Special Plan: KP2MI teken MoU tingkatkan kapasitas pekerja migran dengan para mitra

Kementerian P2MI dan Mitra Teken Kerja Sama untuk Penguatan Kompetensi Pekerja Migran

Special Plan – Di Jakarta, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin melakukan penandatanganan Kesepakatan Kerja Sama (MoU) bersama Pemerintah Provinsi Banten, Ikatan Alumni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (IKA Untirta), serta PT. Krakatau Steel. Tujuan utama dari perjanjian ini adalah memperkuat kapasitas pekerja migran Indonesia (PMI) melalui kolaborasi yang lebih intensif dengan berbagai pihak terkait. “Kami berempat meneken MoU hari ini sebagai langkah untuk memperkuat ekosistem pendukung PMI, baik dalam meningkatkan keterampilan maupun melindungi mereka di lingkungan kerja global,” ujar Mukhtarudin setelah upacara penandatanganan di Kementerian P2MI, Kamis.

Peningkatan Kapasitas dan Pelindungan di Setiap Tahap

Dalam kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Banten, Menteri Mukhtarudin menjelaskan bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan daerah akan mencakup upaya menyeluruh untuk menjaga kualitas dan keselamatan PMI sejak proses perekrutan hingga penempatan di luar negeri. “Sinergi ini bertujuan menguatkan perlindungan pekerja migran, mulai dari tahap awal hingga akhir,” tambahnya. Ia menekankan pentingnya koordinasi yang terstruktur agar para pekerja migran tidak hanya memiliki kompetensi memadai, tetapi juga dilindungi dari risiko eksploitasi yang sering terjadi di sektor formal.

“Kami berempat meneken MoU hari ini sebagai langkah untuk memperkuat ekosistem pendukung PMI, baik dalam meningkatkan keterampilan maupun melindungi mereka di lingkungan kerja global,” kata Mukhtarudin setelah upacara penandatanganan di Kementerian P2MI, Kamis.

Kerja sama dengan Krakatau Steel, sementara itu, fokus pada pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan keterampilan teknis. MoU ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan sebelumnya antara Kementerian Investasi, BUMN, dan perusahaan-perusahaan besar. “Tujuan kerja sama ini adalah menjadikan PMI sebagai tenaga kerja terampil yang siap memasuki pasar global, terutama di sektor formal,” jelas Mukhtarudin. Ia menambahkan bahwa program ini sejalan dengan arahan Presiden RI, yang menekankan perlunya penguatan kompetensi dan perlindungan bagi pekerja migran untuk bersaing secara global.

Peran Ikatan Alumni dalam Sosialisasi dan Edukasi

Kerja sama dengan IKA Untirta dilakukan untuk memperluas kesadaran masyarakat terkait pentingnya pendidikan vokasional dan keterampilan dalam mempersiapkan calon PMI. “Program ini akan mencakup pelatihan tambahan serta edukasi tentang bagaimana menempatkan pekerja migran secara aman dan terorganisir,” kata Mukhtarudin. Ia menekankan bahwa kolaborasi dengan lembaga pendidikan dan alumni perguruan tinggi akan menjadi penopang strategis dalam memastikan PMI memiliki daya tahan terhadap tantangan di luar negeri.

“Jadi, ini kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kemudian alumni perguruan tinggi dan juga adalah operator ataupun stakeholder ataupun sektor riil, yaitu Krakatau Steel,” kata Mukhtarudin.

Gubenur Banten, Andra Soni, mengapresiasi langkah Kementerian P2MI dalam menggandeng pihak-pihak strategis untuk mendorong peningkatan kualifikasi PMI. “Program ini akan memberikan dampak luar biasa jika dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan,” kata Soni dalam pernyataannya. Ia optimis bahwa keberhasilan program SMK Go Global, yang bertujuan menempatkan 500.000 PMI ke luar negeri selama periode 2026–2029, akan tercapai jika kerja sama dengan stakeholder lokal ditingkatkan.

Harapan untuk Masa Depan Pekerja Migran Indonesia

Menurut Ketua IKA Untirta, Lamhot Sinaga, program peningkatan kapasitas PMI perlu didukung oleh berbagai pihak agar bisa berjalan efektif. “Kami mendukung upaya Kementerian P2MI untuk menciptakan PMI yang siap bersaing, terutama di sektor formal. Harapan kami adalah program ini bisa mengurangi penempatan pekerja migran secara tidak terstruktur, sehingga mereka tidak terjebak dalam kondisi eksploitasi saat bekerja di luar negeri,” ujar Sinaga. Ia juga menyoroti peran pendidikan tinggi dalam memperkuat keterampilan dan wawasan para calon PMI.

“Semoga pekerja migran kita yang akan keluar negeri jauh lebih memiliki self confidence sehingga bargaining dengan pemerintah asing lainnya juga akan lebih setara,” demikian katanya.

Dirut PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk., DR. Akbar Djohan, menyatakan komitmen perusahaan untuk memberikan kontribusi melalui pelatihan dan pendampingan teknis. “Kerja sama ini akan membantu calon pekerja migran meningkatkan keterampilan dan percaya diri, sehingga mereka bisa menempati posisi yang lebih baik di pasar tenaga kerja global,” tambah Djohan. Ia menjelaskan bahwa Krakatau Steel siap menjadi mitra dalam mengembangkan program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Mukhtarudin menegaskan bahwa keberhasilan program SMK Go Global bergantung pada komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan. “Dengan kerja sama ini, kita bisa memastikan PMI tidak hanya terlatih secara teknis, tetapi juga dilindungi secara komprehensif,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa program yang diinisiasi Presiden RI Prabowo Subianto ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia. “Kami ingin PMI menjadi bagian dari kekuatan ekonomi global, bukan hanya sebagai tenaga kerja yang tergantung pada satu pihak,” katanya.

Program SMK Go Global dirancang untuk menempatkan 40.000 PMI pada tahun 2026, 140.000 pada 2027 dan 2029, serta 180.000 pada 2028. Dengan total 500.000 orang dari 2026 hingga 2029, target ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada sektor informal dan memperkuat posisi PMI di pasar global. “Kami yakin, dengan komitmen ini, PMI bisa berperan lebih besar dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Mukhtarudin.

Menurut Soni, pemerintah daerah Banten siap menjadi bagian dari jaringan pelindungan PMI. “Kami akan memastikan semua proses pelatihan dan penempatan memenuhi standar yang ditetapkan, sehingga PMI memiliki peluang kerja yang lebih baik dan penghasilan yang layak,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas PMI bukan hanya tentang penguasaan keterampilan, tetapi juga tentang membangun sistem yang lebih adil dan transparan.

Sementara itu, Sinaga menyoroti pentingnya edukasi bagi masyarakat luas tentang risiko dan manfaat menjadi pekerja migran. “Melalui kerja sama ini, kami ingin mengedukasi masyarakat agar mereka memahami bagaimana menempatkan anak-anak muda mereka sebagai PMI yang berdaya saing,” katanya. Ia juga berharap program ini bisa mendorong lebih banyak generasi muda untuk memilih jalur pendidikan vokasional