Humaniora

BRIN-UIN Ar-Raniry kembangkan konservasi manuskrip terdampak bencana

khrisna-edit-1788105799-979006eb76
Foto : Michael Moore - indocrowdfunding.com
Daftar Isi
  1. Model Konservasi Portabel untuk Manuskrip Aceh Pasca-Bencana Hidrometeorologi
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Model Konservasi Portabel untuk Manuskrip Aceh Pasca-Bencana Hidrometeorologi

Indocrowdfunding.com – Sebanyak 520 naskah kuno di sembilan kabupaten dan kota di Aceh tercatat mengalami kerusakan akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda provinsi itu pada akhir 2025. Kerusakan tersebut tidak sekadar menyentuh benda fisik; yang ikut terancam adalah memori kolektif, pengetahuan lokal, serta identitas budaya masyarakat Aceh yang selama berabad-abad tersimpan dalam lembaran-lembaran tua itu. Menyadari skala ancaman tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh merancang sebuah model konservasi manuskrip yang dapat dioperasikan langsung di lokasi bencana.

Model yang dikembangkan memiliki karakteristik portabel, modular, dan berbiaya rendah. Ia dirancang agar dapat diterapkan secara in situ di wilayah-wilayah yang rawan bencana hidrologi, tanpa harus menunggu manuskrip dipindahkan ke fasilitas konservasi jarak jauh. Pendekatan ini menjadi krusial mengingat Aceh secara geografis rentan terhadap banjir dan longsor, sementara ribuan naskah kuno tersebar di berbagai titik yang sulit dijangkau oleh infrastruktur konservasi konvensional.

Landasan Riset Kolaboratif

Pengembangan model ini bukan kerja satu lembaga. Riset dilakukan secara kolaboratif oleh BRIN, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Perpustakaan Nasional (Perpusnas), serta Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry. Husnul Fahimah Ilyas, Ketua Tim Riset Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN, menegaskan bahwa cakupan penelitian melampaui penyelamatan fisik semata.

“Model tersebut dirancang portabel, modular, berbiaya rendah, dan dapat diterapkan secara in situ di wilayah rawan bencana hidrologi.”

Ia menambahkan bahwa riset ini juga mencakup pengembangan manajemen risiko bencana untuk melindungi warisan dokumenter dari ancaman hidrometeorologi. Dengan kata lain, outputnya bukan hanya perangkat teknis, melainkan juga kerangka kebijakan dan protokol operasional yang dapat diadopsi oleh pemerintah daerah maupun lembaga pemangku kepentingan budaya.

Metode Pengeringan dan Ruang Kerja Portabel

Secara teknis, model konservasi ini mengandalkan metode pengeringan manual knockdown. Konservator Perpusnas Aris Riyadi menjelaskan bahwa tim mengembangkan ruang pengering atau chamber portabel sebagai solusi taktis untuk mempercepat penyelamatan manuskrip yang terendam air. Perangkat ini dapat dioperasikan langsung di lokasi bencana, sehingga proses penyelamatan menjadi lebih cepat, efisien, dan mudah dimobilisasi dibandingkan mesin freeze drying yang selama ini menjadi standar penanganan bahan pustaka basah di laboratorium.

Proses penyelamatan mengikuti tahapan berurutan. Tahap pertama adalah identifikasi tingkat kerusakan, yang harus dilakukan sesegera mungkin setelah bencana terjadi. Tahap kedua adalah pengeringan. Setelah itu, manuskrip masuk ke tahap restorasi sesuai kondisi masing-masing naskah. Urutan ini tidak dapat dibalik atau dilewati, karena kesalahan pada tahap awal dapat memperparah kerusakan permanen pada serat kertas atau tinta naskah.

Dimensi Kebijakan dan Manajemen Risiko

Agus Iswanto, anggota tim riset BRIN sekaligus Ketua Umum Manassa Pusat, menyatakan bahwa riset ini juga diarahkan untuk menghasilkan model atau protokol manajemen risiko bencana hidrologi yang khusus ditujukan bagi warisan dokumenter berupa manuskrip. Artinya, output riset tidak berhenti pada penanganan darurat, tetapi mencakup pencegahan dan mitigasi jangka panjang.

AS Rakhmad Idris, peneliti dari Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN, menekankan bahwa hasil riset perlu diperkuat dengan dokumen kebijakan agar model konservasi dapat diterapkan secara lebih luas.

“Dokumen kebijakan diperlukan untuk memberikan analisis dan rekomendasi penting kepada pemangku kebijakan mengenai bagaimana konservasi manuskrip terdampak bencana hidrologi sebaiknya dilakukan.”

Rekomendasi kebijakan semacam ini akan menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, dinas kebudayaan, dan lembaga perpustakaan dalam menyusun protokol tanggap darurat khusus untuk koleksi naskah kuno di wilayah rawan bencana.

UIN Ar-Raniry sebagai Laboratorium Manuskrip

Hermansyah, Ketua Komisariat Manass Aceh sekaligus Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FAH UIN Ar-Raniry, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pendataan, sedikitnya 520 manuskrip di sembilan lokasi kabupaten dan kota di Aceh ditemukan terdampak bencana. Ia berharap hasil riset BRIN dapat dimanfaatkan dalam penanganan manuskrip yang terdampak bencana serupa di tempat lain.

“Hasil riset yang dilakukan BRIN ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam penanganan manuskrip yang terdampak bencana serupa di tempat lain.”

Lebih jauh, Hermansyah menyampaikan bahwa UIN Ar-Raniry, khususnya Fakultas Adab dan Humaniora, akan diarahkan menjadi Laboratorium Manuskrip atau Naskah Kuno. Langkah ini merupakan bagian dari penguatan fungsi akademik sekaligus upaya pelestarian manuskrip Aceh secara berkelanjutan. Dengan status laboratorium, fakultas tersebut tidak hanya menjadi tempat penyimpanan, tetapi juga pusat riset, pelatihan konservator muda, dan pengembangan teknologi preservasi yang relevan dengan konteks lokal.

Keberadaan ribuan naskah kuno di Aceh menjadikannya salah satu pusat warisan dokumenter paling padat di Indonesia. Naskah-naskah itu mencakup teks keagamaan, hukum adat, silsilah, pengobatan tradisional, hingga catatan sejarah lisan yang tidak tercatat di tempat lain. Kehancuran akibat bencana hidrometeorologi, yang frekuensinya meningkat seiring perubahan iklim, menjadikan pengembangan model konservasi tanggap darurat bukan sekadar proyek akademik, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlangsungan identitas budaya masyarakat Aceh dari generasi ke generasi.

Frequently Asked Questions

What is BRIN UIN Ar Raniry kembangkan konservasi?

BRIN UIN Ar Raniry kembangkan konservasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BRIN UIN Ar Raniry kembangkan konservasi matter?

BRIN UIN Ar Raniry kembangkan konservasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Michael Moore - indocrowdfunding.com

Michael Moore - indocrowdfunding.com

Michael Moore adalah data analyst yang mengkhususkan diri dalam analisis performa kampanye crowdfunding. Ia menggunakan pendekatan berbasis data untuk mengoptimalkan strategi donasi dan meningkatkan ROI kampanye. Artikelnya di IndoCrowdfunding membahas metrik penting, analisis tren, dan evaluasi kampanye.