BPS: Pertumbuhan penduduk Jatim melambat lima tahun terakhir
BPS: Pertumbuhan Penduduk Jatim Melambat Lima Tahun Terakhir
BPS – Surabaya, Jawa Timur, ANTARA – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan data dari Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, yang menunjukkan perlambatan laju pertumbuhan penduduk di Jawa Timur selama lima tahun terakhir. Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur Nurul Adriana mengatakan bahwa laju pertumbuhan penduduk menurun sebesar 0,06 persen poin dibandingkan periode 2010-2020, yang mencatatkan angka 0,79 persen per tahun.
Populasi Jatim Tahun 2025
Menurut hasil SUPAS 2025, jumlah penduduk Jawa Timur pada tahun 2025 mencapai 42,11 juta jiwa. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yaitu 2020 hingga 2025, populasi provinsi ini meningkat sekitar 1.445,42 ribu jiwa. Meski ada peningkatan, laju pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan era sebelumnya. Perbandingan antara SUPAS 2025 dan Sensus Penduduk 2020 menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk mengalami penurunan, dengan angka sebesar 0,73 persen per tahun.
Perubahan Struktur Umur Penduduk
Analisis data juga menunjukkan pergeseran dalam distribusi usia penduduk Jawa Timur. Dari total populasi 42,11 juta jiwa, sekitar 49,84 persen adalah laki-laki, sedangkan 50,16 persen merupakan perempuan. Kategori usia produktif, yaitu 15-64 tahun, menempati proporsi 69,28 persen, meningkat dari 68,34 persen pada Sensus Penduduk 2010. Di sisi lain, persentase penduduk usia 0-14 tahun turun menjadi 20,57 persen, dibandingkan 24,59 persen pada 2010. Sementara kelompok usia 65 tahun ke atas mengalami kenaikan signifikan, dari 7,07 persen menjadi 10,15 persen.
Generasi Milenial dan Z Mendominasi
Secara generasi, generasi milenial menjadi kelompok terbesar di Jawa Timur, dengan persentase 23,64 persen. Kelompok ini diikuti oleh Generasi Z, yang berada di angka 22,69 persen. Kombinasi dua generasi tersebut mencakup hampir separuh populasi provinsi, menunjukkan pergeseran struktur usia yang berdampak pada dinamika sosial dan ekonomi daerah. Nurul Adriana menambahkan bahwa hal ini mencerminkan dominasi penduduk yang termasuk dalam kelompok produktif saat ini.
“Dominasi generasi produktif ini mengindikasikan adanya perubahan dalam pola hidup dan kontribusi terhadap perekonomian Jawa Timur,” ujar Nurul Adriana dalam konferensi pers di Surabaya, Selasa.
Menurut data, kontribusi empat generasi lainnya mencapai 53,67 persen dari total populasi. Ini terdiri dari Generasi X (21,86 persen), Post Generasi Z (17,18 persen), Generasi Baby Boomer (13,08 persen), dan Pre-Boomer (1,55 persen). Perbedaan antar kelompok generasi menggambarkan variasi karakteristik demografis, seperti perbedaan tingkat pendidikan, pekerjaan, dan kebiasaan hidup.
Kondisi Fertilitas dan Mortalitas
Dalam hal reproduksi, Angka Kelahiran Total (TFR) Jawa Timur mencatatkan angka 1,95, turun dari 1,98 pada Sensus Penduduk 2020. Surabaya menjadi kota dengan TFR terendah, sebesar 1,70, sementara Kabupaten Sampang mengukuhkan statusnya sebagai daerah dengan TFR tertinggi, mencapai 2,25. Perbedaan ini dianggap mencerminkan perbedaan dalam faktor sosial, budaya, ekonomi, dan akses layanan kesehatan reproduksi antar wilayah.
Sementara itu, Angka Kematian Bayi (IMR) Jawa Timur mencapai 11,84 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Kota Surabaya menunjukkan IMR terendah, yaitu 9,95, sedangkan Kabupaten Bondowoso menjadi daerah dengan IMR tertinggi, mencapai 16,74. Perbedaan ini mungkin terkait dengan kualitas pelayanan kesehatan, akses fasilitas medis, dan kondisi ekonomi di masing-masing daerah.
Analisis Sosial dan Ekonomi
Perlahan tapi pasti, struktur demografis Jawa Timur mengalami perubahan yang menarik. Penurunan proporsi penduduk usia nonproduktif sekaligus kenaikan kelompok usia 65 tahun ke atas menunjukkan bahwa populasi provinsi ini semakin menua. Hal ini dapat memengaruhi kebutuhan akan layanan kesehatan, pensiun, dan perencanaan kota di masa depan. Sementara itu, dominasi generasi muda dalam populasi menciptakan potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih dinamis.
Dari sisi kelahiran, penurunan TFR selama lima tahun terakhir menunjukkan pergeseran pola reproduksi penduduk. Daerah dengan TFR lebih tinggi, seperti Sampang, mungkin menunjukkan adanya kebiasaan sosial yang lebih tradisional, sementara kota-kota besar seperti Surabaya menunjukkan tren kelahiran yang lebih rendah, terkait dengan faktor urbanisasi dan akses informasi.
Adapun perbandingan antara SUPAS 2025 dan SP2010 menunjukkan bahwa Jawa Timur terus mengalami peningkatan jumlah penduduk, tetapi kecepatannya melambat. Pertumbuhan yang sebelumnya berkisar antara 0,79 persen per tahun kini berada di angka 0,73 persen. Perbedaan ini perlu dianalisis lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi dinamika demografis provinsi ini.
Impak pada Masa Depan
Perubahan struktur demografis ini berpotensi mengubah pola konsumsi, distribusi sumber daya, dan kebutuhan infrastruktur di Jawa Timur. Adanya peningkatan populasi usia produktif dapat menjadi peluang untuk mengembangkan sektor-sektor yang mengandalkan tenaga kerja, seperti manufaktur, pertanian, dan layanan. Namun, peningkatan usia pensiun juga membutuhkan persiapan
