Special Plan: DFSK pilih fokus PHEV karena infrastruktur EV belum merata

DFSK Pilih Fokus pada PHEV karena Infrastruktur EV Masih Tidak Merata

Special Plan – Jakarta – PT Sokonindo Automobile, perusahaan otomotif yang mengelola merek DFSK, menetapkan langkah awal dalam mengembangkan kendaraan elektrifikasi di Indonesia dengan menghadirkan model plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Pilihan ini diambil mengingat tantangan yang masih terdapat dalam pemerataan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik murni (EV). Menurut CEO PT Sokonindo Automobile, Alexander Barus, kendaraan PHEV menjadi solusi yang lebih realistis bagi konsumen yang ingin memanfaatkan keuntungan kendaraan listrik tanpa menghadapi keterbatasan akses ke stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).

Mengapa PHEV Dipilih sebagai Langkah Awal?

Alexander menjelaskan bahwa konsumen memiliki kebebasan untuk menyesuaikan kebiasaan berkendara, sehingga PHEV dapat menjadi pilihan yang lebih fleksibel. “Kita memberi kesempatan kepada konsumen untuk mengatur sendiri cara penggunaannya,” ujarnya dalam wawancara di Jakarta, Selasa. Ia menekankan bahwa PHEV tetap memberikan manfaat sebagai kendaraan listrik, seperti efisiensi bahan bakar dan emisi yang lebih rendah, namun tetap bisa beroperasi dengan mesin bensin ketika diperlukan.

“Kenapa kita memilih PHEV lebih dulu? Karena kita menyerahkan kepada konsumen untuk mengatur sendiri kebiasaan berkendaranya,” kata Alexander.

Kendaraan PHEV, menurut Alexander, cocok untuk kebutuhan sehari-hari. Ia mengungkapkan bahwa model DFSK E5 Plus, misalnya, dilengkapi baterai berkapasitas sekitar 25 kWh yang mampu menempuh jarak hingga 140 kilometer dalam mode listrik. Namun, bila konsumen membutuhkan jarak tempuh yang lebih jauh, kendaraan tersebut tetap bisa menggunakan mesin bensin sebagai sumber tenaga tambahan. “Ini memberi keleluasaan kepada pengguna tanpa mengorbankan kemudahan dalam pengoperasian,” tambahnya.

Kendala Infrastruktur Pengisian Daya EV

CEO DFSK tersebut menjelaskan bahwa keberadaan SPKLU yang belum merata masih menjadi hambatan bagi konsumen yang ingin beralih ke EV. Ia menyebut antrean pengisian daya sebagai salah satu faktor yang memengaruhi keputusan masyarakat. “Bayangkan situasi ketika pengguna EV tiba di SPKLU dengan baterai yang tersisa sedikit, namun harus menunggu giliran karena fasilitas sedang digunakan oleh kendaraan lain,” papar Alexander. Ia menilai hal ini membuat konsumen cenderung ragu untuk sepenuhnya beralih ke EV.

Sementara itu, Alexander mengungkapkan bahwa PHEV juga memungkinkan pengguna mengakses kemampuan jelajah yang lebih panjang. “Dengan kombinasi baterai dan mesin bensin, mobil ini bisa beroperasi baik di lingkungan perkotaan maupun untuk perjalanan lintas kota,” jelasnya. Ini menjadi alasan mengapa DFSK menilai PHEV lebih cocok untuk kondisi pasar Indonesia yang masih berkembang.

Strategi Jangka Panjang DFSK

Perusahaan menegaskan bahwa pengembangan PHEV tidak berarti mengabaikan EV atau teknologi elektrifikasi lainnya. Alexander menyatakan bahwa DFSK tetap menyiapkan model battery electric vehicle (BEV) serta inovasi elektrifikasi lainnya untuk masa depan. “Bukan berarti kami tidak akan meluncurkan BEV. Pada tahap berikutnya, kita akan hadirkan model-model yang lebih lengkap,” ujarnya.

Menurut Alexander, keputusan untuk fokus pada PHEV adalah bagian dari strategi DFSK dalam memanfaatkan peluang pasar otomotif Indonesia. Ia menilai industri ini masih memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang, terutama dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan efisiensi energi dan teknologi ramah lingkungan. “Dengan PHEV, konsumen bisa mengalami transisi yang lebih nyaman menuju era elektrifikasi penuh,” tambahnya.

