Key Strategy: BKKBN Maluku kawal MBG tepat sasaran cegah stunting di Seram Barat
BKKBN Maluku Kawal MBG Tepat Sasaran Cegah Stunting di Seram Barat
Key Strategy –
Di Kabupaten Seram Bagian Barat, perwakilan BKKBN Maluku melakukan pemantauan langsung terhadap pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk memastikan kegiatan tersebut berjalan efektif dan menjangkui kelompok rentan yang menjadi fokus utama dalam upaya pencegahan stunting. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, Mauliwaty Bulo, mengungkapkan kunjungan ini merupakan bagian dari strategi pengawasan yang dilakukan institusi tersebut guna memperkuat distribusi MBG secara tepat sasaran. “Kami melakukan evaluasi langsung ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Yayasan Al-Barqah Nahdliyin, Desa Waimital, Kecamatan Kairatu,” jelasnya.
Kolaborasi dengan Pemangku Kepentingan Lokal
Kunjungan tersebut dihadiri oleh sejumlah pihak terkait, termasuk Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (KKB) Kabupaten Seram Bagian Barat, Suhna Umayyah, serta Ketua TP PKK Desa Waimital. Kehadiran mereka bertujuan untuk memastikan sinergi antara BKKBN dengan instansi lain dalam menjalankan program ini. Mauliwaty menekankan bahwa MBG bukan hanya sekadar bantuan makanan, tetapi menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok yang rentan terhadap stunting.
Hasil evaluasi yang dilakukan menunjukkan bahwa dapur SPPG Yayasan Al-Barqah Nahdliyin melayani sebanyak 1.968 individu. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.514 orang merupakan siswa dari berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Sementara, 454 penerima manfaat lainnya termasuk dalam kategori MBG 3B, yang mencakup ibu hamil sebanyak 40 orang, ibu menyusui 35 orang, bayi usia dua tahun sebanyak 68 anak, serta balita yang belum memasuki Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebanyak 311 orang. Angka ini menunjukkan bahwa program MBG dirancang untuk mencakup berbagai kelompok yang memiliki kebutuhan gizi spesifik, terutama dalam masa kritis pertumbuhan anak.
“Kami berharap program ini benar-benar tepat sasaran dan mampu meningkatkan asupan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak, sehingga dapat menekan angka stunting secara signifikan,” ujar Mauliwaty Bulo.
Menurut Mauliwaty, pengawasan langsung adalah langkah kritis untuk memastikan intervensi gizi yang dilakukan pemerintah mampu mencapai tingkat desa secara maksimal. “Dengan memantau langsung, kami dapat mengidentifikasi kelemahan dan menyesuaikan strategi distribusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” tambahnya. Ia menambahkan bahwa kunjungan ini juga menjadi bagian dari upaya BKKBN dalam mempercepat penurunan stunting melalui penguatan program berbasis pemenuhan gizi masyarakat.
Kepala SPPG Yayasan Al-Barqah Nahdliyin, Rosalinda Laturake, menjelaskan bahwa distribusi MBG dilakukan secara terjadwal dan terstruktur. “Pembagian dilakukan berdasarkan jadwal yang telah disepakati, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat secara rutin,” katanya. Menurut Rosalinda, untuk jenjang TK dan SD, MBG disalurkan pada pukul 10.00 WIT, sedangkan untuk Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), penyaluran dilakukan pada pukul 11.00 WIT. “Waktu yang ditentukan ini memudahkan para penerima, terutama ibu-ibu yang aktif di lingkungan sekitar,” jelasnya.
Salah satu sekolah yang mendapat manfaat dari program ini adalah TK Pembina Kairatu, SD Inpres Waimital, SD Negeri 1, 2, dan 3 Waimital, SD Inpres Waipirit, SMP Negeri 2 Kairatu, MTs Pondok Pesantren, serta MA Kairatu. Rosalinda menyoroti bahwa sekolah-sekolah tersebut memainkan peran penting dalam menyalurkan MBG kepada anak-anak, khususnya di usia kritis pertumbuhan. “Kerja sama dengan sekolah sangat berdampak pada keberhasilan program ini, karena anak-anak dianggap sebagai target utama dalam pencegahan stunting,” katanya.
