Special Plan: BNPT: Anak dan keluarga kunci pencegahan ancaman radikalisme digital

BNPT: Anak dan Keluarga Jadi Pilar Utama Pencegahan Ancaman Radikalisme Digital

Special Plan – Jakarta, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan bahwa anak-anak serta keluarga merupakan faktor utama dalam upaya mencegah ancaman radikalisme digital yang semakin mengemuka. Dalam forum Kajian Senin Kamis (KSK) secara daring, Senin (4/5), Direktur Pencegahan BNPT Brigadir Jenderal TNI Sigit Karyadi menjelaskan bahwa aliran informasi di internet yang membanjiri masyarakat, khususnya generasi muda, menjadi pintu masuk bagi pemahaman ekstremis. “Meski di dunia nyata terlihat relatif aman, dalam ruang digital pengaruhnya sangat besar, terutama terhadap anak-anak. Bahkan, tercatat ada puluhan anak yang telah terpapar konten kekerasan,” kata Sigit seperti dikutip dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Strategi Pencegahan Radikalisme Digital

Sigit menilai situasi ini memperkuat bahwa pengawasan serta bimbingan terhadap anak dalam penggunaan internet tidak lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang mendesak. Menurutnya, keberhasilan pencegahan terorisme tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada keterlibatan langsung keluarga. Pemerintah, lanjutnya, telah menyiapkan beberapa langkah strategis, seperti kebijakan perlindungan anak di ruang digital dan Rencana Aksi Nasional Pencegahan Ekstremisme (RAN-PE) 2026–2029. Kebijakan tersebut bertujuan menguatkan peran daerah dalam mengambil tindakan konkret di tingkat lokal.

Hasil Survei dan Respons BNPT

Dalam survei terkait, Sigit menyebut bahwa mayoritas orang tua sudah memulai langkah pengawasan. Dari 59 persen responden yang memiliki anak usia 5–17 tahun, sebanyak 82 persen mengaku aktif mendampingi penggunaan internet sang buah hati. Namun, sekitar 20 persen orang tua masih belum melakukan hal tersebut. “Karena itu, BNPT mengusulkan langkah sederhana namun efektif, seperti meningkatkan konten positif di media sosial, memperkuat pendidikan karakter dan nasionalisme di sekolah, serta melatih literasi digital dalam keluarga,” jelasnya.

Besarnya dampak radikalisme digital terutama pada anak memaksa pihak berwenang untuk lebih serius dalam mengambil langkah pencegahan. BNPT berharap dengan adanya forum KSK, berbagai strategi dapat diterapkan secara menyeluruh. Forum ini juga melibatkan kerja sama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Bangka Belitung, yang memberikan wawasan mengenai ancaman terorisme di wilayah tersebut. Meski Indeks Potensi Radikalisme di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung turun menjadi 13,7, ancaman di ruang digital justru mendapat perhatian khusus.

Kolaborasi dalam Membangun Ruang Digital Aman

Menurut Sigit, kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, dan komunitas sangat penting. Dengan sinergi tersebut, dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan terarah. “Ruang virtual harus menjadi tempat untuk menumbuhkan nilai-nilai positif, bukan alat untuk menyebar pemahaman ekstrem,” tambahnya.

Di sisi lain, Peneliti FKPT Bangka Belitung Dinar Pratama menegaskan bahwa peran orang tua dan pendidik menjadi kunci dalam penguatan karakter anak. “Pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga dan sekolah. Anak perlu didampingi agar tidak mudah terpengaruh oleh pengaruh ekstrem yang datang melalui platform digital,” kata Dinar. Ia juga menyoroti bahwa media sosial menjadi sarana utama dalam menyebarkan ide-ide radikal.

Peran Media Sosial dan Tantangan Pemantauan

Konten negatif di media sosial, seperti video kekerasan, pesan pemecah bela, dan materi serangan terhadap nilai-nilai kebangsaan, dianggap sebagai ancaman utama. BNPT menekankan pentingnya meningkatkan literasi digital anak sejak dini agar mereka mampu membedakan informasi yang bermanfaat dan yang merusak. Selain itu, penguatan pendidikan karakter di sekolah dianggap sebagai upaya preventif yang dapat mengurangi risiko anak terjerumus ke paham radikal.

Menurut Dinar, ketertarikan anak terhadap konten menarik secara visual dan emosional membuat mereka rentan. “Platform digital seperti TikTok dan Instagram sangat efektif dalam menjangkau anak-anak, karena desainnya yang interaktif dan mudah diakses,” ujarnya. Karena itu, dukungan dari seluruh elemen masyarakat diperlukan untuk melawan pengaruh negatif ini.

Langkah Nyata dari Survei dan Evaluasi

BNPT berharap hasil survei yang mengungkap minat orang tua terhadap pengawasan digital tidak hanya menjadi data, tetapi diubah menjadi tindakan nyata. Forum KSK diikuti oleh sekitar 150 peserta yang berasal dari berbagai sektor, seperti aparat keamanan, pemerintah daerah, dan akademisi. Dalam forum tersebut, dijelaskan bahwa keberhasilan pencegahan radikalisme memerlukan koordinasi yang lebih optimal.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa meski sebagian besar orang tua sudah memulai pengawasan, ada keterbatasan dalam mengakses dan memahami konten yang diunggah anak. Sigit menyarankan pendekatan pendidikan karakter yang tidak hanya bersifat teori, tetapi juga praktis. “Orang tua harus terlibat secara aktif, bukan hanya mengawasi, tetapi juga belajar bersama anak mengenai cara menggunakan internet secara bijak,” jelasnya.

Kebijakan perlindungan anak di ruang digital yang diusulkan pemerintah, diharapkan dapat menjadi pedoman bagi daerah dalam menyusun strategi lokal. RAN-PE 2026–2029, misalnya, mengandung inisiatif seperti pengembangan program pelatihan digital untuk guru dan orang tua, serta pembuatan platform khusus untuk mengungkap informasi terkait radikalisme. Dengan adanya kebijakan ini, BNPT optimis bahwa kesadaran masyarakat tentang bahaya radikalisme digital akan semakin meningkat.

Hasil Forum dan Harapan ke Depan

BNPT menyelenggarakan forum KSK sebagai upaya memperkuat kemitraan antar lembaga. Kegiatan ini