Facing Challenges: ESDM: Vulkanik dangkal dan tektonik jauh dominasi kegempaan Gunung Lokon

ESDM: Gempa Vulkanik Dangkal dan Tektonik Jauh Menjadi Dominan di Aktivitas Gunung Lokon

Facing Challenges – Kota Tomohon, Sulawesi Utara, menjadi fokus perhatian Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada periode 16 hingga 31 Mei 2026. Dalam laporan yang diterima ANTARA di Manado, Minggu, Pelaksana Tugas Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa gempa vulkanik dangkal serta gempa tektonik jauh tercatat sebagai jenis aktivitas yang paling sering terjadi di Gunung Lokon. Data gempa tersebut mencakup 36 kejadian gempa embusan, 11 gempa vulkanik dalam, dua gempa yang terasa dengan skala III MMI, dan 89 gempa tektonik jauh. Menurut Lana, peningkatan aktivitas vulkanik belum terdeteksi secara signifikan selama periode tersebut.

“Kegempaan di Gunung Lokon didominasi oleh gempa vulkanik dangkal (VB), sedangkan gempa vulkanik dalam (VA) masih langka,” ujar Lana Saria dalam laporan resmi. Ia menambahkan bahwa aktivitas seismik dan visual belum menunjukkan perubahan yang mengarah pada risiko lebih besar.

Observasi visual terhadap Gunung Lokon menunjukkan adanya hembusan asap berwarna putih tipis, dengan ketinggian maksimum mencapai sekitar 50 meter di atas kawah. Pada tanggal 29 Mei 2026, sinar api terlihat menyala dari dasar kawah, menandai kemungkinan adanya perubahan dalam intensitas kegiatan vulkanik. Namun, meski ada indikasi tersebut, peneliti mengklaim bahwa kondisi secara keseluruhan tetap stabil.

Secara geofisika, aktivitas vulkanik Gunung Lokon terutama bersifat dangkal, dengan gempa VB yang sering terjadi. Gempa VA, yang biasanya mengindikasikan pergerakan magma lebih dalam, hanya tercatat sebanyak 11 kali. Selain itu, gempa yang terasa di permukaan, dengan skala III MMI, terjadi dua kali, yang menunjukkan bahwa dampak getaran masih terbatas pada wilayah sekitar.

Penilaian Risiko dan Waspada Terhadap Ancaman

Berdasarkan analisis menyeluruh, ESDM menetapkan bahwa tingkat kegiatan Gunung Lokon masih berada pada Level II, atau status “Waspada”. Hal ini berarti bahwa masyarakat perlu lebih meningkatkan kewaspadaan, meskipun tidak ada indikasi kegawat darurat. Ancaman utama yang diungkapkan adalah kemungkinan pelepasan gas beracun dari kawah, yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Dalam situasi terburuk, terdapat risiko erupsi freatik, yaitu jenis letusan yang terjadi karena kontak antara uap panas magma dan air hidrotermal. Erupsi freatik dapat terjadi secara tiba-tiba dan memiliki potensi mengakibatkan kerusakan di sekitar kawah serta dampak lokal di wilayah pendakian. Oleh karena itu, masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan.

Rekomendasi dari Badan Geologi mencakup kebijakan untuk memastikan keamanan warga. Jika terjadi letusan dan hujan abu, masyarakat diimbau tetap berada di dalam rumah. Jika harus berada di luar, mereka disarankan menggunakan pelindung seperti masker untuk hidung dan mulut, serta kacamata untuk melindungi mata dari partikel abu. Upaya ini bertujuan mengurangi risiko paparan gas beracun dan partikel vulkanik yang berbahaya.

Kota Tomohon, yang berada di sekitar Gunung Lokon, juga diberi peringatan khusus terkait potensi banjir lahar. Hal ini karena adanya alur sungai yang berhulu dari puncak gunung. Selama musim penghujan atau saat hujan deras terjadi di puncak, air hujan bisa berpadu dengan material vulkanik, membentuk aliran panas yang mengancam daerah dataran rendah. Oleh karena itu, warga yang tinggal di dekat alur sungai perlu siap menghadapi situasi ini.

Analisis kegempaan dan aktivitas vulkanik menunjukkan bahwa kejadian gempa vulkanik dangkal terjadi secara teratur, namun tidak ada tanda-tanda peningkatan signifikan yang bisa dianggap sebagai tanda-tanda erupsi besar. Konsistensi gempa VB menunjukkan bahwa magma masih bergerak di dekat permukaan, namun tidak sampai memicu perubahan signifikan dalam struktur gunung.

Kegiatan seismik juga menjadi indikator penting dalam memantau Gunung Lokon. Gempa tektonik jauh, yang biasanya tidak langsung terkait dengan aktivitas vulkanik, tercatat sebanyak 89 kali. Meski frekuensinya tinggi, gempa jenis ini dianggap lebih stabil dan tidak berpotensi menyebabkan kerusakan serius di daerah sekitar. Dengan demikian, peringatan Level II lebih berfokus pada potensi ancaman dari aktivitas vulkanik itu sendiri.

ESDM terus memantau Gunung Lokon secara rutin untuk memberikan informasi terkini kepada masyarakat. Selama periode ini, tidak ada indikasi bahwa aktivitas gunung berapi akan mencapai tingkat yang lebih tinggi. Namun, kemungkinan pelepasan gas beracun dan erupsi freatik tetap dianggap sebagai ancaman yang perlu diwaspadai. Dengan status Level II, rekomendasi pengamanan dan kehati-hatian tetap diterapkan untuk meminimalkan risiko pada masyarakat sekitar.

Dalam konteks mitigasi bencana, ESDM mengharapkan partisipasi aktif dari warga dan pengunjung gunung. Jika terjadi perubahan signifikan pada aktivitas vulkanik, seperti peningkatan hembusan asap atau intensitas gempa, maka pihak berwenang akan memberikan peringatan lebih lanjut. Namun hingga saat ini, status kegiatan Gunung Lokon tetap dalam batas normal, dengan ancaman yang bisa dikelola dengan cara yang terukur.

Secara keseluruhan, kegempaan dan aktivitas vulkanik Gunung Lokon pada Mei 2026 menunjukkan bahwa gunung berapi tersebut masih dalam kondisi waspada. Meski tidak ada indikasi letusan besar, masyarakat tetap perlu waspada terhadap gejala yang bisa muncul secara mendadak. Langkah-langkah pencegahan, seperti pengawasan terhadap kawah dan siap sedia dalam hal evakuasi, menjadi prioritas utama dalam upaya menjaga keselamatan warga sekitar.