New Policy: Pemkot Palu galakkan Urban Farming untuk kemandirian pangan keluarga

Pemkot Palu Galakkan Urban Farming untuk Kemandirian Pangan Keluarga

New Policy – Terbaru, Pemerintah Kota Palu meluncurkan New Policy yang menekankan pengembangan urban farming sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian pangan di tingkat keluarga. Kebijakan ini dirancang untuk memanfaatkan ruang terbuka yang sebelumnya tidak digunakan, seperti lahan pekarangan dan area kosong, menjadi tempat produksi pangan yang lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari warga. Dengan New Policy ini, Pemkot Palu berharap memperkuat ketahanan pangan secara lokal serta mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.

Program Selaras dengan Agenda Nasional

New Policy urban farming yang dicanangkan Pemkot Palu menjadi bagian dari upaya nasional membangun ketahanan pangan. Dalam wawancara di Palu pada Kamis (7/5), Plt Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, S. Tegeh Asprianto, menjelaskan bahwa program ini bertujuan mendorong penghasilan pangan dari tingkat mikro hingga makro. “Masyarakat bisa menghasilkan makanan sendiri, sehingga tidak terlalu bergantung pada pasar,” ujar Tegeh.

“Pelatihan dan bantuan teknis akan disediakan untuk mendorong partisipasi warga, terutama di daerah padat,” tambah Tegeh.

Kebijakan ini juga merupakan respons terhadap tantangan yang dihadapi Palu pasca-bencana. Dengan lahan terbatas, urban farming dianggap sebagai solusi inovatif untuk memenuhi kebutuhan pangan sehat secara lokal. Selain itu, New Policy ini didukung oleh prinsip pertanian berkelanjutan, seperti penggunaan teknologi ramah lingkungan dan integrasi kehidupan sehari-hari warga.

Pengembangan di Wilayah Pekarangan

Implementasi New Policy dimulai dari skala kecil, yaitu memanfaatkan lahan pekarangan rumah tangga sebagai basis produksi. Area seperti halaman, teras, atau ruang kosong di sekitar bangunan diharapkan menjadi tempat sayuran dan tanaman pangan lainnya. Pemkot Palu juga menargetkan lahan tidur, seperti bawah jembatan, belakang pasar, atau sela-sela bangunan, untuk dikembangkan menjadi ruang pertanian perkotaan.

Menurut Tegeh, warga akan diberikan benih, pupuk, serta pelatihan teknis agar mampu menjalankan pertanian rumahan. “Kami menyediakan modal dasar untuk memulai kebun kecil di rumah,” jelasnya. Tujuan utamanya adalah memastikan setiap keluarga memiliki akses ke pangan yang sehat dan terjangkau. Dengan New Policy, kemandirian pangan dilihat sebagai langkah penting dalam mengurangi dampak inflasi dan krisis bahan pokok.

New Policy ini menggabungkan konsep pertanian berkelanjutan dengan pendekatan partisipatif. Pemkot Palu bekerja sama dengan LSM, komunitas, dan lembaga belajar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menghasilkan pangan sendiri. “Keterlibatan aktif warga adalah kunci keberhasilan,” kata Tegeh. Dengan strategi ini, New Policy diharapkan dapat mendorong perubahan pola kebiasaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya lokal.

Keterlibatan Pemangku Kepentingan

Pemkot Palu terus memperluas keterlibatan pemangku kepentingan dalam New Policy urban farming. Beberapa kecamatan telah menjadi pilot project, dan hasilnya akan menjadi bahan evaluasi untuk memperluas program ke wilayah lain. “Kami ingin melibatkan sekolah, pusat komunitas, dan tokoh agama,” terang Tegeh. Keterlibatan sekolah menjadi prioritas karena dianggap sebagai tempat paling efektif untuk mengajarkan kebiasaan pertanian kepada generasi muda.

Tegeh juga menyoroti peran kewirausahaan dalam New Policy ini. “Beberapa warga mulai memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayuran dan bahan makanan,” jelasnya. Dengan New Policy, diharapkan akan muncul inisiatif ekonomi lokal yang berkelanjutan, seperti pasar kecil atau toko bahan pokok berbasis pertanian rumahan. Program ini menjadi contoh nyata bagaimana kota besar bisa memastikan keberlanjutan pangan melalui inovasi.

Masa Depan Kebijakan Lokal

Menurut Tegeh, New Policy ini dirancang untuk berkelanjutan dan bisa berdampak jangka panjang. “Kami ingin masyarakat tidak hanya terbiasa menanam, tetapi juga menghargai hasil pertaniannya,” ujarnya. Dengan keterlibatan aktif warga, New Policy diperkirakan bisa meningkatkan produksi pangan hingga 30 persen dalam dua tahun ke depan. “Ini akan menjadi basis untuk program nasional,” terangnya.

New Policy Pemkot Palu juga membuka peluang kolaborasi dengan pihak swasta dan lembaga internasional. “Kami ingin memperluas akses teknologi dan sumber daya kepada masyarakat,” kata Tegeh. Dengan New Policy, Palu berharap menjadi contoh kota yang mampu mengubah paradigma pangan dari konsumsi ke produksi, sekaligus menjaga lingkungan dan ekonomi lokal.