Politik

Sekjen Golkar nilai pemikiran Mbah Wahab tetap relevan hadapi zaman

khrisna-edit-1788084926-d2d58ae73c
Foto : Richard Garcia - indocrowdfunding.com
Daftar Isi
  1. Bedah Buku di Jombang: Warisan Pemikiran Mbah Wahab Masih Jadi Kompas Menjawab Konflik Sosial
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Bedah Buku di Jombang: Warisan Pemikiran Mbah Wahab Masih Jadi Kompas Menjawab Konflik Sosial

Indocrowdfunding.com – Di Masjid Gedang Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, sebuah kitab tebal berjudul Penyirep Gemuruh menjadi pusat perhatian pada Sabtu malam, 29 Agustus. Acara bedah buku yang diprakarsai Pusat Studi Pesantren (PSP) Jawa Timur ini bukan sekadar kajian literer biasa. Ia merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang menyemarakkan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dan menghadirkan tokoh-tokoh lintas organisasi untuk membedah kembali gagasan KH Abdul Wahab Chasbullah—Pahlawan Nasional sekaligus salah satu pendiri NU yang akrab disapa Mbah Wahab.

Sarmuji: Gagasan Mbah Wahab Tak Lekang oleh Waktu

Muhammad Sarmuji, Sekretaris Jenderal Partai Golkar, hadir sebagai pembicara utama malam itu. Ia datang mengenakan busana khas nahdliyin—baju dan sarung batik dipadu peci hitam—dan beberapa kali tampak menatap sampul kitab yang menampilkan potret Mbah Wahab. Dalam paparannya, Sarmuji menegaskan bahwa pemikiran yang tertuang dalam Penyirep Gemuruh tetap memiliki daya guna nyata untuk menjawab persoalan sosial yang membelenggu masyarakat kontemporer.

Contoh konkret yang ia angkat adalah keberhasilan Mbah Wahab meredam konflik terkait perluasan Masjid Peneleh di Surabaya. Kasus itu, kata Sarmuji, diselesaikan dengan cara yang merefleksikan empat pilar karakter NU: tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal.

“Karakter NU yang selama ini kita pahami sebagai tawassuth, tawazun, tasamuh, i’tidal. Yaitu moderat, toleran, lalu tawazun itu seimbang, dan i’tidal yaitu adil,” ujar Sarmuji dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu.

Bagi Sarmuji, cara Mbah Wahab menangani konflik menjadi preseden bahwa persoalan dapat diselesaikan dengan pendekatan teduh, tanpa mengedepankan pertentangan, dan tetap berorientasi pada titik temu. Ia menilai relevansi pemikiran tersebut semakin terasa di tengah kondisi masyarakat yang kerap dilanda kegaduhan dan polarisasi pandangan. Konflik, dalam kerangka berpikir Mbah Wahab, tidak harus diselesaikan dengan memperbesar jurang perbedaan, melainkan melalui dialog, keseimbangan, dan pencarian solusi bersama.

Dimensi Metodologis: Mengakomodasi Pluralitas Pendapat

Sarmuji juga menyoroti satu aspek metodologis dari keteladanan Mbah Wahab: kemampuannya mengakomodasi berbagai pendapat dalam merumuskan solusi. Mbah Wahab tidak hanya merujuk pandangan ahli fikih, tetapi juga mendengarkan masukan dari pihak-pihak yang memiliki keahlian di bidang tertentu. Sikap ini, menurut Sarmuji, menunjukkan bahwa penyelesaian masalah tidak boleh dikurung dalam satu perspektif tunggal.

Perjalanan Panjang Penemuan Naskah

Di sisi lain panggung, Ayung Notonegoro dari Komunitas Pegon Banyuwangi mengisahkan proses ditemukannya naskah kuno Penyirep Gemuruh. Ia menjelaskan bahwa kitab itu ditemukan sekitar tahun 2016 atau 2018, ketika dirinya tengah melakukan riset sejarah NU di Banyuwangi atas penugasan dari PCNU setempat.

