Pemprov Bali gandeng 12 ribu mahasiswa bantu program pembangunan

Bali Menggerakkan Ribuan Mahasiswa untuk Akselerasi Pembangunan Daerah

Pemprov Bali gandeng 12 ribu mahasiswa – Denpasar menjadi saksi sejarah ketika Pemerintah Provinsi Bali secara resmi meluncurkan inisiatif kolaboratif yang melibatkan lebih dari 12.000 mahasiswa dari 38 institusi pendidikan tinggi di seluruh wilayah Bali. Langkah monumental ini bertujuan untuk mempercepat terwujudnya program pembangunan daerah melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang pertama kali dilakukan secara serentak dan terpadu. Gubernur Bali, Wayan Koster, hadir dalam peluncuran tersebut dan menyampaikan apresiasi mendalam kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta seluruh jajaran perguruan tinggi yang telah berkontribusi dalam gerakan bersama ini.

Desa sebagai Fondasi Utama Pembangunan

Kolaborasi program Desa Kerthi Bali Sejahtera menempatkan desa sebagai lokus utama dalam agenda pembangunan. Konsep ini mengakui bahwa desa merupakan fondasi utama Bali, tempat di mana kebudayaan terus dirawat, alam lingkungan dijaga kelestariannya, dan manusia dibentuk melalui nilai-nilai luhur. Melalui program ini, Gubernur Koster menjelaskan bahwa nilai-nilai Sad Kerthi diintegrasikan ke dalam kegiatan nyata di lapangan, meliputi Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi.

“Penghargaan setinggi-tingginya kepada Kemendiktiksaintek dan seluruh jajaran perguruan tinggi, 38 perguruan tinggi yang ada di Bali, atas kerja keras, kolaborasi dalam gerakan bersama mempercepat pembangunan Bali berbasis desa melalui pengabdian masyarakat,” kata Gubernur Bali Wayan Koster.

Peran Strategis Perguruan Tinggi

Pemprov Bali memulai kolaborasi ini dengan kesadaran bahwa perguruan tinggi memiliki peran sangat strategis dalam membantu percepatan pembangunan daerah. Melalui tiga pilar utama pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, kampus-kampus di Bali melahirkan sumber daya manusia unggul sekaligus menghasilkan berbagai inovasi yang dapat menjadi solusi terhadap berbagai persoalan pembangunan yang dihadapi masyarakat.

Gubernur Koster menekankan bahwa program pengabdian masyarakat ini bukan sekadar pelaksanaan KKN atau pemenuhan kewajiban akademik semata. Ini merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi yang disinergikan dengan arah kebijakan pembangunan Provinsi Bali, agar program pembangunan Bali terlaksana secara efektif, efisien, dan tepat sasaran. Dalam kolaborasi perdana ini sebanyak lebih dari 12.000 orang mahasiswa terlibat, dan dosen pembimbing lapangan lebih dari 900 orang. Menurut Koster jumlah ini merupakan kekuatan intelektual yang sangat besar apabila diarahkan untuk membantu masyarakat menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.

“Melalui program Desa Kerti Bali Sejahtera ini, kita mengintegrasikan nilai-nilai luhur Sad Kerthi yang meliputi Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi ke dalam program kerja nyata di lapangan,” ujar Gubernur Koster.

Pembangunan dari Akar Rumput

Pemprov Bali sendiri ingin memastikan pembangunan Bali tidak hanya berpusat di kota atau kawasan pariwisata saja, melainkan tumbuh subur dari akar rumputnya, yaitu dari desa. Sehingga ia berpesan dalam program ini agar mahasiswa menjadi pembelajar yang rendah hati di tengah masyarakat, menghadirkan solusi terhadap persoalan yang dihadapi di desa, mendorong inovasi sederhana yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat di desa, menjadi calon pemimpin yang memiliki integritas dan kepedulian sosial.

Gubernur Koster menyampaikan harapannya agar adik-adik mahasiswa mampu meninggalkan jejak pengabdian yang nyata dalam rangka pembangunan desa melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini. Program pengabdian masyarakat Desa Kerthi Bali Sejahtera sendiri diarahkan untuk mempercepat pelaksanaan program pembangunan prioritas Pemprov Bali, antara lain pengelolaan sampah berbasis sumber, gerakan Bali bersih sampah, pembatasan sampah plastik sekali pakai. Selanjutnya perlindungan danau, mata air, sungai, dan laut, penguatan sistem pertanian organik, penggunaan dan pemasaran produk lokal Bali, penguatan UMKM dan ekonomi desa, pelestarian adat, seni budaya, bahasa, aksara, dan kain tenun Bali, program satu keluarga satu sarjana, serta insentif Nyoman dan Ketut guna melestarikan kearifan lokal Bali.

“Saya berharap seluruh mahasiswa bersama dosen pembimbing mampu menjadi mitra pemerintah desa, desa adat, dan masyarakat dalam mempercepat implementasi berbagai program tersebut, ini adalah momentum yang bersejarah,” ujar Koster.

Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi model berkelanjutan dalam melibatkan generasi muda dalam pembangunan daerah, sekaligus memperkuat hubungan antara institusi pendidikan tinggi dengan masyarakat desa di Bali.