New Policy: Dokter: Orang dewasa pernah vaksinasi campak masih bisa terinfeksi

Dokter: Orang Dewasa yang Sudah Vaksinasi Campak Masih Bisa Terinfeksi

New Policy – Tangerang – Dokter spesialis penyakit dalam dari Eka Hospital MT Haryono, Erpryta Nurdia Tetrasiwi, menegaskan bahwa individu dewasa, bahkan yang telah menerima vaksinasi campak saat kecil, tetap berisiko tertular penyakit tersebut. Hal ini khususnya berlaku bagi orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang melemah, karena mereka cenderung mengalami gejala yang lebih parah. Dalam wawancara yang diterima di Tangerang pada Kamis, Erpryta menjelaskan bahwa kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi anak-anak bisa berkurang seiring bertambahnya usia.

Virus Campak Masih Menular di Udara

Pernyataan Erpryta menyebut bahwa ketika antibodi dari vaksinasi menurun di bawah ambang batas perlindungan, tubuh kembali rentan terhadap serangan virus. Meski vaksinasi dulu memberikan perlindungan, risiko infeksi bisa muncul jika kekebalan tidak cukup kuat. “Virus ini sangat menular, bahkan bisa bertahan di udara hingga dua jam setelah seseorang yang terinfeksi meninggalkan ruangan. Tanpa perlindungan imun, penularan di tempat kerja atau transportasi umum terjadi dengan cepat,” tutur Erpryta dalam wawancara tersebut.

“Faktor lain yang membuat orang dewasa kembali tertular campak adalah sifat virus yang mudah menyebar. Sebab, campak termasuk dalam penyakit paling menular di dunia,”

Erpryta menambahkan bahwa kekebalan dari vaksinasi kecil bisa melemah karena berbagai alasan, seperti perubahan gaya hidup atau kondisi kesehatan yang memengaruhi respons imun. Hal ini membuat orang dewasa menjadi rentan, terutama jika mereka tidak menjaga kebugaran tubuh atau tidak terpapar lingkungan yang sehat. Selain itu, penelitian medis terbaru menyebutkan bahwa dua dosis vaksin Measles, Mumps, Rubella (MMR) diperlukan untuk mencapai tingkat perlindungan hingga 97 persen. “Dosis yang hanya satu mungkin tidak cukup mengingat kekebalan tubuh butuh waktu untuk memperkuat,” jelasnya.

Komplikasi pada Dewasa Lebih Serius

Menurut Erpryta, gejala campak pada orang dewasa cenderung lebih berat dibandingkan anak-anak. Sementara anak-anak biasanya pulih dalam satu hingga dua minggu, orang dewasa sering mengalami komplikasi sistemik yang bisa memengaruhi organ vital. “Virus ini tidak hanya menyebabkan ruam kulit, tetapi juga menyerang sistem pertahanan tubuh secara menyeluruh,” kata Erpryta. Hal ini bisa memicu kondisi seperti pneumonia berat, radang otak, masalah jantung, dan bahkan kebutaan.

Komplikasi tersebut terjadi karena tubuh dewasa tidak memiliki kemampuan regenerasi sel yang cepat seperti anak-anak. Selain itu, usia dewasa biasanya berisiko mengalami kondisi penyakit lain yang memperparah reaksi tubuh terhadap virus campak. “Tidak semua orang dewasa memiliki imunitas yang memadai, terutama jika vaksinasi masa kecil tidak lengkap atau tidak diperbarui,” tambahnya.

Vaksinasi MMR sebagai Solusi

Untuk mengurangi risiko tertular campak, Erpryta menyarankan vaksinasi MMR yang juga melindungi dari gondongan dan rubella. “Vaksinasi pada usia dewasa berfungsi sebagai pengingat imun yang memastikan perlindungan tetap aktif,” ujarnya. Vaksin ini terutama penting bagi individu yang belum pernah menerima vaksin campak sebelumnya, karena dosis tambahan bisa meningkatkan efektivitas kekebalan.

Vaksinasi MMR juga sangat kritis bagi wanita yang berencana mengandung. Erpryta menekankan bahwa infeksi campak atau rubella selama kehamilan bisa menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, atau cacat bawaan pada bayi. “Vaksinasi harus dilakukan setidaknya satu bulan sebelum program kehamilan dimulai, agar tubuh memiliki waktu untuk membangun kekebalan,” katanya.

“Dengan vaksinasi sekarang, kita melakukan investasi kesehatan jangka panjang. Ini membantu menghindari biaya rawat inap yang mahal dan komplikasi permanen yang bisa terjadi jika tertular campak,”

Erpryta juga menyoroti pentingnya menjaga imunitas tubuh melalui pola makan sehat, olahraga rutin, dan tidur cukup. “Selain vaksinasi, menjaga kebersihan diri dan menghindari kontak dengan orang yang menunjukkan gejala demam atau ruam kulit tetap menjadi langkah tambahan yang perlu diambil selama masa wabah,” tambahnya.

Virus campak memang memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi, sehingga walaupun vaksinasi masa kecil sudah memberikan perlindungan, peningkatan kekebalan tetap diperlukan. Erpryta menjelaskan bahwa MMR bukan hanya mengurangi risiko penyakit campak, tetapi juga mencegah komplikasi terkait gondongan dan rubella. Kedua penyakit ini bisa menyebabkan masalah serius, terutama pada wanita hamil dan bayi.

Meski demikian, kebanyakan orang dewasa terlewatkan dalam program vaksinasi yang rutin diberikan pada anak-anak. “Ini sering terjadi karena kesadaran masyarakat mengenai pentingnya vaksinasi dewasa masih rendah,” ujarnya. Erpryta menyarankan agar masyarakat tidak menganggap vaksinasi sebagai kebutuhan yang sekadar formalitas, melainkan sebagai investasi untuk kesehatan jangka panjang.

Pada masa pandemi atau wabah, Erpryta menekankan bahwa vaksinasi MMR harus menjadi prioritas. “Kontak sosial yang intens di tempat kerja, sekolah, atau transportasi umum meningkatkan risiko paparan virus, sehingga perlindungan tambahan sangat dibutuhkan,” katanya. Dengan vaksinasi, sistem imun bisa teraktifkan kembali, mengurangi kemungkinan penularan dan meminimalkan dampak negatif pada kesehatan.

Kedua dosis vaksin MMR harus diberikan secara bertahap untuk memastikan respons imun optimal. “Dosis pertama mungkin cukup untuk melindungi, tetapi dosis kedua memperkuat daya tahan tubuh terhadap virus yang mungkin sudah beradaptasi atau bermutasi,” ujar Erpryta. Hal ini penting karena kekebalan yang terbentuk dari vaksinasi bisa tergantung pada kekuatan dosis dan kondisi tubuh saat pemberian vaksin.

Erpryta juga mengingatkan bahwa virus campak bisa menyebar melalui udara, jadi masyarakat harus lebih waspada terutama di ruang tertutup. “Meski vaksinasi sudah dilakukan, jangan lupa untuk menjaga kebersihan tangan dan menghindari kontak dekat dengan penderita,” pungkasnya. Hal ini akan membantu mengurangi penularan dan menjaga kesehatan secara komprehensif.