Stunting, yang merupakan kondisi keterlambatan pertumbuhan anak, sering kali disebabkan oleh kurangnya asupan gizi sejak kehamilan hingga masa pertumbuhan anak. Program MBG bertujuan untuk mengatasi masalah ini dengan memberikan nutrisi tambahan kepada kelompok rentan. Selain itu, MBG juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi dalam kehidupan sehari-hari. Mauliwaty menyampaikan bahwa BKKBN terus berupaya memastikan program ini mencapai sasaran tepat, baik secara kuantitas maupun kualitas.
“Kami percaya bahwa dengan pendekatan yang terarah, MBG bisa memberikan dampak jangka panjang pada kesehatan masyarakat,” kata Mauliwaty. Ia menyoroti pentingnya kolaborasi antara BKKBN dengan dinas terkait, serta masyarakat setempat, dalam menjaga konsistensi pelaksanaan program. Kepala Dinas KKB Seram Bagian Barat, Suhna Umayyah, menyetujui hal ini. Menurutnya, MBG menjadi salah satu langkah strategis dalam mencapai target penurunan angka stunting, terutama di wilayah yang memiliki tantangan khusus dalam akses layanan kesehatan.
Dalam evaluasi, ditemukan bahwa distribusi MBG berjalan lancar, dengan persentase penerima manfaat yang sesuai dengan rencana. Namun, terdapat beberapa titik perlu diperhatikan, seperti kebutuhan tambahan untuk meningkatkan kuantitas distribusi di daerah-daerah yang lebih terpencil. Mauliwaty mengungkapkan bahwa BKKBN akan terus memantau progres program ini secara berkala untuk memastikan keberlanjutan dan keberhasilannya.
Stunting tidak hanya berdampak pada tinggi badan anak, tetapi juga pada perkembangan kognitif dan fisiknya, yang bisa memengaruhi kualitas hidup di masa depan. Dengan MBG, BKKBN berharap mampu mengurangi risiko ini sejak dini. Rosalinda Laturake mengatakan bahwa Yayasan Al-Barqah Nahdliyin berkomitmen untuk melaksanakan program ini secara optimal. “Kami selalu berusaha memberikan bantuan secara teratur dan memastikan setiap penerima memperoleh manfaat maksimal,” ujarnya.
Mengingat peran penting yang dimiliki oleh kelompok 3B dalam pencegahan stunting, Mauliwaty menggarisbawahi perlunya pendekatan yang lebih intensif. “Kami yakin bahwa keberhasilan program ini bergantung pada kepatuhan dan kepedulian dari semua pihak yang terlibat,” kata dia. Ia menegaskan bahwa BKKBN terus berupaya memberikan bantuan teknis dan sumber daya untuk mendukung program ini hingga mencapai dampak yang diharapkan.
Dalam beberapa tahun terakhir, angka stunting di Seram Bagian Barat menunjukkan penurunan, tetapi masih ada ruang untuk meningkatkan. Dengan MBG yang dikelola secara efisien, BKKBN bersama mitra lokal berharap dapat memberikan solusi praktis. “Program ini adalah salah satu dari beberapa inisiatif yang kami luncurkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi anak-anak,” tambah Mauliwaty.
Kunjungan tersebut juga menjadi momentum untuk menggali masukan dari penerima manfaat dan stakeholder terkait. Rosalinda Laturake menyebutkan bahwa ada beberapa tantangan dalam pelaksanaan, seperti perbedaan tingkat kesadaran masyarakat tentang manfaat MBG. “Namun, dengan sosialisasi yang lebih intensif
