Meeting Results: Jeffrey Hendrik siap lanjutkan reformasi pasar modal Indonesia
Jeffrey Hendrik Berkomitmen Lanjutkan Reformasi Pasar Modal Indonesia
Meeting Results – Jakarta, 29 Juni 2026 – Pemimpin baru Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode 2026-2030, Jeffrey Hendrik, menyatakan siap melanjutkan upaya transformasi pasar modal nasional. Komitmen ini diungkapkan setelah dirinya dan rekan-rekan direksi BEI baru bertemu dengan para pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Kompleks Parlemen, Jakarta. Pertemuan tersebut membahas rencana strategis dan langkah-langkah kunci yang akan diambil dalam empat bulan ke depan.
Penguatan Transparansi dan Kepatuhan
Dalam sesi wawancara, Jeffrey mengemukakan bahwa reformasi pasar modal yang telah dimulai akan terus diperkuat. Fokusnya terutama pada peningkatan transparansi, keandalan, serta penerapan manajemen yang lebih baik di Bursa Efek Indonesia. “Kami akan terus mengembangkan pasar, baik dari sisi permintaan maupun penawaran, untuk memastikan keberlanjutan pertumbuhan dan keterlibatan masyarakat,” jelasnya.
“Kami tentu akan melanjutkan reformasi pasar modal yang sudah kita lakukan dalam empat bulan terakhir. Kemudian juga komitmen kami untuk terus meningkatkan transparansi, integritas, serta tata kelola di Bursa Efek Indonesia. Kami juga akan terus melakukan pendalaman pasar, baik dari sisi demand maupun supply,” ujar Jeffrey di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis.
Pernyataan Jeffrey menyoroti pentingnya inovasi dalam struktur pasar modal. Ia menegaskan bahwa target utamanya adalah menciptakan lingkungan yang lebih adil dan inklusif, sehingga lebih banyak investor bisa terlibat. “Kami berharap keberhasilan ini akan membawa BEI menjadi bursa yang bisa bersaing di tingkat global,” tambahnya.
Proses Seleksi Direksi BEI
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyelesaikan tahap seleksi calon anggota direksi BEI periode 2026-2030. Proses ini dilakukan sesuai ketentuan Pasal 16 Peraturan OJK Nomor 58/POJK.04/2016, yang menetapkan standar kepatuhan dan kompetensi para calon. Susunan direksi yang baru ditetapkan akan segera dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan BEI yang dijadwalkan pada 29 Juni 2026.
Pemilihan direktur baru ini melibatkan evaluasi mendetail terhadap kemampuan teknis dan etika para kandidat. OJK telah memastikan bahwa semua anggota direksi memenuhi kriteria yang ditetapkan, termasuk pengalaman, pengetahuan, dan visi pembangunan pasar modal. Selain Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama, ada enam direktur lain yang diangkat, masing-masing dengan bidang tugas spesifik.
Susunan Direksi Baru BEI
Jeffrey Hendrik akan menjadi Direktur Utama yang mengarahkan reformasi pasar modal. Di bawahnya, Saidu Solihin ditunjuk sebagai Direktur Penilaian Perusahaan, sementara Irvan Susandy diberi tanggung jawab sebagai Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa. Yulianto Aji Sadono akan mengemban peran Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan, dengan fokus pada pengawasan yang lebih ketat terhadap transaksi pasar.
Abdul Munim dianugerahi posisi Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko, memastikan pengembangan sistem digital yang aman dan efisien. Iding Pardi menjadi Direktur Pengembangan, bertugas mendorong ekspansi pasar modal ke sektor-sektor yang lebih luas. Terakhir, Umi Kulsum diangkat sebagai Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum, yang memperkuat struktur keuangan serta kebijakan pengelolaan sumber daya manusia.
Kebijakan ini diharapkan dapat menciptakan sistem yang lebih responsif terhadap kebutuhan investor, baik yang baru memasuki pasar maupun yang sudah berpengalaman. Selain itu, penguatan tata kelola akan memberikan rasa aman bagi para pemain pasar, termasuk perusahaan-perusahaan yang ingin mencari modal di bursa.
Persiapan Menuju Bursa Dunia
Jeffrey optimis bahwa dengan susunan direksi yang baru, BEI dapat mempercepat proses menjadi bursa kelas dunia. Ia menekankan bahwa langkah-langkah reformasi yang telah diambil merupakan dasar untuk mewujudkan visi tersebut. “Selama ini kita sudah membuat perubahan, dan ke depannya kita ingin memperkuat keberhasilan ini agar BEI bisa menjadi bagian dari bursa-bursa besar global,” jelasnya.
Reformasi yang akan dilakukan mencakup penerapan regulasi lebih ketat, pengembangan infrastruktur bursa, serta penguatan kerja sama dengan pihak eksternal seperti OJK, Bank Indonesia, dan lembaga keuangan lainnya. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan publik dan investor asing terhadap pasar modal Indonesia.
Jeffrey juga menyoroti pentingnya pendidikan pasar modal dalam membangun kesadaran masyarakat. Ia menyatakan bahwa keberhasilan reformasi tidak hanya bergantung pada kebijakan tetapi juga pada partisipasi aktif dari publik. “Kami berharap masyarakat bisa memahami manfaat investasi di bursa dan ikut serta dalam pertumbuhan ekonomi yang sehat,” tuturnya.
Dengan susunan direksi yang baru, BEI dipercaya akan memiliki kemampuan untuk menciptakan sistem yang lebih stabil dan menarik. Reforms yang dicanangkan akan melibatkan perbaikan kebijakan, pengembangan teknologi, serta penguatan pengawasan. Semua aspek ini menjadi fondasi untuk mewujudkan pasar modal yang modern dan kompetitif di tingkat internasional.
