Latest Program: Pemda DIY perkuat aksi nyata hadapi ancaman perubahan iklim
Pemda DIY Perkuat Aksi Nyata Hadapi Ancaman Perubahan Iklim
Komitmen Kolaboratif untuk Melindungi Bumi
Latest Program – Yogyakarta, pada hari Kamis, menjadi tempat perayaan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diinisiasi oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Acara ini menyajikan tema “Act Now for Climate, Saatnya Bekerja untuk Iklim,” yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam menghadapi krisis lingkungan. Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, menjadi pembicara utama dalam kesempatan tersebut, mengungkapkan bahwa tema ini mendorong transisi dari kesadaran menjadi tindakan nyata.
“Dengan mengacu pada filosofi Hamemayu Hayuning Bawana yang berarti kewajiban melindungi, memelihara, dan membina keselamatan alam, mari kita ubah kepedulian menjadi gerakan bersama demi bumi yang lebih baik,” ujar Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang disampaikan oleh Wakil Gubernur.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur menekankan bahwa keberhasilan menjaga lingkungan dapat dimulai dari lingkup kecil, seperti keluarga, komunitas, atau institusi lokal. Dia mengajak masyarakat untuk mengambil peran aktif melalui berbagai praktik, seperti mengurangi sampah, menanam pohon, serta menghemat penggunaan energi. Selain itu, ia juga mendorong budaya hidup sehat dengan menerapkan prinsip ASRI—aman, sehat, resik, dan indah—dalam aktivitas sehari-hari.
Menurut Wakil Gubernur, perubahan iklim bukan hanya ancaman global, tetapi juga memengaruhi kehidupan lokal masyarakat DIY. Dalam konteks ini, alam dianggap sebagai pemberi, pelaku, dan pengadili. Langkah kecil yang dilakukan sekarang, menurutnya, akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. “Setiap tindakan kita hari ini, baik kecil maupun besar, membangun fondasi untuk masa depan yang lebih baik,” imbuhnya.
Triple Planetary Crisis sebagai Pemicu Tindakan
Pemda DIY menyoroti tiga tantangan utama yang dihadapi bumi, yang dikenal sebagai Triple Planetary Crisis. Ketiga krisis ini—perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan degradasi keanekaragaman hayati—dijelaskan sebagai masalah yang saling berkaitan dan mampu mengancam daya dukung ekosistem, kualitas hidup, serta keberlanjutan pembangunan. “UNEP memperingatkan bahwa dunia sedang mengalami fase kritis ini. Karena itu, kita tidak bisa mengabaikan peran masing-masing, baik pemerintah maupun warga,” kata Wagub.
Ia menekankan bahwa respons terhadap krisis lingkungan harus bersifat holistik. Tidak hanya pemerintah yang perlu terlibat, tetapi juga masyarakat, lembaga swadaya, dan sektor swasta. “Kerja iklim harus menjadi prioritas bersama, karena setiap upaya kecil yang dilakukan hari ini bisa memberikan dampak besar dalam jangka panjang,” tambahnya.
Gerakan Masyarakat untuk Penguatan Ekosistem
Dalam rangka mewujudkan tujuan ini, Pemda DIY telah mengadakan berbagai kegiatan sejak awal Juni. Contohnya, pemutaran film edukasi berjudul “Menolak Punah” yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan lingkungan. Kegiatan lainnya adalah aksi bersih-bersih lingkungan yang melibatkan seluruh perangkat daerah, serta penanaman mangrove di kawasan pesisir Trisik, Kulon Progo. “Kita tidak hanya merayakan hari lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi yang praktis dan berkelanjutan,” jelas Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kusno Wibowo.
Menurut Kusno, kegiatan ini adalah momentum untuk membangkitkan semangat kolektif dalam menghadapi ancaman iklim. “Setiap tindakan yang kita lakukan, baik dari sisi pengurangan emisi maupun perlindungan ekosistem, mengisi upaya nasional Indonesia dalam menurunkan gas rumah kaca sesuai target NDC di bawah Persetujuan Paris,” tambahnya. Dengan dukungan masyarakat, Pemda DIY berharap menciptakan perubahan yang berkelanjutan dan terukur.
Langkah Nyata untuk Keselamatan Lingkungan
Gerakan ASRI menjadi salah satu inisiatif yang ditekankan dalam acara ini. Praktik ini menekankan keberlanjutan lingkungan melalui penerapan konsep ekonomi sirkular, penggunaan sumber daya secara bijak, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Wakil Gubernur menyebutkan bahwa ASRI tidak hanya mengubah cara hidup, tetapi juga memperkuat kepercayaan terhadap keberhasilan aksi iklim di tingkat lokal.
Kegiatan penanaman mangrove di Trisik, Kulon Progo, menjadi contoh nyata tentang bagaimana penghijauan bisa mendukung penyerapan karbon dan melindungi ekosistem pesisir. Mangrove, yang memiliki kemampuan menyerap CO2 secara efisien, juga berperan dalam mencegah erosi pantai dan menjaga keanekaragaman hayati. “Kita harus berpikir jangka panjang, karena lingkungan yang sehat adalah dasar bagi kehidupan yang layak,” kata Kusno Wibowo.
Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Kolaborasi
Pemda DIY mengingatkan bahwa perubahan iklim tidak bisa diatasi secara parsial. Keberhasilan aksi nyata bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. “Pemerintah menjadi pendorong, tetapi masyarakatlah yang menjadi pelaku utama. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian bumi,” jelas Wagub DIY.
Dalam upaya ini, Pemda DIY berkomitmen untuk melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelajar, pedagang, dan warga desa. Kegiatan seperti gotong royong membersihkan lingkungan, membangun taman kota, dan menggalakkan penggunaan energi terbarukan menjadi bagian dari strategi yang diusung. “Kita harus melibatkan seluruh stakeholder, karena perubahan iklim adalah masalah bersama,” tambahnya.
Hasil dan Harapan di Tahun Mendatang
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia DIY tahun ini diharapkan menjadi awal dari upaya jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. Kepala DLHK DIY menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar acara rutin, tetapi juga ajakan untuk membangun kebiasaan hijau dalam kehidupan sehari-hari. “Kita perlu melihat ini sebagai momentum untuk bertindak lebih besar dan lebih cepat,” katanya.
Lebih dari itu, Pemda DIY menilai bahwa aksi nyata seperti ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Dengan fokus pada inovasi dan partisipasi masyarakat, DIY berharap menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan. “Perubahan iklim adalah tantangan global, tetapi solusinya adalah langkah lokal. Kita harus memulai dari hal kecil, tetapi dengan semangat besar,” tutur Wagub.
Dalam kesimpulannya, Gubernur DIY menekankan bahwa perlindungan bumi adalah tanggung jawab bersama. “Dari pemerintah hingga warga, kita harus bekerja sama untuk memastikan bahwa generasi mendatang dapat menikmati alam yang hijau dan sehat,” pungkasnya. Keberhasilan peringatan tahun ini, menurutnya, akan menjadi tolok ukur kinerja dalam membangun lingkungan yang lebih baik untuk masa depan.
