Humaniora

Menag sebut ajang NASUHA rumuskan langkah cegah perceraian dan KDRT

1001576338
Foto : Rachmat Razi - indocrowdfunding.com
Daftar Isi
  1. NASUHA 2026 Dorong Rumusan Perlindungan Keluarga di Tengah Perubahan Zaman
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

NASUHA 2026 Dorong Rumusan Perlindungan Keluarga di Tengah Perubahan Zaman

Indocrowdfunding.com – Persoalan perceraian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), serta rapuhnya relasi keluarga menjadi perhatian dalam National Symposium of Penghulu and Ulama (NASUHA) 2026 yang digelar di Pondok Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat. Forum ini diharapkan melahirkan gagasan praktis untuk memperkuat keluarga di tengah perubahan kehidupan modern.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai perubahan sosial dan pola hidup masa kini menghadirkan tantangan baru bagi ketahanan keluarga. Karena itu, pertemuan antara penghulu, ulama, penyuluh, akademisi, pesantren, dan pemangku kepentingan diperlukan agar solusi yang disusun tidak berhenti sebagai wacana.

“Di sini mari kita rumuskan bersama gagasan-gagasan cerdas apa yang harus kita lakukan untuk mencegah dampak dari modernitas keluarga ini yang mengakibatkan banyak perceraian, banyak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), banyak keluarga-keluarga yang berantakan,” kata Menag di Cirebon, Rabu.

NASUHA 2026 berlangsung pada 9-10 September 2026. Pembahasannya menempatkan keluarga sebagai bagian penting dari layanan keagamaan di tingkat masyarakat, khususnya melalui penguatan peran Kantor Urusan Agama atau KUA.

Rumusan untuk Daerah

Hasil pembahasan dalam simposium tersebut diharapkan dapat diterapkan lebih luas oleh jajaran Kementerian Agama. Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa rumusan yang lahir dari Cirebon dapat menjadi bahan kerja bagi kantor-kantor Kementerian Agama di provinsi maupun kabupaten lain.

“Mudah-mudahan nanti rumusan-rumusannya itu bisa disampaikan ke kantor-kantor Kementerian Agama di provinsi yang lain dan kabupaten yang lain,” ujarnya.

Arah ini penting karena persoalan keluarga tidak selalu dapat ditangani melalui satu jenis layanan. Keluarga yang menghadapi konflik membutuhkan ruang edukasi, konsultasi, pendampingan keagamaan, serta akses terhadap informasi yang lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggalnya. KUA dipandang memiliki posisi strategis karena berada pada tingkat kecamatan dan berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ahmad Zayadi menjelaskan bahwa NASUHA mempertemukan berbagai unsur yang selama ini berperan dalam kehidupan keagamaan dan pembinaan keluarga. Pertemuan lintas unsur tersebut diarahkan untuk membahas transformasi KUA sekaligus penguatan ketahanan keluarga.

KUA Tidak Hanya Melayani Urusan Pernikahan

Transformasi KUA menjadi salah satu tema utama dalam forum ini. KUA diarahkan untuk berkembang sebagai simpul layanan keagamaan, tempat pendidikan keluarga, ruang konsultasi warga, dan titik pertemuan berbagai program pembangunan umat di tingkat kecamatan.

Perluasan fungsi tersebut menunjukkan bahwa layanan KUA tidak semata berkaitan dengan pencatatan pernikahan. Dalam konteks pembinaan keluarga, keberadaan KUA diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh pemahaman dan layanan yang relevan sebelum persoalan rumah tangga berkembang lebih jauh.

Saat ini, Indonesia memiliki 5.917 KUA yang memberikan layanan bagi masyarakat di 7.277 kecamatan. Jangkauan itu membuat Kementerian Agama mendorong pengembangan layanan lintas wilayah serta layanan bergerak bagi warga di daerah yang belum terlayani KUA secara memadai.

Selain memperluas akses, pembenahan juga dilakukan melalui standardisasi. Kementerian Agama menyusun Standar Pelayanan dan Standar Operasional Prosedur untuk 48 jenis layanan KUA. Standar ini dimaksudkan untuk memberi kepastian proses pelayanan dan memperkuat kualitas layanan yang diterima masyarakat.

“Transformasi KUA bukan hanya soal bangunan fisik. Yang lebih penting adalah perubahan cara kerja, standar pelayanan, kualitas SDM, keterbukaan akses, dan kemampuan KUA memberi solusi bagi masyarakat,” katanya.

Penekanan pada sumber daya manusia dan cara kerja memperlihatkan bahwa pembaruan layanan tidak cukup hanya melalui pembangunan fasilitas. KUA memerlukan kemampuan untuk merespons persoalan warga secara terbuka, mudah dijangkau, dan sesuai kebutuhan lokal.

Pondok Buntet Pesantren sebagai Lokasi Simposium

Pondok Buntet Pesantren dipilih sebagai tempat pelaksanaan NASUHA 2026 karena memiliki perjalanan panjang dalam pendidikan keagamaan. Nasaruddin Umar juga menilai pesantren tersebut memiliki corak pembelajaran tersendiri melalui perpaduan kitab kuning dan kitab putih.

“Kenapa kita pilih Pondok Pesantren Buntet ini? Karena di Buntet ini punya sejarah yang sangat panjang ya. Pesantrennya juga punya khas tersendiri, menggabungkan antara kitab kuning dan kitab putih,” katanya.

Pemilihan Cirebon sekaligus mencerminkan perhatian pada pengalaman daerah dalam pengembangan layanan keagamaan dan pembinaan keluarga. Pengalaman yang muncul dari lingkungan lokal dapat menjadi bahan pertimbangan bagi penyusunan layanan di wilayah lain, tanpa mengabaikan kebutuhan masyarakat masing-masing.

Melalui NASUHA 2026, pembahasan mengenai keluarga diharapkan menghasilkan langkah yang dapat diterjemahkan dalam pelayanan sehari-hari. Fokusnya bukan hanya pada penanganan ketika konflik telah terjadi, melainkan juga pada penguatan pengetahuan, konsultasi, akses layanan, dan kemampuan lembaga keagamaan dalam mendampingi masyarakat.

Dengan jaringan KUA yang tersebar hingga tingkat kecamatan, hasil simposium ini berpotensi memperluas peran layanan keagamaan dalam membangun keluarga yang lebih kuat. Tantangannya adalah memastikan setiap rumusan dapat diterapkan secara konsisten, mudah diakses warga, serta didukung oleh petugas yang memiliki kapasitas untuk memberikan solusi bagi persoalan keluarga.

Frequently Asked Questions

What is Menag sebut ajang NASUHA rumuskan langkah?

Menag sebut ajang NASUHA rumuskan langkah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menag sebut ajang NASUHA rumuskan langkah matter?

Menag sebut ajang NASUHA rumuskan langkah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Rachmat Razi - indocrowdfunding.com

Rachmat Razi - indocrowdfunding.com

Rachmat Razi adalah praktisi digital marketing dan penggiat gerakan sosial di Indonesia. Ia memiliki pengalaman dalam mengelola kampanye donasi berbasis komunitas dan memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan. Di IndoCrowdfunding, Rachmat menulis tentang strategi lokal, perilaku donatur Indonesia, dan tips kampanye efektif.