BPBD Sigi catat korban meninggal akibat gempa bumi jadi 3 orang

BPBD Sigi Perbarui Jumlah Korban Meninggal Akibat Gempa Bumi

Penjelasan BPBD Mengenai Kenaikan Angka Kematian

BPBD Sigi catat korban meninggal akibat – Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, melaporkan kenaikan jumlah korban jiwa akibat gempa bumi yang terjadi pada 16 Juni lalu. Hingga kini, total orang yang meninggal mencapai tiga individu. Data ini diperbarui oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, yang memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai dua korban tambahan yang dilaporkan. “Korban yang meninggal berasal dari dua desa berbeda, yaitu Desa Berdikari di Kecamatan Palolo dan Desa Kamarora A di Kecamatan Nokilalaki,” terang Ahmad Yani, Kepala Bidang Bencana BPBD Sigi, saat ditemui oleh media di Dolo, Kamis. Menurutnya, sebelumnya hanya ada satu korban yang tercatat dari Desa Ampera. Kenaikan jumlah korban meninggal ini berdampak pada perluasan kegiatan penanganan darurat yang dilakukan oleh pihak terkait.

“Dua korban tambahan berasal dari Desa Berdikari, Kecamatan Palolo, dan Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki. Sebelumnya yang meninggal itu dari Desa Ampera,” kata Ahmad Yani.

Dalam penjelasannya, Ahmad Yani menyebutkan bahwa korban dari Desa Berdikari memiliki riwayat penyakit sebelum gempa terjadi. “Saat gempa bumi, korban terjatuh dan mengalami serangan jantung, lalu dilarikan ke Rumah Sakit Bala Keselamatan di Kota Palu,” katanya. Meski korban tersebut sudah dilarikan ke rumah sakit, namun data pendataannya belum masuk ke dalam laporan awal. Hal ini menyebabkan korban tersebut belum sempat tercatat dalam jumlah keseluruhan. Di sisi lain, korban dari Desa Kamarora A mengalami benturan pada bagian perut saat gempa melanda. “Korban ini juga memiliki riwayat tumor, sehingga benturan yang dialaminya diduga memperparah kondisi kesehatannya,” ujarnya.

Penanganan Medis Korban Gempa

Menurut Ahmad Yani, kedua korban telah menerima penanganan medis setelah kejadian. “Kedua korban dilarikan ke rumah sakit, baik RSUD Torabelo maupun RS Bala Keselamatan Palu,” terangnya. Proses pendataan korban masih berlangsung, sehingga angka kematian bisa saja berubah tergantung dari hasil evaluasi lebih lanjut. Dalam konteks ini, BPBD Sigi terus berkoordinasi dengan tim medis dan pihak terkait untuk memastikan semua korban tercatat secara akurat.

Detail Kerusakan Fasilitas Umum

Selain korban meninggal, gempa bumi yang mengguncang Palu pada Selasa, 16 Juni 2021, juga menyebabkan kerusakan di sejumlah fasilitas umum. Dikatakan bahwa total jumlah bangunan rusak mencapai 84 unit, yang meliputi sekolah, rumah ibadah, kantor pemerintahan, puskesmas, serta jaringan air bersih. “Kerusakan pada fasilitas publik terjadi di berbagai tempat, termasuk beberapa titik strategis,” tambah Ahmad Yani. Berdasarkan data per 18 Juni, jumlah masyarakat yang terdampak mencapai 2.109 Kepala Keluarga (KK) dengan total 6.412 jiwa. Angka ini menunjukkan bahwa gempa tidak hanya mengakibatkan kerugian material, tetapi juga memengaruhi kehidupan sehari-hari warga setempat.

Kerusakan Rumah Warga di Sigi

Dalam hal infrastruktur, kerusakan rumah warga di Sigi tercatat sebanyak 1.652 unit. Pemecahan angka ini terdiri dari rumah rusak ringan sebanyak 1.472 unit, rusak sedang 111 unit, dan rusak berat 69 unit. Kerusakan tersebar di 38 desa yang berada dalam wilayah Kabupaten Sigi. “Rumah yang rusak mencakup berbagai jenis struktur, mulai dari rumah sederhana hingga bangunan dengan konstruksi lebih kompleks,” jelas Ahmad Yani. Ia menambahkan bahwa kondisi rumah warga terus dievaluasi oleh tim pemantauan untuk memastikan kebutuhan pemulihan dan penanganan darurat dapat segera dilayani.

Sejarah Gempa dan Dampaknya

Gempa bumi tektonik dengan magnitudo 6,7 mengguncang Palu pada pukul 10.27 WIB, Selasa, 16 Juni 2021. Peristiwa tersebut diumumkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai peringatan dini bagi masyarakat. Gempa ini menimbulkan gelombang tsunami yang mengakibatkan kerusakan parah di sejumlah area pesisir. Selain itu, guncangan yang terjadi juga memicu kerusakan pada jembatan, jalan raya, serta sistem distribusi energi. “Kerusakan pada infrastruktur umum ini memperparah dampak gempa, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan,” kata Ahmad Yani.

Kebutuhan penanganan darurat terus meningkat, karena selain korban meninggal, masih ada banyak warga yang terluka dan mengalami kehilangan benda pribadi. BPBD Sigi bersama dengan organisasi tanggap bencana lainnya sedang berusaha menyelesaikan proses pendataan dan menyalurkan bantuan kepada korban. “Kami berharap angka korban meninggal dapat dihitung secara lengkap dalam waktu dekat,” tutur Ahmad Yani. Ia juga mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi gempa berikutnya, terutama di wilayah yang memiliki risiko tinggi.

Kondisi setelah gempa menunjukkan adanya kebutuhan bantuan yang lebih besar, baik dalam hal logistik maupun layanan kesehatan. BPBD Sigi menyatakan bahwa data yang dikumpulkan hingga saat ini belum lengkap, sehingga angka korban bisa saja meningkat. “Proses pendataan masih berlangsung, dan kami terus mengumpulkan informasi dari lapangan,” ujar Ahmad Yani. Selain itu, upaya pemulihan infrastruktur dan rehabilitasi rumah warga menjadi prioritas utama dalam rencana pemulihan setelah bencana. Dalam konteks ini, BPBD Sigi berharap dukungan dari berbagai pihak dapat terus diberikan guna mempercepat pemulihan kondisi warga.

Kesimpulan dan Perkembangan Selanjutnya

Kebijakan dan respons yang diberikan oleh BPBD Sigi menunjukkan upaya yang intens untuk mengatasi dampak gempa bumi. Dengan adanya penambahan korban meninggal dan kerusakan pada fasilitas umum, BPBD menekankan perlunya kerja sama yang lebih luas dari instansi terkait. “Semua pihak harus berpartisipasi dalam upaya pemulihan dan penanganan korban,” tegas Ahmad Yani. Ia berharap data yang lebih akurat dapat segera diperoleh, sehingga rencana tindakan darurat dapat diperbaiki sesuai dengan kebutuhan warga. Gempa bumi ini menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat Sigi dan sekitarnya dalam menghadapi bencana alam