Direktur eksekutif baru LPDS soroti tantangan pers di era AI
Daftar Isi
LPDS Perkuat Peran Pelatihan Jurnalistik di Tengah Perkembangan AI
Indocrowdfunding.com – Perubahan cepat dalam teknologi kecerdasan buatan menempatkan dunia pers Indonesia pada persimpangan penting. Kecepatan produksi informasi meningkat, tetapi kebutuhan akan berita yang akurat, independen, berimbang, dan dapat dipercaya justru semakin mendesak. Tantangan inilah yang menjadi perhatian Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) yang baru, Anthonius Jimmy Silalahi.
Jimmy menyampaikan pandangan tersebut saat serah terima jabatan Direktur Eksekutif LPDS di Jakarta pada Rabu, 21 Oktober. Ia melihat industri pers sedang menghadapi dua tekanan sekaligus: perubahan besar pada cara berita dibuat dan disebarkan akibat AI, serta persoalan lama yang belum sepenuhnya selesai, seperti mutu jurnalistik, kemandirian redaksi, dan kepercayaan masyarakat.
“Pers kita sekarang tidak sedang baik-baik saja. Di satu sisi kita dihadapkan pada disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan yang mengubah total lanskap produksi dan distribusi berita. Di sisi lain, kita masih bergulat dengan persoalan fundamental soal kualitas, independensi, dan kepercayaan publik,” kata Jimmy.
Kecepatan Harus Berjalan Bersama Ketelitian
Dalam ruang digital yang dipenuhi arus informasi tanpa henti, publik membutuhkan lebih dari sekadar kabar yang cepat muncul di layar. Informasi perlu melalui proses pemeriksaan, memiliki konteks yang cukup, memberi ruang bagi beragam pihak, serta membantu pembaca memahami persoalan sosial, politik, dan ekonomi yang berkembang.
Hal tersebut menjadi alasan LPDS tetap menempatkan pendidikan dan pelatihan jurnalistik sebagai fokus utamanya. Program pelatihan akan diarahkan untuk meningkatkan mutu pemberitaan sekaligus menyesuaikan kemampuan wartawan dengan perkembangan perangkat dan pola kerja baru di era teknologi digital.
Pemanfaatan AI, dalam pandangan Jimmy, tidak dapat dipahami sebatas kemampuan menggunakan aplikasi untuk menyusun tulisan atau memeriksa fakta. Wartawan tetap memerlukan penalaran kritis, kepekaan terhadap dampak informasi, serta pemahaman kuat mengenai etika profesi. Keterampilan itu diperlukan agar teknologi menjadi alat bantu, bukan pengganti pertimbangan jurnalistik.
“AI bisa membantu kecepatan, tapi AI tidak punya nurani, tidak punya etika jurnalistik, dan tidak bisa turun ke lapangan untuk merasakan denyut nadi masyarakat. Itu yang harus terus kita tanamkan dalam setiap pelatihan di LPDS,” ujarnya.
Teknologi dapat membantu pekerjaan rutin, mempercepat pencarian data, atau mendukung proses awal verifikasi. Namun, peliputan langsung, penilaian terhadap kepentingan publik, dan tanggung jawab atas dampak sebuah berita tetap berada pada manusia. Wartawan juga perlu memahami bahwa hasil yang dihasilkan sistem otomatis harus diteliti kembali sebelum menjadi bagian dari publikasi.
Kolaborasi untuk Menjangkau Daerah
LPDS membuka ruang kerja sama dengan pemerintah, pelaku usaha, serta industri media untuk membangun program pendidikan jurnalistik yang dapat menjangkau berbagai wilayah Indonesia. Upaya tersebut penting karena kebutuhan penguatan kapasitas wartawan tidak hanya berada di pusat-pusat media besar, melainkan juga di daerah dengan kondisi, audiens, dan tantangan pemberitaan yang beragam.
Kerja sama lintas sektor dapat memperluas akses pelatihan tanpa mengabaikan nilai dasar jurnalistik. Dalam praktiknya, peningkatan kemampuan teknis harus tetap sejalan dengan penghayatan terhadap Kode Etik Jurnalistik, independensi redaksi, ketelitian dalam verifikasi, dan kewajiban menyajikan informasi secara bertanggung jawab.
Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto menilai peran LPDS semakin penting ketika pertumbuhan media digital berlangsung pesat. Lingkungan informasi saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh banyaknya konten, tetapi juga oleh algoritma yang dapat menentukan jangkauan sebuah informasi serta teknologi AI yang membuat batas antara karya jurnalistik dan konten biasa menjadi semakin kabur.
“Di sinilah peran LPDS menjadi sangat vital untuk menjaga marwah jurnalistik,” kata Totok.
Dewan Pers akan terus memberikan dukungan bagi pendidikan pers, peningkatan kompetensi wartawan, dan penerapan Kode Etik Jurnalistik dalam ekosistem digital. Penguatan tersebut relevan bagi pembaca pula, sebab kualitas informasi yang diterima masyarakat sangat bergantung pada proses jurnalistik yang dilakukan secara cermat dan berintegritas.
Melanjutkan Perjalanan Lembaga Pendidikan Pers
Serah terima jabatan ini sekaligus menandai berakhirnya kepemimpinan Kristanto Hartadi sebagai Direktur Eksekutif LPDS. Kristanto memegang jabatan tersebut sejak 2023 dan mengundurkan diri setelah memimpin lembaga itu selama tiga tahun.
Dalam sambutan perpisahannya, Kristanto menyatakan komitmennya untuk tetap mendukung keberlanjutan LPDS. Ia juga berharap lembaga pendidikan jurnalistik tersebut semakin mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan fondasi profesi pers.
LPDS dibentuk Dewan Pers melalui sidang pleno pada 1987. Selama hampir empat dekade, lembaga ini telah memberikan pelatihan kepada ribuan wartawan dari berbagai daerah di Indonesia. Pergantian kepemimpinan kini membawa perhatian baru pada tantangan AI, tetapi misi utamanya tetap sama: menjaga agar kemampuan, tanggung jawab, dan etika wartawan berkembang seiring perubahan cara masyarakat menerima informasi.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Direktur eksekutif baru LPDS soroti tantangan?
Direktur eksekutif baru LPDS soroti tantangan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Direktur eksekutif baru LPDS soroti tantangan matter?
Direktur eksekutif baru LPDS soroti tantangan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.