Solving Problems: Disbud paparkan alasan penggunaan EO pada Pesta Kesenian Bali kali ini

Disbud Paparkan Alasan Penggunaan EO pada Pesta Kesenian Bali Kali Ini

Solving Problems – Denpasar – Ida Bagus Alit Suryana, kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali, memberikan penjelasan mengenai penggunaan jasa Event Organizer (EO) dalam penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026. Ini menjadi langkah pertama dalam sejarah acara tersebut. “Kami melakukan ini berdasarkan evaluasi dari pelaksanaan PKB sebelumnya. Tahun lalu, seniman mengeluhkan proses pembayaran yang memakan waktu lama,” ujarnya di Denpasar, Rabu. Tujuan utama dari penggunaan EO, menurut Alit, adalah untuk meningkatkan efisiensi administrasi serta memastikan penghargaan lebih baik kepada seniman.

Penggunaan EO untuk Mempercepat Proses

Menjawab berbagai pertanyaan masyarakat mengenai alasan mengadopsi sistem EO pada PKB 2026, Alit Suryana menjelaskan bahwa keputusan ini diambil untuk menyelesaikan kendala yang sering terjadi dalam tahun-tahun sebelumnya. Dalam penyelenggaraan tahun lalu, para seniman terkadang menunggu lama hingga pembayaran bisa dicairkan. Dengan adanya EO, menurutnya, administrasi dan distribusi dana akan lebih cepat. “Sistem ini bisa mempercepat proses pembayaran karena EO bertugas menalangi biaya setelah seniman menyelesaikan pertunjukan,” terang Alit.

Perbaikan Kualitas Layanan Teknis

Terlepas dari manfaat administratif, Alit Suryana menegaskan bahwa penggunaan EO juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan teknis. Dalam PKB 2026, disbud Bali akan menghadirkan pola baru yang lebih terstruktur. Fokus utama dari perubahan ini adalah pengelolaan panggung, pencahayaan, dan sistem pengeras suara yang lebih profesional. “Kami ingin semua aspek teknis dikelola secara lebih baik agar seniman dapat tampil optimal,” kata dia.

Di sisi lain, Adanya EO diharapkan bisa memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi para pelaku seni. Dengan sistem yang lebih tertata, para seniman tidak lagi kebingungan dalam mengurus administrasi atau menunggu dana. Alit Suryana menjelaskan bahwa keputusan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap karya dan partisipasi seniman dalam acara tahunan yang menjadi ajang kebanggaan budaya Bali. “PKB itu diadakan untuk memajukan seni dan budaya, jadi kami ingin para peserta merasa lebih dihargai,” ucapnya.

Respon terhadap Kritik Masyarakat

Kritik masyarakat terhadap penggunaan EO terutama berkaitan dengan kekhawatiran adanya permainan uang dalam proses pembayaran. Beberapa orang mempertanyakan apakah penggunaan EO akan mengakibatkan pengelolaan dana yang tidak transparan, terutama karena pembayaran dilakukan secara kolektif. Alit Suryana menjelaskan bahwa kekhawatiran tersebut sudah diperhatikan. “Penunjukan EO dilakukan melalui mekanisme e-purchasing, sehingga transparansi dan kejelasan sistem terjaga,” katanya.

Lebih lanjut, Alit Suryana menegaskan bahwa proses penunjukan perusahaan EO tidak hanya berdasarkan kriteria teknis, tetapi juga melalui evaluasi terhadap kelayakan pengelolaan. “PKB 2026 adalah bagian dari upaya kami untuk menjadikan acara ini lebih modern dan efisien. Namun, kami tetap memastikan bahwa kerja sama dengan EO diatur sesuai dengan mekanisme pengadaan yang sudah berlaku,” tambahnya.

