Politik

PDIP: Komunitas pegiat lingkungan harus terus merawat pertiwi

1000640027
Foto : Rina Kartika - indocrowdfunding.com
Daftar Isi
  1. Komunitas Mangrove Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Hijau di Malang Selatan
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Komunitas Mangrove Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Hijau di Malang Selatan

Indocrowdfunding.com – PDIP – Gerakan menjaga lingkungan di kawasan pesisir Malang Selatan didorong agar tidak berhenti sebagai agenda penanaman pohon. PDI Perjuangan menempatkan komunitas warga sebagai unsur utama untuk merawat mangrove sekaligus membuka kegiatan ekonomi yang tetap menjaga keberlanjutan alam.

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyampaikan pandangan tersebut saat menghadiri Workshop UMKM Gotong Royong dan Deklarasi Komunitas Pegiat Lingkungan Mangrove di Malang Selatan, Jawa Timur, Jumat (16/10). Rangkaian acara dimulai di Malang Selatan, lalu dilanjutkan ke Pantai Teluk Asmara yang telah dipadati nelayan dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Di lokasi pantai, kegiatan pelatihan dibagi untuk tiga kelompok masyarakat. Anak-anak muda mendapatkan materi mengenai kesiapan perdagangan karbon, pengolahan sampah, serta pembuatan suvenir dari limbah kayu. Kelompok ibu-ibu mengikuti pelatihan pengolahan pangan yang memanfaatkan hasil laut. Sementara itu, para nelayan mendalami silvofishery dan keramba jaring apung.

Penanaman Pohon dan Perawatan Jangka Panjang

Hasto menyatakan kegiatan “merawat pertiwi” yang dijalankan partainya selama ini mencakup penanaman mangrove dan penghijauan. Rata-rata penanaman yang dilakukan kader PDI Perjuangan mencapai 234.000 pohon setiap tahun.

“Bagi PDI Perjuangan, kami sudah setiap hampir setiap tahun itu kami mengadakan merawat pertiwi dengan menanam mangrove kemudian dengan penghijauan. Rata-rata per tahun itu ada 234.000 pohon yang ditanam oleh kader-kader PDI Perjuangan,” kata Hasto.

Namun, penanaman saja dinilai belum cukup. Keberadaan warga yang terorganisasi menjadi komunitas pegiat lingkungan dipandang penting karena perawatan kawasan pesisir membutuhkan keterlibatan dalam jangka panjang. Komunitas juga dapat menghimpun potensi kecil dari berbagai kelompok agar memiliki skala ekonomi yang lebih kuat.

Hasto menekankan bahwa kemandirian dan gotong royong warga merupakan fondasi bagi lahirnya manfaat ekonomi. Kegiatan yang bermanfaat bagi alam, pada saat yang sama, dapat membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.

“Tetapi yang paling penting dari cerita ini adalah ketika kita membangun suatu ide imajinasi bahwa kita bisa secara berdikari bergotong royong dengan komunitas yang ada di sekitar kita melakukan sesuatu yang berguna bagi lingkungan ternyata itu juga mendatangkan suatu rahmat bagi peningkatan taraf kehidupan itu,” ujarnya.

Ruang kerja yang muncul dari pengelolaan lingkungan pesisir dapat beragam. Warga dapat terlibat sebagai pemandu wisata, pembibit dan perawat mangrove, pengolah sampah, pembuat suvenir, maupun pelaku silvofishery. Sistem silvofishery menggabungkan budidaya perikanan, seperti bandeng, udang, atau kepiting, dengan penanaman serta pelestarian mangrove dalam satu kawasan.

“Sehingga kami berimajinasi, kita bisa menciptakan pekerjaan secara massal bagi rakyat tanpa merusak lingkungan,” imbuh Hasto.

