Komisi VII DPR dorong daerah lain tiru inovasi Adeging Mangkunegaran

Komisi VII DPR Dorong Daerah Lain Tiru Inovasi Adeging Mangkunegaran

Komisi VII DPR dorong daerah lain – Jakarta – Kebudayaan dan inovasi menjadi dua aspek yang terus dipertahankan sebagai pendorong utama pembangunan daerah. Dalam konteks ini, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia menekankan pentingnya mencontoh model yang telah terbukti sukses, seperti Adeging Mangkunegaran, dalam meningkatkan perekonomian lokal melalui kegiatan budaya yang kreatif. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan warisan budaya, tetapi juga menjadi sarana yang efektif untuk menggerakkan sektor ekonomi masyarakat.

Dalam sebuah wawancara di Jakarta, Selasa, Chusnunia menyampaikan bahwa Adeging Mangkunegaran telah menjadi contoh nyata bagaimana budaya dapat diintegrasikan dengan bentuk-bentuk modern untuk menciptakan pengalaman yang berkesan. “Kesuksesan event ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain yang sedang berusaha meningkatkan pariwisata mereka,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa inisiatif ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal bisa bertransformasi menjadi bentuk ekonomi yang lebih dinamis.

“Adeging Mangkunegaran tidak lagi sekadar seremoni budaya, melainkan menjadi model kolaborasi yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil,” kata Chusnunia.

Kemitraan antara pemerintah daerah dengan berbagai pihak, termasuk pelaku usaha, menjadi kunci utama dalam memperkuat dampak ekonomi event tersebut. Chusnunia menjelaskan bahwa Adeging Mangkunegaran telah membuktikan bahwa penggabungan budaya dengan element-elemen modern seperti kuliner dan olahraga mampu menarik perhatian masyarakat luas. Dengan pendekatan ini, kegiatan budaya tidak hanya sekadar menyenangkan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi.

Dalam penyelenggaraan ke-269, event Adeging Mangkunegaran di Kota Surakarta menampilkan berbagai kegiatan yang terpadu. Rangkaian acara meliputi Mangkunegaran Makan-Makan, yang menampilkan lebih dari 80 stan kuliner tradisional, serta Royal Heritage Dinner yang dihadiri sekitar 150 tamu. Selain itu, ada Mangkunegaran Run, sebuah lomba lari yang menarik partisipasi dari 7.700 pelari di tiga kategori, yaitu 5K, 10K, dan half marathon. “Kombinasi ini menciptakan pengalaman yang menyeluruh, menggabungkan aktivitas fisik, budaya, dan interaksi sosial,” jelasnya.

Dari segi dampak ekonomi, Chusnunia menyebutkan bahwa event tersebut berhasil menghasilkan perputaran lebih dari Rp40 miliar. Angka ini mencerminkan bagaimana partisipasi masyarakat yang besar, baik dari dalam maupun luar daerah, dapat memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian setempat. “Para pelaku UMKM pun mendapatkan peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas,” tambahnya.

Menurut Chusnunia, keberhasilan Adeging Mangkunegaran tidak hanya terletak pada jumlah peserta dan pengunjung, tetapi juga pada cara penyelenggaraannya yang menarik. Event ini memiliki tema “From Culture For Future,” yang menggambarkan upaya membangun masa depan dengan memanfaatkan warisan budaya. “Kita bisa melihat bagaimana kreativitas dan inovasi diintegrasikan dalam setiap aspek acara ini,” ujarnya.

“Indonesia kaya akan budaya, dan dengan inovasi yang tepat, kita bisa menciptakan daya tarik yang menarik minat banyak orang,” tutur Chusnunia.

Chusnunia juga menyoroti pentingnya dukungan dari pemerintah pusat untuk memperluas pelaksanaan model serupa di daerah lain. “Kementerian Pariwisata harus terus mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini agar dampak ekonominya bisa dirasakan oleh lebih banyak lapisan masyarakat,” katanya. Ia berharap dengan kolaborasi yang lebih intensif, pariwisata berbasis budaya bisa menjadi industri utama yang memberikan manfaat jangka panjang.