Kemudahan Transisi ke Era Kendaraan Listrik

Alexander berharap model PHEV dapat menjadi jembatan bagi konsumen yang ingin beralih ke kendaraan listrik tetapi masih khawatir terhadap infrastruktur. Ia menilai bahwa PHEV memberikan rasa aman karena bisa digunakan secara fleksibel, baik dalam mode listrik maupun bensin. “Ini memastikan bahwa konsumen tidak kehilangan kenyamanan kendaraan konvensional sementara menantikan kesiapan infrastruktur EV,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan PHEV juga mempercepat penerimaan teknologi elektrifikasi di Indonesia. “Dengan menawarkan opsi yang lebih mudah, konsumen bisa mulai mengenal dan mengakses manfaat kendaraan listrik tanpa menghadapi risiko kehabisan baterai di jalan raya,” jelas Alexander. Ia menambahkan bahwa transisi ke EV akan terus berlangsung seiring berkembangnya SPKLU di berbagai wilayah.

Masa Depan Teknologi Elektrifikasi di Indonesia

Alexander menilai bahwa meskipun infrastruktur EV masih tidak merata, kebutuhan akan kendaraan ramah lingkungan terus meningkat. “Kami yakin, dalam beberapa tahun ke depan, SPKLU akan terus berkembang, sehingga transisi ke EV bisa lebih cepat,” katanya. Namun, ia menegaskan bahwa DFSK tidak akan menghentikan pengembangan PHEV. “PHEV tetap memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan konsumen saat ini,” ujarnya.

Dalam perjalanan jangka panjang, perusahaan ingin memastikan bahwa teknologi elektrifikasi dapat diakses oleh berbagai segmen masyarakat. “Kami ingin memberikan pilihan yang beragam, mulai dari PHEV hingga BEV, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan konsumen,” kata Alexander. Ia menambahkan bahwa pengembangan kendaraan listrik akan berlangsung secara bertahap, dengan prioritas pada peningkatan kenyamanan pengguna.

Kebutuhan Konsumen dan Perkembangan Pasar

DFSK juga memperhatikan karakteristik mobilitas masyarakat Indonesia, yang beragam mulai dari penggunaan sehari-hari hingga perjalanan jarak jauh. Alexander menyatakan bahwa kombinasi baterai dan mesin bensin dalam PHEV mampu memenuhi kebutuhan ini. “PHEV memiliki daya tahan yang lebih baik, sehingga cocok untuk segala jenis perjalanan,” ujarnya.

Menurut Alexander, langkah DFSK dalam menghadirkan PHEV bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat tentang manfaat teknologi elektrifikasi. “Kami ingin memperkenalkan EV secara bertahap agar konsumen tidak merasa kewalahan,” katanya. Ia berharap bahwa dengan PHEV, konsumen bisa mengalami perubahan pola penggunaan kendaraan secara perlahan, tanpa mengorbankan kenyamanan dan keandalan.

Kebutuhan akan infrastruktur pengisian daya, seperti SPKLU, juga menjadi perhatian utama dalam pengembangan EV. Alexander mengungkapkan bahwa meskipun jumlah SPKLU terus meningkat, distribusinya masih tidak merata, terutama di daerah-daerah terpencil. “Karena itu, kami memilih PHEV sebagai jembatan sementara, agar konsumen tidak kehilangan akses ke kendaraan listrik,” ujarnya.

Dengan menawarkan PHEV, DFSK berharap bisa memperkuat posisi merek dalam pasar otomotif Indonesia yang semakin kompetitif. “Ini adalah langkah strategis untuk menciptakan peluang pasar yang lebih luas,” kata Alexander. Ia menilai bahwa teknologi elektrifikasi akan terus berkembang, dan DFSK siap menyusul dengan model-model BEV dan teknologi lainnya yang lebih canggih.

Potensi Pertumbuhan dan Langkah Masa Depan

Alexander juga memprediksi bahwa permintaan terhadap kendaraan elektrifikasi akan terus meningkat di masa depan. “Kami yakin, dalam 5-10 tahun ke depan, EV akan menjadi pilihan utama banyak konsumen,” katanya. Namun, untuk mencapai hal tersebut, perusahaan tetap berfokus pada peningkatan kualitas produk dan pelayanan. “Kami ingin memberikan pengalaman berkendara yang maksimal, baik dari segi performa maupun emisi,” ujarnya.

Dalam jangka pendek, DFSK akan terus mengembangkan PHEV dengan variasi spesifikasi dan fitur yang menarik. Namun, dalam jangka panjang, perusahaan juga berencana untuk meluncurkan BEV, serta teknologi lain seperti hybrid full electric (HFEV) atau fuel cell vehicle (FCV). “Kami ingin menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen dan perkembangan teknologi global,” kata Alexander.

Menurutnya, keputusan untuk fokus pada PHEV adalah bagian dari strategi perusahaan untuk memastikan bahwa teknologi elektr