Potensi Karbon dari Komunitas Pesisir

Ketua Bidang Koperasi dan UMKM DPP PDI Perjuangan Andreas Eddy Susetyo menilai kegiatan komunitas di Malang Selatan menyimpan nilai ekonomi yang belum sepenuhnya dihitung. Salah satu peluangnya berkaitan dengan karbon yang terserap oleh kawasan mangrove.

Ia mengisahkan pertemuan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia di Washington pada April lalu. Dalam forum itu, pembeli karbon mempertanyakan kemungkinan adanya unit berbasis komunitas di Indonesia. Pertanyaan tersebut datang dari Nvidia dan Tencent.

“Mereka kemudian menanyakan itu adalah dari Nvidia, Nvidia itu salah satu perusahaan AI terbesar, dan Tencent mengatakan, apakah di Indonesia itu tidak ada yang berbasis komunitas?” ujarnya.

Andreas menyampaikan bahwa kekuatan kelompok kecil dapat tumbuh apabila komunitas-komunitas tersebut disatukan. Penggabungan berbagai kegiatan warga memungkinkan potensi yang tersebar menjadi lebih besar dan lebih siap memasuki pasar yang memerlukan skala luas.

“Karena kalau hanya skala, ya, yang kecil-kecil ini kalau dikumpulkan kan jadi besar,” katanya.

Nilai karbon dari kawasan tersebut disebut belum pernah dibayarkan. Andreas menyebut harga terendah untuk satu ton karbon dioksida saat ini berada pada angka 20 dolar AS.

“Karena satu ton CO2 paling rendah dinilai sekarang dengan 20 dolar,” ujarnya.

Pemulihan Pantai Clungup

Penggerak Clungup Mangrove Conservation, Saptoyo, memaparkan perjalanan rehabilitasi Pantai Clungup. Kawasan itu pernah mengalami kerusakan berat akibat pembalakan pada rentang 1998 hingga 2003. Upaya pemulihan mulai dijalankan oleh para simpatisan pada 2005.

Perkembangan ekowisata kemudian membantu mempercepat pemulihan lahan. Sebelum adanya keterlibatan pariwisata, rehabilitasi yang berfokus pada penanaman mampu menjangkau sekitar 5,5 hektare per tahun. Sesudah anak-anak muda ikut melakukan intervensi melalui kegiatan wisata, luas pemulihan tahunan meningkat menjadi 10,3 hektare dalam periode 10 tahun berikutnya.

“Kalau kami rehabilitasi hanya nanam saja Pak, kami satu tahunnya itu dapat 5,5 hektar, nanam doang. Kemudian coba diintervensi oleh anak-anak muda dan akhirnya 10 tahun berikutnya kami bisa menyelesaikan tiap tahunnya 10,3 hektar dengan melibatkan pariwisata,” katanya.

Penanaman mangrove di area seluas 81 hektare telah rampung pada 2026. Tahap berikutnya berfokus pada pemeliharaan agar kawasan yang telah dipulihkan dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun warga pesisir.

“Kita tinggal menunggu besarnya saja, merawat. Konsennya merawat, penanaman sudah selesai,” ujarnya.

Penghitungan serapan karbon yang dilakukan bersama Universitas Gadjah Mada pada 2021 mencatat angka 3.856 ton untuk pohon ke atas. Pengalaman Pantai Clungup memperlihatkan bahwa pelestarian mangrove dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi warga, selama pengelolaan dilakukan secara konsisten dan berbasis komunitas.

Frequently Asked Questions

What is PDIP?

PDIP is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does PDIP matter?

PDIP matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Rina Kartika - indocrowdfunding.com

Rina Kartika - indocrowdfunding.com

Rina Kartika adalah penulis dan aktivis sosial yang aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan di Indonesia. Ia memiliki pengalaman langsung dalam kampanye donasi untuk pendidikan dan bantuan bencana. Tulisan Rina berfokus pada cerita nyata, inspirasi berbagi, dan dampak sosial dari crowdfunding.