F-PKB MPR: Etnis Tionghoa salah satu arsitek utama Republik Indonesia
Etnis Tionghoa: Pilar Fondasi Berdirinya Indonesia Modern
indocrowdfunding.com – F PKB MPR – Jakarta telah menjadi saksi bisu bagaimana dialog kebangsaan kembali menghidupkan semangat persatuan. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Badan Persaudaraan Antariman atau yang lebih dikenal dengan nama Berani, seorang tokoh perempuan dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa di MPR RI menyampaikan pesan penting tentang identitas nasional. Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, yang menjabat sebagai Ketua Fraksi PKB MPR RI, hadir dalam dialog bertajuk “Peran Tionghoa dalam Pusaran Kebangsaan” yang berlangsung pada hari Minggu di ibukota.
Peristiwa tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk meninjau ulang hubungan historis antara berbagai etnis di Nusantara. Neng Eem secara tegas menolak dikotomi yang sering kali muncul dalam wacana publik mengenai perbedaan antara kelompok pribumi dan nonpribumi. Menurutnya, pandangan tersebut hanyalah konstruksi semu yang sengaja dipertahankan oleh politik pecah belah warisan kolonial.
Mengenang Peran Sejarah yang Terlupakan
Menurut Neng Eem, ketika kita membuka lembaran sejarah dengan pandangan yang jernih, etnis Tionghoa tidak pernah sekadar menjadi penonton dalam perjalanan bangsa ini. Mereka hadir sebagai pendiri, pemilik sah, dan salah satu arsitek utama yang berkontribusi dalam pembentukan Republik Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dengan penuh keyakinan di hadapan para peserta dialog.
“Jika kita berani menengok masa lalu dengan mata batin yang jernih, etnis Tionghoa bukanlah penumpang gelap di kapal besar bernama Indonesia, mereka adalah salah satu arsitek utama, pendiri sekaligus pemilik sah saham republik ini,” kata Neng Eem.
Proses pembauran budaya telah berlangsung jauh sebelum Indonesia meraih kemerdekaan. Interaksi damai antara berbagai komunitas telah mengakar kuat di kepulauan Nusantara. Denyut akulturasi mengalir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, terlihat dari pengaruh yang tampak dalam bidang kuliner maupun arsitektur bangunan.
Sejarah mencatat bagaimana Laskar Tionghoa dan para pejuang Jawa bersatu padu di medan laga. Mereka bersama-sama menghantam kezaliman yang dilakukan oleh VOC. Solidaritas lintas etnis demi menegakkan keadilan telah tumbuh subur di bumi pertiwi sejak berabad-abad yang lalu, menjadi bukti nyata bahwa persatuan bukanlah hal baru dalam sejarah Indonesia.
Reformasi Kebijakan di Era Gus Dur
Masa-masa kelam memang sempat mewarnai perjalanan sejarah pascakemerdekaan. Namun, transformasi signifikan terjadi ketika Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur menjabat sebagai presiden keempat Republik Indonesia. Sebagai pendiri PKB, Gus Dur mengambil langkah-langkah penting dalam memberantas diskriminasi yang selama ini menimpa etnis Tionghoa.
Neng Eem menjelaskan bahwa kebijakan yang diambil oleh Gus Dur merupakan manifestasi nyata dari nilai humanisme dan keadilan sosial. Melalui Keppres Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur berhasil mematahkan belenggu Inpres Nomor 14 Tahun 1967 yang selama ini membatasi hak-hak sipil masyarakat Tionghoa.
Keputusan tersebut tidak hanya mengembalikan kebebasan bagi etnis Tionghoa untuk merayakan Imlek, tetapi juga menempatkan agama Khonghucu setara dengan agama-agama lainnya yang diakui di Indonesia. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam pengakuan terhadap keberagaman kepercayaan di Indonesia.
Kontribusi dan Masa Depan Indonesia
Perjuangan yang dilakukan selama bertahun-tahun telah berbuah manis. Neng Eem menyebutkan bahwa etnis Tionghoa kini kembali berkontribusi tanpa rasa canggung di berbagai sektor kehidupan. Kontribusi mereka terasa nyata baik di birokrasi pemerintahan, parlemen, dunia akademis, seni budaya, hingga panggung olahraga internasional.
Meskipun demikian, Neng Eem tidak memungkiri bahwa dikotomi antara pribumi dan nonpribumi masih menghantui sebagian masyarakat. Namun, polarisasi semu tersebut hanyalah sekat psikologis yang perlu diikis habis. F-PKB MPR RI berkomitmen untuk menempatkan narasi kontribusi etnis Tionghoa secara proporsional dan terhormat dalam kurikulum sejarah nasional.
Indonesia tidak akan mampu melompat jauh ke depan jika masih ada warganya yang ditinggalkan di belakang. Karenanya, Neng Eem mengajak seluruh pihak untuk menjaga persatuan dan merawat Bhinneka Tunggal Ika. Menjadi Indonesia bukanlah soal garis keturunan atau asal-usul genetik, melainkan sebuah kesepakatan spiritual, kesepakatan politik dan kebudayaan untuk hidup bersama, saling menopang, dan bahu-membahu mewujudkan kejayaan di bawah kibaran bendera Merah Putih.
Dialog kebangsaan ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Lahir Ke-28 PKB. Badan otonom di bawah naungan PKB tersebut fokus merawat pluralisme sebagai fondasi penting bagi keberlangsungan bangsa Indonesia yang majemuk.
