Solution For: Pengawasan BPOM setara dengan standar internasional

Pengawasan BPOM Setara dengan Standar Internasional

Solution For –

Jakarta – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menyatakan bahwa standar pengawasan yang dijalankan lembaga tersebut dalam memastikan kualitas produk obat, makanan, dan kosmetik telah mencapai tingkat yang kompetitif dengan standar internasional. Hal ini didukung oleh pengakuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui status WHO Listed Authority (WLA), yang menjadi bukti bahwa BPOM telah memenuhi kriteria global dalam pengawasan produk kesehatan. “Kita sudah meraih pengakuan sebagai WHO Listed Authority, WLA. Ini baru diperoleh bulan Desember tahun lalu,” ujar Taruna saat ditemui di Jakarta, Rabu.

Kepastian Standar Internasional untuk Keamanan Produk

Menurut Taruna, status WLA menunjukkan bahwa BPOM memiliki standar yang sama dengan lembaga pengawas kesehatan di berbagai negara maju. “Standar keamanan, stabilitas, kewaspadaan, serta otoritas pemasaran produk kita telah diakui oleh lembaga internasional seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat, European Medical Agency, PMDA Jepang, Minister of Food and Drug Safety Korea Selatan, PGA Australia, dan HAA Singapura,” tambahnya.

Kepastian ini memastikan bahwa produk yang telah mendapatkan izin edar BPOM memiliki kualitas yang sejajar dengan produk asing. Dengan standar pengawasan yang konsisten, produk dalam negeri tidak lagi perlu diragukan keandalannya. “Dari segi keamanan, efikasi, dan kualitas, produk lokal yang lolos BPOM bisa bersaing secara global,” jelas Taruna.

Langkah Strategis untuk Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat

Taruna juga menekankan pentingnya masyarakat Indonesia mempercayai produk yang telah diuji dan disetujui oleh BPOM. Menurutnya, kepercayaan ini menjadi fondasi untuk membangun industri dalam negeri yang mampu menguasai pasar domestik dan internasional. “Kita perlu memastikan masyarakat mengenali bahwa produk yang dilewatkan BPOM sudah memenuhi standar yang sama dengan produk luar negeri,” ujarnya.

Menyusul keinginan produsen kosmetik di Indonesia menciptakan tren kecantikan yang khas, yakni I-Beauty, Taruna mengatakan bahwa BPOM siap mendukung upaya ini. Ia menyebutkan bahwa pengakuan internasional menjadi momentum penting untuk mendorong industri lokal. “Tujuan kita adalah menggeser tren K-Beauty. Mungkin dalam 10 tahun ke depan, kita bisa menciptakan I-Beauty, yang merupakan wujud kecantikan ala Indonesia,” ungkapnya.

Menurut Taruna, produk Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah dengan brand internasional. Meski saat ini masih menghadapi tantangan dalam menyaingi produk asing, ia yakin keunggulan lokal bisa dijaga dengan pengawasan yang ketat. “Kita harus yakin bahwa produk dalam negeri mampu mengisi kebutuhan pasar dengan kualitas terbaik,” tambahnya.

Kompetisi Tren Kecantikan Nasional vs Internasional

Dalam konteks ini, CEO Martha Tilaar Group, Kilala Tilaar, menyatakan bahwa industri kosmetik Indonesia memiliki ambisi untuk menciptakan identitas unik yang bisa diterima secara global. “Mimpi kami bersama di Perkosmi adalah menumbuhkan I-Beauty sebagai representasi kecantikan Indonesia,” ujarnya.

Kilala Tilaar menilai bahwa produk dalam negeri tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mampu menawarkan inovasi dan keunikan yang membedakannya dari pesaing luar. “Meski saat ini masih ada tantangan, kita punya kemampuan untuk berkembang dan menjadi bagian dari pasar global,” katanya.

Menurut Kilala, pengakuan internasional seperti WLA dari BPOM menjadi bahan motivasi bagi industri dalam negeri. Ia berharap keberhasilan ini bisa menjadi batu loncatan untuk menegaskan kembali kredibilitas produk Indonesia. “Dengan standar yang setara, kita bisa meyakinkan dunia bahwa produk lokal layak bersaing,” jelasnya.

Industri Kosmetik Lokal dan Dukungan Regulasi

Kilala Tilaar menambahkan bahwa pengawasan BPOM bukan hanya tentang memastikan keselamatan produk, tetapi juga sebagai alat untuk memperkuat brand nasional. “Ini menjadi jaminan bahwa produk yang ada di pasaran sudah melalui uji coba yang ketat, sehingga konsumen bisa yakin dengan keamanan dan kualitasnya,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan I-Beauty tidak hanya bergantung pada kualitas produk, tetapi juga pada konsistensi pengawasan dan inovasi. “Kita perlu terus meningkatkan standar produksi, serta memperkenalkan konsep yang sesuai dengan budaya dan kebutuhan masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya ini, Kilala Tilaar menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, produsen, dan pelaku industri. “Dengan dukungan dari BPOM, kita bisa membangun industri yang berkelanjutan dan berdaya saing,” katanya.

Visi Masa Depan dan Persaingan Global

Taruna Ikrar juga mengungkapkan bahwa BPOM terus berupaya meningkatkan kapasitasnya untuk menghadapi tantangan global. “Kita sedang membangun sistem yang lebih canggih, agar bisa mengakomodasi kebutuhan pasar yang semakin dinamis,” ujarnya.

Dengan visi ini, BPOM berharap industri kosmetik dalam negeri bisa meraih posisi sebagai pemain utama di Asia Tenggara. “Kita ingin menunjukkan bahwa produk Indonesia bisa menjadi pilihan terbaik bagi konsumen lokal maupun internasional,” kata Taruna.

Kilala Tilaar menambahkan bahwa keberhasilan I-Beauty akan menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menciptakan tren kecantikan yang berbeda dari K-Beauty. “Kita tidak perlu mengikuti jejak orang lain. Cukup dengan mengembangkan konsep yang sesuai dengan keunikan budaya dan alam Indonesia, produk lokal bisa menarik perhatian dunia,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, menurut Kilala, pengakuan internasional akan memperkuat daya tarik produk dalam negeri di pasar global. “Kita perlu membangun merek yang kuat, sehingga konsumen di luar negeri pun mulai mengenali produk Indonesia,” katanya.

Taruna Ikrar menutup wawancara dengan harapan masyarakat lebih sadar akan pentingnya pengawasan BPOM. “Dengan kredibilitas ini, produk dalam negeri bisa bersinar di tingkat nasional dan internasional,” ujarnya.