Adeging Mangkunegaran, yang diselenggarakan di istana kepresidenan Joko Widodo, memiliki sejarah panjang sebagai tradisi tahunan yang dirayakan sejak 1973. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, acara ini diubah menjadi format yang lebih menarik, dengan menambahkan elemen-elemen baru yang relevan dengan tuntutan zaman sekarang. “Mangkunegaran Run dan Mangkunegaran Makan-Makan menunjukkan bagaimana kegiatan budaya bisa dimodernisasi tanpa menghilangkan esensi tradisinya,” tambahnya.

Chusnunia mengingatkan bahwa pariwisata berbasis budaya bukan hanya tentang atraksi yang menarik, tetapi juga tentang keberlanjutan dan keterlibatan masyarakat. “Dengan menjadikan budaya sebagai penggerak ekonomi, kita bisa menciptakan pola pengembangan yang lebih inklusif,” ujarnya. Selain itu, ia juga menekankan bahwa acara ini mendorong partisipasi aktif dari berbagai kalangan, dari pelaku UMKM hingga turis dari luar kota.

Menurut Chusnunia, keberhasilan Adeging Mangkunegaran memberikan gambaran bahwa kegiatan budaya dapat menjadi sarana yang kuat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Selama dua ratus enam puluh sembilan tahun, acara ini terus beradaptasi dengan tuntutan masyarakat, dan hasilnya sangat positif,” jelasnya. Ia juga menyampaikan bahwa perlu adanya kebijakan yang mendukung inovasi-inovasi serupa di berbagai wilayah Indonesia.

“Dengan meniru model ini, daerah lain bisa menciptakan event yang tidak hanya menarik, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Kemitraan antara pemerintah daerah dengan masyarakat, seperti yang terlihat dalam Adeging Mangkunegaran, merupakan contoh bagus tentang kolaborasi yang produktif. Dalam kegiatan tersebut, berbagai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diikutsertakan sebagai bagian dari pameran kuliner dan seni. “Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi lokal tidak bisa berkembang tanpa partisipasi aktif masyarakat,” katanya.

Chusnunia menambahkan bahwa inisiatif seperti Adeging Mangkunegaran harus terus dikembangkan agar menjadi contoh yang bisa diaplikasikan di daerah-daerah lain. “Indonesia memiliki potensi besar dalam pariwisata berbasis budaya, dan dengan keberanian menambahkan element modern, kita bisa memperkuat daya tarik acara ini,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa event ini berpotensi menjadi model bagi kegiatan serupa di kota-kota besar lain, seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Dalam konteks pariwisata nasional, Chusnunia menilai bahwa Adeging Mangkunegaran adalah salah satu acara yang paling inovatif. “Dengan menggabungkan tradisi dengan kegiatan modern, event ini mampu memikat perhatian puluhan ribu pengunjung setiap tahun,” ujarnya. Ia berharap keberhasilan ini bisa menjadi awal dari peningkatan pariwisata di berbagai daerah, terutama yang memiliki kekayaan budaya unik.

Chusnunia menekankan bahwa keberlanjutan pariwisata tidak hanya bergantung pada jumlah pengunjung, tetapi juga pada bagaimana kegiatan tersebut bisa memberikan manfaat jangka panjang. “Dengan membangun hubungan yang kuat antara masyarakat dan kegiatan budaya, kita bisa menciptakan pariwisata yang lebih berkelanjutan,” jelasnya. Ia berharap Kementerian Pariwisata bisa menjadi mitra yang mendukung model ini dengan sumber daya dan kebijakan yang tepat.

Sebagai penutup, Chusnunia menyampaikan bahwa Adeging Mangkunegaran adalah bukti nyata bahwa inovasi dalam pariwisata dapat menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan. “Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan masyarakat, pariwisata berbasis budaya bisa menjadi sektor utama dalam pembangunan ekonomi,” katanya. Ia berharap daerah lain bisa meniru inovasi ini agar dapat menikmati manfaat yang sama dalam pengembangan pariwisata dan perekonomian daerah mereka.