Tokoh adat Badui Jaro Saidi Putra meninggal dunia
Daftar Isi
Badui Kehilangan Juru Bicara Adat: Saidi Putra Wafat di Usia 75 Tahun
Indocrowdfunding.com – Pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, berduka. Saidi Putra, pria berusia 75 tahun yang selama puluhan tahun menjadi wajah resmi masyarakat adat Badui di hadapan dunia luar, menghembuskan napas terakhirnya pada Jumat, 4 September, sekitar pukul 09.00 WIB. Ia berpulang di ruang perawatan RSUD Adjidarmo, Rangkasbitung, setelah menjalani perawatan medis. Kabar kepergiannya mengguncang tidak hanya warga Kanekes, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat adat yang selama ini mengandalkan suaranya sebagai penengah antara dunia Badui dan kepentingan eksternal.
Peran Strategis Jaro Tanggungan 12
Di struktur Lembaga Adat Masyarakat Badui, jabatan yang diemban Saidi Putra bukan sekadar gelar kehormatan. Sebagai Jaro Tanggungan 12, ia memegang fungsi diplomatik yang sangat krusial: menjadi satu-satunya kanal komunikasi resmi antara komunitas adat yang hidup dalam isolasi relatif di pegunungan Halimun-Salak dengan pemerintah daerah, lembaga negara, dan masyarakat luar. Setiap kali kepala daerah—baik bupati maupun gubernur—mengunjungi wilayah adat untuk melaksanakan ritual Seba, Saidi Putra-lah yang memimpin jalannya prosesi tersebut, memastikan setiap tahapan upacara berjalan sesuai ketentuan leluhur.
Seba sendiri merupakan tradisi tahunan di mana kepala daerah datang ke Kampung Badui untuk memohon keselamatan dan keberkahan. Ritual ini bukan sekadar seremoni politik; ia adalah pengakuan bahwa kekuasaan sipil tetap tunduk pada tatanan spiritual yang dijaga masyarakat adat. Kehadiran seorang Jaro Tanggungan 12 yang kompeten dan dihormati menjadi prasyarat agar ritual tersebut tidak kehilangan substansi sakralnya. Dengan kepergian Saidi Putra, posisi penghubung itu kini kosong dan akan menjadi perhatian serius bagi dewan adat dalam menentukan pengganti.
Konfirmasi dari Kanekes
Jaro Oom, Kepala Desa Kanekes yang sekaligus merupakan tokoh masyarakat Badui, mengonfirmasi kabar wafatnya kepada awak media pada Jumat sore. Ia menyampaikan bahwa prosesi pemakaman telah dilaksanakan pada sore hari yang sama di Kampung Cicampaka, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Lokasi pemakaman berada di dalam wilayah adat, sesuai dengan ketentuan adat yang mewajibkan setiap anggota komunitas dikuburkan di tanah leluhur.
“Kami kehilangan figur tokoh masyarakat Badui Saidi Putra sebagai Jro Tanggungan 12,” ujar Jaro Oom.
Pernyataan singkat itu mengandung bobot emosional yang besar. Bagi warga Kanekes, kehilangan seorang Jaro Tanggungan bukan sekadar hilangnya satu individu, melainkan terputusnya rantai komunikasi yang telah terjalin lintas generasi antara dunia adat dan dunia modern.
Belasungkawa dari Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Lebak turut menyampaikan duka cita. Anik Sakinah, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (DiskominfoSP) Kabupaten Lebak, mewakili pemerintah daerah mengucapkan belasungkawa atas wafatnya Saidi Putra.
“Semoga amal ibadah beliau dan kebaikan diterima Tuhan Yang Maha Esa,” kata Anik Sakinah.
Ucapan resmi pemerintah daerah ini menegaskan bahwa hubungan antara Pemkab Lebak dan masyarakat adat Badui bukan sekadar hubungan administratif, melainkan ikatan yang dibangun melalui figur-figur seperti Saidi Putra yang menjembatani kedua dunia selama bertahun-tahun.
Perpisahan dari Komunitas Adat
Di lingkungan adat sendiri, duka itu terasa lebih dalam. Sabaki Sukanta, Ketua Adat, mengenang almarhum sebagai pribadi yang menempatkan persatuan, kedamaian, kerukunan, dan keharmonisan di atas segalanya.
“Beliau tokoh masyarakat Badui yang mencintai persatuan, kedamaian, kerukunan dan keharmonisan,” ungkap Sabaki Sukanta.
Karakter tersebut bukan pujian kosong. Masyarakat Badui, yang terdiri dari dua kelompok besar—Badui Dalam dan Badui Luar—telah bertahan selama berabad-abad dengan prinsip hidup sederhana, tanpa listrik, tanpa kendaraan bermotor, dan tanpa kontak langsung dengan industri modern. Menjaga kohesi sosial di tengah tekanan eksternal—mulai dari ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, hingga arus informasi digital—memerlukan figur yang mampu menengahi tanpa mengorbankan integritas adat. Saidi Putra, selama masa jabatannya, menjalankan peran tersebut dengan menjaga agar setiap interaksi dengan pihak luar tetap berada dalam koridor yang ditetapkan dewan adat.
Warisan dan Tantangan ke Depan
Kepergian Saidi Putra meninggalkan pertanyaan praktis: siapa yang akan mengisi kekosongan posisi Jaro Tanggungan 12, dan bagaimana transisi kepemimpinan itu akan dilakukan tanpa mengganggu stabilitas hubungan adat-pemerintah? Dalam struktur adat Badui, pengangkatan figur setingkat Jaro Tanggungan melibatkan musyawarah dewan adat yang ketat, mempertimbangkan faktor usia, pengalaman, penguasaan ritual, dan kemampuan komunikasi. Proses ini tidak bisa dipercepat, dan selama posisi itu kosong, interaksi resmi antara masyarakat adat dan pemerintah daerah berpotensi terhambat atau harus melalui jalur alternatif yang belum tentu setara dalam otoritas.
Bagi ribuan warga Badui yang hidup di lereng-lereng pegunungan Halimun-Salak, Saidi Putra bukan sekadar pejabat adat. Ia adalah suara yang memastikan dunia luar memahami bahwa di balik hutan dan ladang padi mereka, terdapat sebuah peradaban kecil dengan tata nilai sendiri—yang berhak dihormati, bukan sekadar dikelola. Kehilangan suara itu, pada Jumat pagi yang sunyi di ruang rumah sakit Rangkasbitung, meninggalkan keheningan yang akan lama bergema di lembah-lembah Kanekes.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Tokoh adat Badui Jaro Saidi Putra?
Tokoh adat Badui Jaro Saidi Putra is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Tokoh adat Badui Jaro Saidi Putra matter?
Tokoh adat Badui Jaro Saidi Putra matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.