatawan,” ujarnya. Hal ini menjadi bahan diskusi antara Wamendagri dan tim Forkopimda setelah melihat berbagai fasilitas yang telah ada.

Pacitan, sebagai kota yang sudah terkenal, berharap bisa menjadi destinasi yang lebih dikenal di tingkat nasional bahkan internasional. Bima Arya menyampaikan bahwa Museum SBY-Ani adalah salah satu dari sekian banyak inisiatif yang membantu mewujudkan hal itu. “Museum ini bukan hanya simbol, tetapi juga bentuk komitmen untuk mengangkat budaya dan sejarah,” katanya. Ia berharap pengunjung bisa mengapresiasi nilai-nilai yang ada di dalam museum dan mendorong pengembangan lebih lanjut.

Dalam kesempatan tersebut, Gagarin Sumrambah, Wakil Bupati Pacitan, menegaskan bahwa pemerintah daerah siap memberikan dukungan maksimal untuk pengembangan Museum SBY-Ani. Ia menambahkan bahwa museum ini menjadi pengingat akan pentingnya memadukan kebudayaan dengan teknologi modern. “Ini adalah langkah penting dalam membangun destinasi yang tidak hanya menarik, tetapi juga bermakna,” ujarnya.

Terlepas dari Museum SBY-Ani, Pacitan juga memiliki berbagai bentuk kebudayaan dan tradisi yang bisa dipromosikan lebih luas. Bayuaji menjelaskan bahwa keberadaan museum ini menjadi ajang untuk menyatukan berbagai aset pariwisata yang ada. “Kita bisa memanfaatkan museum sebagai pintu masuk untuk mengenalkan keunikan lainnya di Pacitan,” katanya. Dengan ekosistem wisata yang terpadu, kota ini bisa menjadi contoh bagus dalam pariwisata berbasis budaya.