Perjalanan riset itu membawanya ke Pesantren Lateng, Banyuwangi. Di sana, Ayung menemukan dua lemari milik almarhum Kiai Saleh yang berisi koleksi kitab-kitab tua. Namun, kedua lemari itu telah tergembok selama belasan tahun dan tidak pernah dibuka. Di kalangan warga sekitar, beredar cerita bahwa siapa pun yang membuka lemari tersebut akan mengalami nasib buruk. Tak heran, hampir tidak ada yang berani mengakses isi koleksi itu.

Ayung kemudian melakukan pendekatan kepada keluarga ahli waris untuk memperoleh izin membuka lemari. Proses itu memakan waktu dan menuntut pembangunan kepercayaan antara dirinya dengan keluarga pesantren.

“Nah, dari sana kemudian terjadilah trust, tumbuh kepercayaan itu. Akhirnya kami diberikan kepercayaan untuk membuka lemari yang sudah belasan tahun tergembok itu. Tidak apa-apa, kalau saya sakit demi ilmu pengetahuan,” kenang Ayung.

Setelah lemari terbuka, Ayung menemukan berbagai kitab tua bernilai sejarah tinggi. Salah satunya adalah Penyirep Gemuruh karya KH Wahab Hasbullah, yang kemudian menjadi bahan kajian utama dalam bedah buku malam itu.

“Salah satunya mungkin yang kita bedah pada malam hari ini, yaitu sebuah kitab yang berjudul Penyirep Gemuruh karya Kiai Wahab,” ujarnya.

Ayung menambahkan bahwa naskah serupa tidak hanya tersimpan di Pesantren Lateng. Menurut keterangan yang ia sampaikan, salinan serupa pernah berada di kantor PCNU Surabaya di Jalan Buweng, menunjukkan bahwa peredaran kitab tersebut melintasi beberapa lembaga NU sebelum akhirnya menjadi bahan kajian publik.

Konteks Muktamar dan Peran Komunitas Pegon

Bedah buku ini juga menghadirkan Fathul H Panatapraja, penerjemah sekaligus penulis kitab Penyirep Gemuruh, sebagai narasumber kedua. Kehadiran tiga pembicara dari latar belakang berbeda—politik, komunitas pegon, dan penerjemah kitab—menunjukkan bahwa kajian warisan intelektual NU kini tidak lagi terbatas pada lingkungan pesantren semata, melainkan telah merambah ruang-ruang publik yang lebih luas.

Bagi pembaca yang mengikuti dinamika Muktamar ke-35 NU, acara di Tambakberas ini menjadi pengingat bahwa organisasi tersebut tidak hanya berfokus pada agenda politik keagamaan, tetapi juga pada pelestarian dan aktualisasi gagasan para pendiri. Pemikiran Mbah Wahab, yang lahir dari konteks sosial abad ke-20, terus diuji relevansinya oleh generasi yang menghadapi bentuk-bentuk konflik baru—dari polarisasi digital hingga ketegangan antarkelompok. Jawaban yang ditawarkan, sebagaimana ditekankan Sarmuji, tetap berakar pada empat kata kunci: moderat, seimbang, toleran, dan adil.

Frequently Asked Questions

What is Sekjen Golkar nilai pemikiran Mbah Wahab?

Sekjen Golkar nilai pemikiran Mbah Wahab is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Sekjen Golkar nilai pemikiran Mbah Wahab matter?

Sekjen Golkar nilai pemikiran Mbah Wahab matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Richard Garcia - indocrowdfunding.com

Richard Garcia - indocrowdfunding.com

Richard Garcia adalah spesialis teknologi crowdfunding yang memahami berbagai platform dan tools penggalangan dana online. Ia berpengalaman dalam integrasi sistem pembayaran, keamanan data, dan user experience. Di IndoCrowdfunding, ia membahas aspek teknis yang mendukung kesuksesan kampanye.