PKB 2026 Bertajuk “Atma Kerti: Jiwa Sidha Parisudha”

PKB 2026 yang akan digelar pada bulan Juni mendatang, akan menggunakan tema “Atma Kerti: Jiwa Sidha Parisudha.” Tema ini dirancang untuk menggambarkan esensi kebudayaan Bali yang kental dengan nilai-nilai tradisional. Alit Suryana mengatakan tema tersebut tidak hanya menjadi dasar penyelenggaraan acara, tetapi juga memperkuat penghargaan terhadap seniman sebagai pusat dari perhelatan tersebut.

Dalam kesempatan ini, Disbud Bali berharap seluruh aspek kegiatan bisa dikelola lebih rapi dan profesional. Hal ini diperlukan agar kualitas tampilan seniman tidak terganggu oleh masalah teknis. “Dengan sistem yang lebih terorganisir, kita bisa fokus pada kualitas karya seni dan pengalaman para peserta,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari rencana pengembangan PKB menjadi acara yang lebih besar dan berpengaruh.

Pengelolaan Dana dan Transparansi

Masyarakat terus mengamati dampak dari penggunaan EO pada PKB 2026. Terutama, mereka ingin memastikan bahwa dana yang dialokasikan tidak digunakan secara tidak tepat. Alit Suryana memastikan bahwa seluruh proses pembayaran akan diawasi secara ketat. “Kami menggunakan EO untuk memudahkan pengelolaan, tetapi dana tetap dihitung secara terbuka dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Menurut Alit Suryana, penunjukan EO melalui e-purchasing tidak hanya untuk mempercepat proses, tetapi juga untuk menjaga integritas dan keadilan dalam penggunaan dana. “Sistem ini menghindari praktik yang bisa memicu tindakan tidak pantas, karena semua keputusan dibuat berdasarkan kriteria yang jelas,” ujarnya. Dengan pendekatan ini, Disbud Bali berharap masyarakat bisa lebih percaya dan antusias terhadap penyelenggaraan PKB 2026.

Sebagai bagian dari rencana ini, Disbud Bali juga menyiapkan pengawasan yang lebih ketat terhadap pengelolaan EO. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan berjalan sesuai dengan visi dan misi acara. “PKB tidak hanya tentang pertunjukan, tetapi juga tentang pengelolaan yang baik dan tanggung jawab penuh,” tutur Alit. Ia menambahkan bahwa penggunaan EO bukanlah tanda pengunduran diri dari peran Disbud, tetapi bagian dari upaya meningkatkan kualitas secara keseluruhan.

Dengan adanya EO, Disbud Bali berharap bisa menghadirkan perbedaan nyata dalam penyelenggaraan PKB. Masyarakat, seniman, dan pengelola acara diharapkan merasa lebih terbantu. Alit Suryana menyatakan bahwa langkah ini adalah bagian dari inovasi dalam sistem penyelenggaraan kebudayaan. “Kami ingin PKB bisa menjadi wadah yang lebih baik, lebih profesional, dan lebih berkelanjutan,” ucapnya.

Langkah Baru dalam Peningkatan Layanan

Adopsi EO pada PKB 2026 dianggap sebagai bagian dari reformasi dalam layanan publik. Dengan sistem yang lebih terpadu, Disbud Bali berharap bisa meningkatkan kualitas pertunjukan dan memperbaiki citra acara. “Kami ingin PKB tidak hanya tetap menjadi acara budaya, tetapi juga menjadi contoh bagaimana layanan bisa ditingkatkan melalui pendekatan yang lebih sistematis,” jelas Alit.

Dalam kesimpulan, Alit Suryana mengatakan bahwa penggunaan EO adalah langkah yang penting untuk memastikan kenyamanan dan kualitas dalam penyelenggaraan PKB. “Ini bukan hanya untuk efisiensi, tetapi juga untuk memberikan pengalaman terbaik kepada para seniman yang terlibat,” katanya. Dengan demikian, PKB 2026 diharapkan bisa menjadi acara yang lebih terarah dan berdampak positif bagi dunia seni Bali.