Pemprov DKI targetkan angka stuting turun jadi 15 persen
Pemprov DKI Jakarta Akan Turunkan Angka Stunting ke 15 Persen
Pemprov DKI targetkan angka stuting turun – Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyatakan komitmen untuk menurunkan tingkat stunting hingga 15 persen dalam lima tahun ke depan. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang peran penting gizi dan kesehatan mental dalam pertumbuhan anak selama 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Dalam rangkaian kegiatan sosialisasi, Kepala Bidang Perlindungan Anak di Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta, Dody Taruna Dwiputra, menjelaskan bahwa angka stunting saat ini di Jakarta berada di level 17,2 persen, dan pemerintah berupaya keras untuk mencapai target penurunan tersebut.
Seminar Online Fokus pada Pertumbuhan Optimal Anak
Dalam seminar daring bertema “Isi Piringnya, Isi Hatinya: Gizi dan Kesehatan Mental untuk Pertumbuhan Anak yang Optimal,” Dody menyampaikan bahwa periode 1.000 hari pertama kehidupan adalah fase kritis yang menentukan kesehatan jangka panjang anak. “Perkembangan otak, tubuh, serta sistem metabolisme dan kekebalan tubuh anak terjadi dengan kecepatan luar biasa selama 270 hari kehamilan dan 730 hari setelah lahir,” terangnya dalam sesi diskusi. Menurut Dody, fase ini sering kali dianggap remeh, padahal dampaknya sangat mendalam pada masa depan anak.
“Angka stunting di Jakarta pada 2025 mencapai 17,2 persen. Target dari Pemprov DKI adalah menurunkannya hingga 15 persen,” ujar Dody Taruna Dwiputra.
Dody menekankan bahwa keluarga menjadi elemen utama dalam mengoptimalkan masa pertumbuhan anak. Ia menjelaskan, di samping asupan gizi yang cukup, kesehatan mental ibu hamil dan lingkungan keluarga juga berperan kritis. “Keluarga bertanggung jawab untuk mengasuh, membina, serta melindungi anak dari kekerasan dan diskriminasi, yang merupakan faktor penyebab stunting,” tambahnya. Dalam seminar tersebut, para peserta diajak memahami bahwa pola asuh yang baik, stimulasi yang tepat, serta ketersediaan nutrisi menjadi kunci utama.
Salah satu strategi utama Pemprov DKI adalah mengedukasi masyarakat secara luas. Seminar ini ditujukan khususnya kepada remaja, calon pengantin, dan ibu-ibu. Dody mengatakan, kategori tersebut dipilih karena mereka merupakan pilar utama dalam pembentukan kebiasaan sehat untuk masa depan anak. Selain itu, program ini juga melibatkan para pakar kesehatan yang memberikan wawasan tentang cara mencegah stunting melalui perawatan yang terpadu.
Menurut Dody, 1.000 hari pertama kehidupan meliputi periode kehamilan dan masa bayi hingga usia tiga tahun. Fase ini menuntut perhatian ekstra, terutama dalam aspek nutrisi dan stimulasi. “Selama masa ini, anak mengalami pertumbuhan fisik dan kognitif yang luar biasa. Jika tidak didukung dengan nutrisi yang cukup, risiko stunting akan meningkat,” jelasnya. Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan dalam memenuhi kebutuhan gizi dan perawatan emosional dapat berdampak jangka panjang, bahkan hingga usia dewasa.
Pola Pengasuhan dan Lingkungan Pendukung
Dody menyoroti pentingnya pola pengasuhan yang harmonis dalam keluarga. “Keluarga tidak hanya berperan dalam memberikan makanan yang bergizi, tetapi juga dalam menciptakan lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang,” katanya. Ia menambahkan bahwa stimulasi yang diberikan kepada anak, seperti interaksi sosial dan lingkungan belajar yang tepat, dapat mempercepat pertumbuhan optimal.
Program ini juga melibatkan kerja sama dengan berbagai stakeholder, termasuk dinas kesehatan, pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), dan organisasi kependudukan. Dody menjelaskan bahwa sosialisasi akan disampaikan melalui berbagai media, seperti pelatihan, workshop, dan edukasi langsung kepada masyarakat. “Pemprov DKI berharap semua lapisan masyarakat turut serta dalam membangun kesadaran ini,” tuturnya.
Dalam upaya penurunan stunting, Pemprov DKI telah menyiapkan beberapa inisiatif, antara lain program pemberian suplemen gizi, layanan konsultasi kesehatan, serta kegiatan pelatihan kepada ibu hamil dan remaja. Dody menyatakan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. “Jika seluruh elemen masyarakat peduli, kita bisa mencapai target 15 persen,” harapnya.
Menurut Dody, fase 1.000 hari pertama kehidupan sangat rentan terhadap kondisi lingkungan dan faktor sosial. “Keterbatasan ekonomi, kurangnya pendidikan tentang gizi, serta tekanan psikologis ibu hamil dapat mengganggu pertumbuhan anak,” ujarnya. Oleh karena itu, pemerintah mengupayakan keberlanjutan program ini melalui kolaborasi dengan lembaga-lembaga lokal dan nasional. “Kita perlu menerapkan pendekatan holistik, baik secara fisik maupun mental,” jelasnya.
Para peserta seminar juga diajarkan tentang cara mengoptimalkan potensi anak melalui asupan gizi yang tepat dan pengasuhan yang terarah. Dody menyoroti bahwa kecukupan asupan protein, vitamin, dan mineral sejak awal kehamilan sangat penting. “Ibu yang sehat akan melahirkan anak yang sehat, dan anak yang sehat akan tumbuh menjadi individu yang mandiri,” tegasnya.
Sebagai bentuk evaluasi, Pemprov DKI Jakarta berencana melakukan pemantauan berkala untuk memastikan progres penurunan stunting. Dody menyebutkan bahwa data akan diperoleh melalui survei lapangan dan kerja sama dengan rumah sakit serta sekolah. “Kita perlu memastikan bahwa semua usaha yang dilakukan memiliki dampak nyata,” katanya. Ia juga mengimbau masyarakat untuk terus berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sosialisasi yang diadakan.
Stunting bukan hanya masalah gizi, tetapi juga mencakup aspek sosial dan ekonomi. Dody menjelaskan bahwa anak yang mengalami st
